Bimbingan Konseling Inspiring your Heart

11 Mar

tunggu ya, tulisannya blom jadi

penataan ruangan konseling

2 Des

lagi di buat dulu yaa

Contoh percakapan konseling

30 Apr

Guru BK = Konselor

Siswa   : Konseli

 

Contoh percakapan

Konseli            : Assalamu’alaikum

Konselor          : wa’alaikum salam

eh andi, silahkan duduk..ada yang bisa ibu bantu? (sambil memegang pundak)

Konseli            : ia, saya merasakan minder karna tompel saya

Konselor          : kenapa dengan tompel kamu, ada masalah?

Konseli            : ia bu, saya selalu di ketawakan, dicemooh karna tompel saya

Konselor          : siapa yang mencemooh kamu

Konseli            : geng potlot

Konselor          : siapa saja anggota geng potlot, berapa jumlahnya?

Konseli            : saya tidak mau menyebukan namanya, Cuma kalo anggotanya ada 5 orang

Konselor          : Cuma 5 orang? Teman andi di kelas semuanya berapa orang?

Konseli            : 40 orang mu

Konselor          : kalo geng potlot hanya 5 orang,berarti ada 35 orang yang tidak mencemooah       kamu

Konseli            : ia sih bu

Konselor          : berarti lebih banyak yang mencemooah atau lebih banyak yang tidak mencemooh tompel andi?

Konseli            : ya…lebih banyak yang tidak mencemooh sih bu…

Konselor          : pernah tidak anggota geng itu mengatakan langsung mencemooh tompel kamu?

Konseli            : tidak sih bu, hanya dari gerak gerik saja, mereka tidak suka dengan saya

Konselor          : berarti, apakah  itu hanya perasaan mu saja?

Konseli            : o…iya,….mungkin juga bu…

Konselor          : Andi, menurut andi, ada gak kelebihan andi ? mungkin dalam hal pelajaran?

Konseli            : Saya senang membuat puisi bu, bahkan saya pernah menang lomba waktu sd tingkat RT

Konseor           : ya…bagus, itu sangat baik sekali untuk andi kembangkan.kira-kira dengan kelebihan andi tadi ada gak yang bisa andi lakukan

Konseli            : o..ya bu, sebentar lg kan ada lomba puisi di acara maulid nabi yang diadakan osis, saya boleh iku gak?

Konselor          : tentu saja andi, sangat boleh. Kapan kamu mau mendaftarnya

Konseli            : besok bu

Konselor          : baiklah, selain rencana kamu mendaftar lomba puisi . apa lagi rencanamu untuk menepis perasaan bahwa orang lain selalu memperhatikan/mempermasalahkan tompel kamu?

Konseli            : saya akan memotong rambut saya supaya terlihat rapih dan saya akan bersikap wajar, dan tidak mempermasalahkan tompel saya

Konselor          : rencana yang bagus, kapan itu rencana itu akan dilaksanakan?

Konseli            : hari ini saya akan ke tukang cukur, supa besok penampilan saya sudah terlihat segar, dan saya tidak akan mempermasalahkan pandangan orang lain terhadap tompel saya

Konselor          : bagus…. , ibu bangga kamu dapat mengambil keputusan sendiri. Ada yang bisa ibu bantu lagi

Konseli            : tidak bu , cukup

Konselor          : ya…kalo ada yang ingin dibicarakan lagi, pintu bk selalu terbuka buat andi. Sekarang andi mau kemana?

Konseli            : mau ke kelas lg bu. Assalamu’alaikum

Konselor          : wa’alaikum salam

 

 

Ket         :

Attending atau percakapan di awal focus pembicaraan sangat penting, dengan tujuan si anak merasa nyaman sehingga dia akan tebuka mengemukakan masalahnya. Bila anak tidak mau bicara berarti attending kurang berhasil (harus ditingingkatkan lg) karna itu berarti anak belum percaya untuk mengemukakan masalahnya pada konselor, konselor harus berusaha meyakinkan banwa ia bisa dipercaya untuk memegang rahasia permasalah konseli.

 

Ciamis, 22 februari 2012

Di buat oleh :

Shilphy a octavia

Tanggal 22 feb 2012 pukul 08.00

Adm BK

30 Apr

Tugas-tugas perkembangan (TP) siswa Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah

1. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Es.

2. Mempersiapkan diri , menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan sehat. 3. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam perannya sebagai pria atau wanita.

4.Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan social yang lebih luas .

5. Mengenal kemampuan ,bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni.

6. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan / atau Mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan masyarakat.

7. Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri, secara emosional , social dan ekonomi.

8. Mengenal system etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi , anggota masyarakat dan minat manusia.

SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Sub tugas perkembangan :Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME

B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Memahami secara lebih luas dan mendalam kaidah-kaidah ajaran agama yang dianutnya 2. Memahami ajaran sosial menurut ajaran agama 3. Memahami kaidah –kaidah ajaran agama tentang belajar C. Jenis Layanan : Layanan informasi, orientasi dan pembelajaran D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi,sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Macam-macam kaidah ajaran agama 2. Contoh hubungan sosial menurut ajaran agama 3. Contoh-contoh kegiatan belajar menurut ajaran agama G. Sasaran Layanan : VII ( tujuh ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan ( Apresiasi tentang lingkungan belajar yg baru ) 2. Inti : 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat memahami pengertian/arti dari agama, macam-macam agama dan kebebasan agama 2. Siswa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar yg baru yang berbasis agama 3. Sisa dapat mengenali dan mempraktekan prilaku Islami di dalam maupun di luar sekolah J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab, penitaian diri L. Semester / Waktu : I / 2 jam ( 2x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah N. Penyelenggara Layanan : Guru BK, OSIS, Kesiswaan O. Pihak yang diiukut sertakan : Panitia MOS P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Mempersipakan diri menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan sehat B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Memahami perubahan fisik dan psikisnya yang terjadi pada diri sendiri 2. Memahami bahwa perubahan fisik dan psikis mempengaruhi hubungan sosial 3. Memahami pengaruh perkembangan fisik dan psikis terhadap kegiatan belajar C. Layanan : Layanan konseling perorangan, bimbingan kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial F. Rumus Kompetensi : 1. Perubahan pisik dan psikis remaja 2. Remaja yang sehat 3. Contoh-contoh pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap hubungan sosial 4. Contoh-contoh pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap kegiatan belajar G. Sasaran Layanan : VII ( tujuh ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : Siswa dapat menjalankan pola hidup bersih, bugar dan sehat baik untuk dirinya sensiri, lingkungan sekitar dan belajar J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab, observasi / visit L. Semester / Waktu : I / 5 jam ( 5x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : laiseg & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagi pria dan wanita B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Memahami pola hubungan sosial dengan teman sebaya dalam peranannya sebagi pria dan wanita 2. Memahami peran pribadi dalam kelompok sebaya sebagai pria dan wanita 3. Memahami pengaruh teman sebaya dalam kegiatan belajar C. Layanan : Konseling perseorangan, konseling kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Penjelasan tentang peranan sebagai pria dan wanita 2. Bermain peran sebagai pria dan wanita dalam kelompok sebaya 3. Contoh-contoh pengaruh hubungan teman sebaya terhadap kegiatan belajar baik pengaruh positif laupun pengaruh negatif G. Sasaran Layanan : VII ( tujuh ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : Siswa mampu berkomunikasi melalui lisan dan tulisan dengan tepat dalam hubungannya dengan teman sebaya J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 6 jam ( 6x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & Laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Memantapkan nilai dan cara berprilaku yang dapat diterima dalam kehidupan yang lebih luas B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Memahami nilai dan cara-cara berprilaku pribadi dalam kehidupan di luar kelompok sebaya 2. Memahami nilai dan cara-cara prilaku sosial dalam kehidupan di luar kelompok sebaya C. Layanan : Informasi, pembelajaran, bimbingan kelompok D. Fungsi Layanan : Pengentasan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Contoh-contoh nilai dan cara berprilaku dalam kehidupan yang lebih luas 2. Contoh-contoh nilai dan cara berprilaku sosial dalam kehidupan di luar kelompok sebaya 3. Contoh-contoh pengaruh nilai dan cara berprilaku dalam kehidupan yang lebih luas terhadap belajar G. Sasaran Layanan : VII ( tujuh ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : Siswa dapat memahami dan menjalankan hak dan kewajiban untuk berkarya dan memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 6 jam ( 6x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laiseg, laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mengenal kemampuan, bakat, minat serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Memahami kemampuan bakat yang dimiliki 2. Mengenal aspek-aspek sosial terhadap kemampuan, bakat, minat 3. Memahami pengaruh positif kemampuan , bakat, minat, terhadap kegiatan belajar 4. Memahami pengaruh kemampuan, bakat, dan minat terhadap karir C. Layanan : Informasi, pembelajaran, penempatan dan penyaluran D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Identifikasi arah apresiasi seni tanpa terlalu terikat pada kemampuan, bakat dan minat sendiri 2. Contoh-contoh aspek sosial berkaitan dengan kemampuan, bakat, dan minat 3. Contoh-contoh pengaruh apresiasi seni terhadap kegiatan belajar 4. Contoh-contoh pengaruh positif apresiasi seni terhadap kegiatan belajar 5. Identifikasi arah kecenderungan karir sendiri dengan kemampuan, bakat dan minat G. Sasaran Layanan : VII ( tujuh ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat berfifkir logis, kritis, kreatif dan inovatif serta mampu menyelesaikan masalh 2. Menyenangi dan menghargai seni 3. Memiliki keterampilan mengalihkan agresivitas 4. Memiliki keterampilan merencanakan J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I /8 jam ( 8x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengikuti dan melanjutkan atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan bermasyarakat B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Memiliki kesadaran dan dorongan kuat untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang menjadi program sekolah 2. Memahami dan mewujudkan asepek sosial untuk mempelajari materi di MTs C. Layanan : Pembelajaran, penempatan dan penyaluran, konseling perorangan D. Fungsi Layanan : Perencanaan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, karir F. Rumus Kompetensi : 1. Motivasi diri semangat untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang menjadi program sekolah 2. Contoh-contoh aspek sosial yang dipelajari di MTs G. Sasaran Layanan : VII ( tujuh ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat mempunyai keteampilan merencanakan karir J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 5 jam ( 5x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Mengenal gambaran dan pengembangan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Memiliki gambaran tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi 2. Memiliki gambaran tentang sikap yang seharusnya diambil dalam kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi 3. Memiliki kesadaran dan dorongan untuk melaksanakan sikap dasar dalam kehidupan mandiri, emosional, sosial dan ekonomi 4. Mewujudkan sikap dalam hubungan sosial berkenaan dengan kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi 5. Memahami pengaruh positif dari gambaran kehidupan mandiri secara emosional, dan ekonomi dalam kegiatran belajar 6. Mempu mewujudkan sikap dasar dalam pengembangan karir utnuk kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi C. Layanan : Informasi, pembelajaran, bimbingan kelompok, koseling perseorangan, konseling kelompok D. Fungsi Layanan : Perencanaan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar, karir F. Rumus Kompetensi : 1. Mengembangkan sikap hemat 2. Membiasakan menabung 3. Membiasakan bekerja keras 4. Membiasakan tidak pamrih G. Sasaran Layanan : VII ( tujuh ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat mempunyai keteampilan merencanakan dalam kehidupan sehari-hari J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 6 jam ( 6x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laiseg, laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 KELAS VIII SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Meyakini kaidah-kaidah ajaran agama yang dianutnya 2. Praktek hubungan sosial berdasarkan ajaran agama 3. Mewujudkan kegiatan belajar sesuai dengan kaidah ajaran agama C. Jenis Layanan : Layanan informasi, orientasi dan pembelajaran D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi,sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Manusia sebagai mahluk religius dan sosial 2. Manusia sebagai mahluk individu 3. Praktek hubungan sosial menurut ajaran agama 4. Praktek kegiatan belajar menurut ajaran agama G. Sasaran Layanan : VIII ( delapan ) H. Uraian Kegiatan : a. Pembukaan ( Apresiasi tentang lingkungan belajar yg baru ) b. Inti : c. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : a. Siswa dapat meyakini, memahami dan menjalankan ajaran agama yang di yakini dalam kehidupan b. Siswa dapat memiliki keterampilan mengalihkan identitas J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab, penitaian diri L. Semester / Waktu : I / 3 jam ( 3x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah N. Penyelenggara Layanan : Guru BK, OSIS, Kesiswaan O. Pihak yang diiukut sertakan : Panitia MOS P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Mempersiapkan diri menerima dan bersikao positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri untuk kehidupan yang sehat B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Menerima perubahan fisik dan psikisnya yang terjadi pada diri sendiri 2. Memahami dan bersikap empati kepada orang lain yang sedang mengalami perubahan fisik dan psikisnya C. Layanan : Konseling perseorangan, konseling kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Contoh-contoh penerimaan terhadap perubahan fisik dan psikis remaja 2. Pengembangan pengaruh positif dan menghindari pengaruh negatif perubahan fisik terhadap hubungan sosial 3. Cara-cara mengatasi kesulitan yang terjadi akibat perubahan fisik dalam kegiatan belajar G. Sasaran Layanan : VIII( delapan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa mampu berkomunikasi melalui lisan dan tulisan dengan tepat dalam hubungannya dengan teman sebaya J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 5 jam (5 x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & Laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagi pria dan wanita B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Menerima peran pribadi dalam kelompok sebaya sebagai pria dan wanita 2. Mampu menjalin hubungan sosial dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria dan wanita 3. Mewujudkan pengaruh positif dan menghindari pengaruh negativ dari hubungan teman sebaya terhadap kegiatan belajar C. Layanan : Layanan konseling perorangan, bimbingan kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial F. Rumus Kompetensi : 1. Contoh-contoh penerimaan peran pribadi sebagi pria dan wanita dalam kelompok sebaya tanpa membedakan teman pria atau wanita pada posisi tertentu 2. Contoh pola hubunagn sosial dengan teman sebaya tanpa membedakan peran pria dan wanita pada posisi tertentu 3. Cara-cara dan praktek pengembangan pengaruh positif hubungan teman sebaya terhadap kegiatan belajar G. Sasaran Layanan : VIII ( delapan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : Siswa dapat memiliki keterampilan pengalihan agresivitas R. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK S. Metode : Ceramah, tanya jawab, observasi / visit T. Semester / Waktu : I / 4 jam ( 4x pertemuan ) U. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah V. Penyelenggara Layanan : Guru BK W. Pihak yang diiukut sertakan : – X. Penilaian : laiseg & laijapan Y. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Memantapkan nilai dan cara berprilaku yang dapat diterima dalam kehidupan yang lebih luas B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Menjalankan nilai dan cara berprilaku pribadi dalam kehidupan diluar kelompok sebaya 2. Mampu menerapkan nilai dan cara berprilaku sosial di luar kelompok sebaya 3. Mewujudkan pengaruh positif dengan menghindari pengaruh negatif dalam hubungan kehidupan yang luas terhadap kegiatan belajar C. Layanan : Informasi, pembelajaran, bimbingan kelompok D. Fungsi Layanan : Pengentasan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Praktek menerapkan nilai-nilai dan prilaku dalam kehidupan yang lebih luas 2. Praktek menerapkan nilai dan cara berprilaku sosial dalam kehidupan di luar kelompok sebaya 3. Contoh-contoh pengaruh nilai dan cara berprilaku dan pengaruh nilai dalam kehidupan yang lebih luas terhadap kegiatan belajar G. Sasaran Layanan : VIII ( Delapan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa mampu berkomunikasi melalui lisan dan tulisan dengan tepat 2. Berpartisipasi dalam kehidupan sebagai cerminan rasa cinta dan bangga terhadap bangsa dan tanah air 3. Berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif serta mampu menyelesaikan masalh 4. Memiliki keterampilan mengelola stress J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 4 jam ( 4x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laiseg, laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mengenal kemampuan, bakat, minat serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Memahami arah kecenderungan karir sesuai dengan minat dan bakat 2. Memahami aspek-aspek sosial dalam pengembangan karir 3. Memahami pengaruh-pengaruh positif, kecenderungan karir terhadap kegiatan belajar C. Layanan : Informasi, pembelajaran, penempatan dan penyaluran D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Identifikasi kemampuan, bakat, minat, karir dan seni 2. Contoh aspek-aspek sosial berkaitan dangan pengembangan karir 3. Cara-cara penerapan pengembangan pengaruh positif kemampuan bakat dan minat sendiri terhadap kegiatan belajar 4. Identifikasi pengaruh kemampuan, bakat dan minat sendiri terhadap pemilihan karir G. Sasaran Layanan : VIII ( Delapan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat berfifkir logis, kritis, kreatif dan inovatif serta mampu menyelesaikan masalah 2. Menyenangi dan menghargai seni 3. Memiliki keterampilan merencanakan J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 6 jam ( 6x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengikuti dan melanjutkan atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan bermasyarakat B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Memiliki kesadaran dan dorongan untuk melanjutkan pelajaran pada tingkat yang lebih tinggi 2. Memiliki kesadaran dan dorongan untuk mempersiapkan karir yang cocok bagi dirinya 3. Memahami dan mewujudkan aspek-aspek sosial dari upaya melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi 4. Memahami dan mewujudkan aspek-aspek sosial dalam mempersiapkan diri dan karir C. Layanan : Pembelajaran, penempatan dan penyaluran, konseling perorangan D. Fungsi Layanan : Perencanaan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, karir F. Rumus Kompetensi : 1. Memotivasi diri agar bersemangat untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang menjadi program sekolah 2. Mewujudkan penngembangan dan penguasaan aspek-aspek sosial melalui berbagai materi yang dipelajari di MTs 3. Mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan aspek sosial dalam mempersiapkan karir G. Sasaran Layanan : VIII ( Delapan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat mempunyai keteampilan merencanakan karir J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 6 jam ( 6x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Memiliki gambaran tentang sikap yang seharusnya diambil dalam kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan meteri 2. Mewujudkan sikap dalam hubungan sosial berkenaan dengan kehidupan mandiri secara emosional, sosial, ekonomi 3. Mampu mewujudkan pengaruh positif dari gambaran kehidupan mandiri secara emosional, sosial ekonomi dalam kegiatan belajar C. Layanan : Informasi, pembelajaran, bimbingan kelompok, koseling perseorangan, konseling kelompok D. Fungsi Layanan : Perencanaan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar, karir F. Rumus Kompetensi : 1. Konsep dan contoh-contoh kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi 2. Contoh-contoh tentang sikap yang seharusnya diambil dalam kehidupan mandiri emosional, sosial, ekonomi 3. Cara-cara bersikap dalam hubungan sosial berkenaan dengan kehidupan secara sosial dan ekonomi G. Sasaran Layanan : VIII ( Delapan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat mempunyai keteampilan merencanakan dalam kehidupan sehari-hari J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I /7 jam ( 7x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diikut sertakan : – P. Penilaian : Laiseg, laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Meyakini kaidah-kaidah ajaran agama yang dianutnya 2. Praktek hubungan sosial berdasarkan ajaran agama 3. Mewujudkan kegiatan belajar sesuai dengan kaidah ajaran agama C. Jenis Layanan : Layanan informasi, orientasi dan pembelajaran D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi,sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Pokok-pokok ajaran agama 2. Implementasi pokok-pokok ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari 3. Implementasi pokok-pokok ajaran agama dalam kegiatan belajar G. Sasaran Layanan : IX ( Sembilan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan ( Apresiasi tentang lingkungan belajar yg baru ) 2. Inti : 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat meyakini, memahami dan menjalankan ajaran agama yang di yakini dalam kehidupan 2. Siswa dapat memiliki keterampilan mengalihkan identitas 3. Memiliki kepedulian terhadap lingkungannya baik sebagai mahluk individu maupun sebagai mahluk sosial J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab, penilaian diri L. Semester / Waktu : I / 3 jam ( 3x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah N. Penyelenggara Layanan : Guru BK, OSIS, Kesiswaan O. Pihak yang diiukut sertakan : Panitia MOS P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Mempersiapkan diri menerima dan bersikao positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri untuk kehidupan yang sehat B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Menerima perubahan fisik dan psikisnya yang terjadi pada diri sendiri 2. Memahami dan bersikap empati kepada orang lain yang sedang mengalami perubahan fisik dan psikisnya C. Layanan : Konseling perseorangan, konseling kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Contoh-contoh penerimaan terhadap perubahan fisik dan psikis remaja 2. Pengembangan pengaruh positif dan menghindari pengaruh negatif perubahan fisik terhadap hubungan sosial 3. Cara-cara mengatasi kesulitan yang terjadi akibat rendah diri dalam pergaulan G. Sasaran Layanan : IX ( Sembilan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa mampu keterampilan mengelola stress J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 6 jam ( 6x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & Laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagi pria dan wanita B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Menerima peran pribadi dalam kelompok sebaya sebagai pria dan wanita 2. Mampu menjalin hubungan sosial dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria dan wanita 3. Mewujudkan pengaruh positif dan menghindari pengaruh negatif dalam hubungan teman sebaya C. Layanan : Layanan konseling perorangan, bimbingan kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial F. Rumus Kompetensi : 1. Pola-pola hubungan sosial teman sebaya dalam peran pribadinya sebagai pria dan wanita 2. Contoh-contoh pola hubugan teman sebaya pda pra dan wanita sebagai teman sebaya G. Sasaran Layanan : IX ( Sembilan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : Siswa dapat memiliki keterampilan dalam berhubungan teman sebaya yang sehat dan berdampak positif terhadap pengembangan diri sendiri J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab, observasi / visit L. Semester / Waktu : I / 5 jam ( 5x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas & lingk sekolah O. Penyelenggara Layanan : Guru BK P. Pihak yang diiukut sertakan : – Q. Penilaian : laiseg & laijapan R. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 i SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Memantapkan nilai dan cara berprilaku yang dapat diterima dalam kehidupan yang lebih luas B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Mampu menerapkan nilai dan cara berprilaku sosial di luar kelompok sebaya 2. Mewujudkan pengaruh positif dengan menghindari pengaruh negatif dalam kehidupan yang lebih luas terhadap belajar C. Layanan : Informasi, pembelajaran, bimbingan kelompok D. Fungsi Layanan : Pengentasan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Contoh-contoh tata krama bergaul di lingkungan masyarakat 2. Praktek tata cara bergaul dalam kehidupan sehari-hari 3. Cara-cara mengatasi kesulitan dalam pergaulan G. Sasaran Layanan : IX ( Sembilan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa mampu berkomunikasi melalui lisan dan tulisan dengan tepat dengan orang sekitarnya 2. Berpartisipasi dalam kehidupan sebagai cerminan rasa cinta dan bangga terhadap bangsa dan tanah air 3. Mampu menyelesaikan masalah secara arif dan bijaksana J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 7 jam ( 7x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laiseg, laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mengenal kemampuan, bakat, minat serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Memiliki sikap kritis dan kreatif 2. Memiliki sikap rasional dalam menghadapi berbagai persoalan pribadi, sosial, karir 3. Memiliki kemampuan membela hak pribadi 4. Memiliki kemampuan menilai diri sendiri dan orang lain dengan dilandasi mental berfikir positif, kreatif dan inovatif C. Layanan :Informasi, pembelajaran, penempatan dan penyaluran D. Fungsi Layanan : Pemahaman E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar F. Rumus Kompetensi : 1. Menciptakan kreatifitas dalam berfikir dan bertindak 2. Cara-cara membangun optimesme 3. Membangun kebiasaan berfikir positif 4. Cara-cara menyelesaikan konflik G. Sasaran Layanan : IX ( Sembilan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat berfifkir logis, kritis, kreatif dan inovatif serta mampu menyelesaikan masalah 2. Menyenangi dan menghargai seni 3. Memiliki keterampilan mengalihkan agresifitas 4. Mampu mampu membuat keputusan yang terbaik untuk pengembangan dirinya J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 6 jam ( 6x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan :Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengikuti dan melanjutkan atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan bermasyarakat B. Kompetensi tugas perkembangan : 1. Memiliki kesadaran dan dorongan untuk melanjutkan pelajaran pada tingkat yang lebih tinggi 2. Memiliki kesadaran dan dorongan untuk mempersiapkan karir yang cocok bagi dirinya 3. Memahami dan mewujudkan aspek-aspek sosial dari upaya melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi 4. Memahami dan mewujudkan aspek-aspek sosial dalam mempersiapkan diri dan karir C. Layanan : Pembelajaran, penempatan dan penyaluran, konseling perorangan D. Fungsi Layanan : Perencanaan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, karir F. Rumus Kompetensi : 1. Meniti karir setelah MTs 2. Informasi sekolah menengah atas 3. Informasi sekolah menengah kejuruan 4. Informasi kursus-kursus keterampilan 5. Informasi PSB G. Sasaran Layanan : IX ( Sembilan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat mempunyai keteampilan merencanakan karir J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 5 jam ( 5x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Memiliki gambaran tentang sikap yang seharusnya diambil dalam kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan meteri 2. Mewujudkan sikap dalam hubungan sosial berkenaan dengan kehidupan mandiri secara emosional, sosial, ekonomi 3. Mampu mewujudkan pengaruh positif dari gambaran kehidupan mandiri secara emosional, sosial ekonomi dalam kegiatan belajar C. Layanan : Informasi, pembelajaran, bimbingan kelompok, koseling perseorangan, konseling kelompok D. Fungsi Layanan : Perencanaan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial, belajar, karir F. Rumus Kompetensi : 1. Pentingnya bekerja tepat waktu 2. Pentingnya menyusun rencana tahapan 3. Langkah meraih sukses 4. Waraswasta, sebuah tantangan dan harapan G. Sasaran Layanan : IX ( Sembilan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat mempunyai keteampilan merencanakan dalam kehidupan sehari-hari J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 6 jam ( 6x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laiseg, laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Sub tugas perkembangan : Mengenal system etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara B. Kompetensi tugas Perkembangan : 1. Memiliki kesadaran akan perlunya sistem etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi dan anggota masyarakat 2. Memiliki dorongan yang kuat berprilaku sesuai dengan system etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi dan anggota masyarakat 3. Mewujudkan aspek-aspek sosial dalam system etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara 4. Memahami pengaruh system etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara dalam kegiatan belajar 5. Mampu mewujudkan pengaruh system etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara dalam kegiaran belajar C. Layanan : Orientasi, pembelajaran, konseling perseorangan, informasi, bimbingan kelompok D. Fungsi Layanan : Perencanaan E. Bidang Bimbingan : Bimbingan Pribadi, sosial F. Rumus Kompetensi : 1. Konsep dan contoh system etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi dan anggota masyarakat 2. Motivasi untuk berprilaku sesuai dengan system etika dan nilai bagi pedoman sebagai pribadi dan masyarakat 3. Cara-cara mewujudkan aspek-aspek sosial dalam system etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara serta penerapannya antara lain : menjalankan norma masyarakat dan menjalankan kewajiban sebagai warga negara 4. Menghormati terhadap orang yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda 5. Norma-norma tingkah laku selaku pribadi, anggota masyarakat dan sebagi warga negara G. Sasaran Layanan : IX ( Sembilan ) H. Uraian Kegiatan : 1. Pembukaan 2. Inti 3. Penutup : Tanya jawab, Kesimpulan ( kesan, pesan / saran ) I. Pengalaman Bimbingan : 1. Siswa dapat mempunyai keterampilan merencanakan dalam kehidupan sehari-hari J. Sumber Belajar : Buku sumber modul BK K. Metode : Ceramah, tanya jawab L. Semester / Waktu : I / 3 jam ( 3x pertemuan ) M. Tempat : Ruang kelas N. Penyelenggara Layanan : Guru BK O. Pihak yang diiukut sertakan : – P. Penilaian : Laiseg, laijapen & laijapan Q. Tindak Lanjut : reward & pembiasaan Mengetahui Kepala MTs Negeri Ciamis Guru Pembimbing Drs. Gunawan,M.Pd. Shilphy A Octavia,S.Pd. NIP. 196705011995031001 NIP. 197910042005122005 RANGKUMAN MATERI KELAS VII TP : 1 Ringkasan materi Kaidah ajaran agama 1. Kebebasan beragama Sesuai dengan pasal 29 ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya”, ini merupakan pencerminan hak azasi pribadi dalam memilih, menentukan suatu agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. 2. Pengertian agama Agama adalah satu sistem kepercayaan yang di dalamnya mengandung ajaran dan hubungan antara manusia dan penciptaNya 3. Macam-macam agama Di indonesia ada 6 agama yang diakui yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu. Dengan adanya pengesahan tersebut maka negara menjamin kebebasan untuk memeluk dan mengesahkan hari libur nasional untuk perayaan agama-agama tesebut. Contoh hubungan sosial menurut ajaran agama 1. Beribadah kepada tuhan yang maha esa contohnya sholat berjama’ah di mesjid 2. Merawat tempat ibadah contohnya meletakan alt-alat ibadah dengan baik dan benar 3. Mengembangkan ilmu agama yang dianutnya contohnya belajar di madrasah atau sekolah 4. Melatih kesabaran contohnya mau brangkat ke sekolah tahu-tahu hujan besar. Kemudian memaksakan berangkat dengan hujan-hujanan (menarima kenyataan hujan) itu bukanlah kesabaran melainkan nekad namanya. Namun bila berfikir kreatif maka ia kan mencari cara bagaimana supaya tidak kehujanan minimal buku tidak basah….barulah ini sabar namanya Contoh-contoh kegiatan belajar menurut ajaran agama 1. Sering berintrospeksi diri 2. Bergegaslah berwudlu jika dalam keadaan tidak fokus ketika belajar 3. Minum air putih, itu dapat membantu tekanan dalam belajar 4. Sering kontrol emosi 5. Menyalurkan emosi atau waktu luang kedalam hal yang positif misalnya kegiatan organisasi 6. Tuliskan hal-hal yang dapat menghambat belajar , sehingga akan nampak hal-hal yang harus dikerjakan dan tidak 7. Sering berdiskusi kelompok Belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar agar dapat mnegetahui dan dapat melakukan sesuatu. Hal yang diperlukan untuk persiapan belajar di kelas adalah kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, contohnya adalah sebagai berikut 1. Mengerjakan tugasa atau pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru 2. Mengulang bahan yang sudah disampaikan sebelumnya 3. Mempelajari dudlu bahan yang belum di jelaskan dan mencatat hal-hal yang akan di tanyakan 4. Menyiapkan alat tulis dan buku pelajaran sesuai jadwal 5. Mengusahakan tidur cukup 6. Sarapan terlebih dahulu sebelum datang ke sekolah TP : 2 Ringkasan materi Fakta perubahan fisik dan psikis remaja Periode remaja dibagi dalam 2 periode a. Periode pubertas : Periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah dari mahluk seksual, masa pubertas adalah masa perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapainya kemampuan reproduksi Perubahan tubuh pada masa puber • Perbahan ukuran tubuh • Perubahan proporsi tubuh • Perubahan ciri-ciri seks primer • Perubahan ciri-ciri seks sekunder b. Periode remaja : Periode remaja adalah periode penghubung atau peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa remaja NO BIDANG PERBEDAAN JENIS KELAMIN REMAJA PUTRA REMAJA PUTRI 1 tanda kelamin primer Terjadinya pultio, yakni keluarnya sperma yang pertama tanpa disadari dalam sensasi mimpi Terjadinya menarche, yaitu keluarnya darah menstruasi yang pertama karena proses kematangan sel telur yang tidak dibuahi 2 Tanda kelamin sekunder Terjadinya perubahan fisik yang meliputi tumbuhnya jakun, tumbuhnya rambut di beberapa tempat(jambang,jenggot, bulu ketiak dan kemaluan), kulit tampak berotot,dada semakin bidang, jalan semakin tegap, dan suara semakin besar Membesarnya kelenjar susu, tumbuhnya rambut di beberapa tempat (ketiak dan kemaluan), jalannya semakin melenggang, suara gadisnya semakin melengking 2 Tanda kelamin tersier Terjadi perubahan psikis seperti tertarik pada lawan jenis, aktif melindungi, memperhatikan , suka aktifitas yang menantang, aktif meniru hal yang dikagumi Terjadi perubahan psikis, yaitu tertarik pada lawan jenis, suka dilindungi dan diperhatikan, suka kegiatan dalam rumah, suka aktifitas yang berkaitan dengan keindahan, suka dikagumi Contoh-contoh pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap hubungan sosial Sikap menonjol pada remaja putra adalah sebagai berikut : • Sering canggung dan nampak kaku • Tingkahlakunya kasar dan tidak sopan • Kadang bersikap berandalan dan liar • Suka keluar rumah untuk olahraga, jalan-jalan, wisata, bersepeda atau lintas alam • Rasa harga diri yang semakin kuat • Suka bermulut besar dan menyombongkan diri Perubahan remaja putri adalah sebagai berikut • Sikap canggung • Sangat sensitif • Suka membantah • Tidak sabar menanti perubahan dan ingin secepatnya tampil seksi misalnya memakai kaos atau celana ketat • Bersikap ketus • Suka cerewet dalam menyingkapi sesuatu Contoh-contoh pengaruh perubahan fisik dan psikis terhadap kegiatan belajar secara positif • Mempersiapkan kesehatan dirinya misalnya berolahraga • Mempersiapkan potensi karir • Menanamkan nilai keagamaan • Aktif mengemukakan pendapat • Melibatkan diri dalam kegiatan sosial TP : 3 Ringkasan materi Peran pribadi dalam kelompok sebaya sebagai pria dan wanita Manusia menciptakan pria dan wanita yang memiliki persamaan dan perbedaan secara fisik dan psikis. Perbedaan fisik Laki-laki Perempuan • Tumbuh bulu • Mulai tampak jakun • Otot menguat • Suara membesar • Bahu dan dada membidang • Tumbuh bulu • Mulai nampak payudara • Kulit halus • Suara merdu/lembut • Pinggang berlekuk Perbedaan psikis Laki-laki Perempuan • Mulai memperhatikan diri sendiri • Mulai memperhatikan lawan jenis • Mulai mempunyai teman sekompok • Ingin diakui • kedewasaannya • Ingin lebih mandiri • Lebih sensitive • Ingin diperhatikan lawan jenis • Memerlukan waktu lama untuk berhias diri • Mulai mencoba alat kecantikan untuk keindahan dirinya • Ingin dimengerti perasaannya oleh semua orang Hubungan sosial dengan teman sebaya sebagai pria dan wanita Laki-laki Wanita • Aktif dalam permainan laki-laki dan olahraga • Memperlihatkan gambaran laki-laki ideal • Memiliki peran sebagai ayah yang mengedepankan logika dan penuh denga pertimbangan dan ketegasan dalam bertindak • Memperhatikan kesenangannya pada permainan perempuan • Memperhatikan gambaran sebagi seorang ibu • Mempunyai peran sebaia ibu dengan penuh perasaan dan kelembutan Pengaruh teman sebaya dalam belajar Remaja memiliki keinginan yang kuat untuk mengikuti dan menyesuaikan diri dengan lingkunga kelompoknya. Merekaakan menghindari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kelompoknya. Suasana belajar remaja sangat dipengaruhi oleh suasana kehidupan slsialnya terutama dangan teman sebaya, contohnya jika tidak diterima maka ia akan menurun semnaagt belajarnya, dan jika diterima maka akan emanagt dan mau melakukan apa yang dikehendaki kelompoknya. Gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih seseorang ikut menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut 4 langkah belajar efektif 1. Mulai dengan masa lalu 2. Teruskan masa sekarang 3. Pertimbangan proses, masalah utama 4. Buat pengulangan kembali Unsur-unsur belajar efektif dan efisien 1. Bangun alasan kuat kenapa haru belajar 2. Tumbuhkan minat terhadap pekerjaan 3. Tekun dan rajin hadir dikelas 4. Belajar kelompok secara teratur 5. Belajar dengan teratur dan terjadwal serta mempunyai target 6. Seraplah informasi besar sejak diri 7. Konsentrasilah pada suatu hal 8. Buatlah catatan secara rapih dan teratur 9. Mengulang pelajaran dan berlatih soal Belajar kelompok adalah belajar yang dilakukan oleh beberapa orang yang mempunyai tujuan yang sama dalam rangka mneyelesaikan tugas atau masalah yang berhubungan dengan belajar. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pembentukkan kelompok belajar adalah 1. Tidak lebih dari 5 orang 2. Tingkat kemampuan anggota 3. Kebiasaan atau sifat khusus masing-masing anggota 4. Jarak atau tempat tinggal masing-masing anggota 5. Jenis kelamin Fungsi belajar kelompok 1. Meningkatkan pemahaman kepribadian seseorang 2. Belajar menghargai pendapat orang lain 3. Melatih mengemukakan pendapat di depan umum 4. Melatih keberanian tuk bertanya 5. Menambah wawasan tentang pengetahuan 6. Membantu memecahkan masalah 7. Meningkatkan sikap kebersamaan dan toleransi Tp : 4 Ringkasan materi Nilai dan cara berprilaku dalam kehidupan yang lebih luas Tata krama adalah satu bentuk pedoman yang sifatnya mengikat perilaku seseorang terhadap orang lain yang mengutamakan dasar kesopanan dan kesusilaan Dasar-dasar tatakrama • Bersikap sopan dan ramah kepada siapa saja • Memberi perhatian kepada orang lain • Berusaha untuk menjaga orang lain • Bersikap ingin membantu • Memiliki rasa toleransi yang tinggi • Dapat mengasai diri/mengendalikan emosi Manfaat tata krama adalah sebagai berikut : • Membuat kita menjadi disegani dan dihormati • Mempermudah hubungan kita dengan orang lain • Memberikan keyakinan diri dalam setiap situasi • Membuat kita PD • Melatih kesabaran Nilai dan cara berprilaku sosial dalam kehidupan di luar kelompok sebaya Tanggungjawab sebagai anggota keluarga • Membantu pekerjaan orang tua di rumah • Belajar di rumah • Menjaga nama baik keluarga Tanggungjawab sebagai warga sekolah • Belajar dengan tekun • Melaksanakan tata tertib dengan disiplin • Mengikuti kegiatan sekolah • Menjaga keamanan dan ketertiban sekolah • Menjaga nama baik sekolah Tanggungjawab sebagai warga masyarakat • Bersikap sesuai norma masyarakat • Berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat • Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Pengaruh nilai dan cara berprilaku dalam kehidupan yang lebih luas terhadap belajar Aspek-aspek yang terkait belajar 1. Pengertian belajar Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menentap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil latihan dan pengalaman. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil penjelasan • Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam bentuk prilaku, dari ranah kognitif, afektif dan atau psikomotorik, tidak hanya terbatas pada pengetahuan • Sifat perubahan relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula • Perubahan tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar • Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman dan latihan • Perubahan akan lebih mudah terjadi apabila disertai penguat, berupa ganjaran yang di terima 2. Sumber belajar : Mencatat, mendengarkan, pengalaman, dll 3. Tujuan belajar : Memperoleh pengetahuan yang baru berupa ilmu pengetahuan, keterampilan, berupa sikap yang baik, yang berguna bagi dirinya sendiri, orang tua, masyarakat dan negara Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar 1. Faktor intern • Keadaan fisik • Keadaan psikis 2. Faktor ekstern TP : 5 Ringkasan materi Konsep dan kemampuan, bakat, minat, karir dan apresasi seni Setiap manusia lahir ke dunia membawa bakat dan minatnya sendiri-sendiri, satu dengan yang lainnya berbeda 1. Pengembangan bakat • Aktifitas rutin • Aktifitas yang mengarah ke kompetensi • Menanamkan bakat anak 2. Minat adalah kecenderungan seseorang untuk tertarik pada suatu hal, sehingga biasanya membuat seseorang senang melakukan atau mengamatinya 3. Perbedaan bakat dan minat Bakat : minat sejak lahir Minat : Dapat di bentuk atau dimunculkan 4. Hubungan bakat,minat dan karir Keberhasilan seseorang didukung oleh bakat dan minat yang tinggi, ditunjang oleh motivasi yang kuat, dan lingkungan yang mendukung sehingga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, dan memudahkan pengembangan karirnya Identifikasi arah apresiasi seni Minat seni adalah kecenderungan seseorang untuk menyenangi, mampelajari dan menguasai bidang seni tertentu sebagai pengaruh dari keinginan atau dorongan serta kondisi fisik dan lingkungan. Misalnya anak yang ibunya penari mengikuti gaya ibunya menari sejak kecil, akhirnya tertarik, ibunya memberikan dorongan fasilitas untuk anaknya belajar menari sampai akhirnya si anak sukses sebagai penari profesional Aspek sosial berkaitan dengan kemampuan, bakat, minat Kemampuan, bakat dan minat dapat dipengaruhi pengaruh sosial sebagai berikut : • Pengaruh lingkungan • Kebiasaan hidup sehari-hari • Munculnya hal-hal baru • Mengharapkan sesuatu • Adanya motivasi dan dorongan • Adanya bakat • Motivasi yang kuat • Adanya unsur subyektif • Perubahan status kehidupan Pengaruh positif kemampuan, bakat, minat sendiri terhadap belajar Sifat diri ada dua macam yaitu sifat diri yang positif dan sifat diri yang negatif. Sifat diri positif adalah kebiasaan yang baik, contoh hemat, terbuka, priang dll. Sedangkan yang negatif contoh pemarah , usil dll. Kita harus memahami sifat kita, baik yang positif maupun yang negatif. Sifat yang positif sebaiknya di kembangkan supaya lebih di manfaatkan. Sedangkan yang negatif harus diperbaiki atau diperkecil resikonya sehingga tidak merugikan dalam proses belajar. No Sifat yang ada pada diri saya Penilaian diri sendiri Penilaian teman Rencana ke depan 1. Positif – – 2. Negatif – – Pengaruh positif apresiasi seni terhadap kegiatan belajar No Jenis kesenian Pretasi belajar Kesenangan Alasan Rencana ke depan Bagus Cukup Kurang Senang Kurang senang Tidak 1. Identifikasi arah kecenderungan karir sendiri-sendiri dengan kemampuan, bakat, minat Keberhasilan seseorang, didukung oleh bakat dan minat yang tinggi, di tunjang oleh motivasi yang kuat, dan lingkungan yang mendukung sehingga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, dan memudahkan pengembangan karirnya. TP : 6 Ringkasan materi Motivasi diri semangat untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang menjadi program sekolah Pekerjaan adalah aktiivitas manusia dalam menunaikan tugas-tugasnya sebagai mahluk sosial dan mahluk berbudaya Pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugas siswa baik di sekolah maupun di rumah antara lain: menyapu lantai, mencuci piring, belajar, belanja, mengepel, mencuci pakain, mengasuh adik dll. Kita tidak bolah meremehkan profesi apapun, kita harus menghargai dan menghormati mereka. Coba tuliskan tugasmu di rumah, sekolah No Di rumah Di sekolah Di masyarakat Aspek sosial berbagai materi yang dipelajari di MTs Materi yang di dapatkan di MTs dapat mendorong karir. Karir dapat diartiakn proses pencapaian kedudukan dalam menempuh suatu jabatan tertentu. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar kita dapat mengembangkan karir sesuai dengan potensi atau bakat yang dimiliki, yaitu mengenal diri sendiri, mengenal tujuan yang ingin di capai dan mengetahui langkah-langkah untuk mencapai tujuan atau cita-cita tersebut. 1. Mengenal diri sendiri a. Siapa saya? b. Apa kellemahan saya (fisik dan psikis) c. Apa minat saya d. Apa kebutuhan saya e. Bagaimana kemampuan ekonomi saya 2. Tujuan yang ingin di capai a. SMU/MA/SMK pilihan ke 1? b. SMU/MA/SMK pilihan ke 2? 3. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan TP : 7 Ringkasan materi Mengembangkan sikap hemat Beberapa langkah yang ditempuh agar tidak boros • Usahakan tidak membawa semua uang yang kita miliki, coba kamu berikan alasannya menurut pendapatmu • Membuat target atau alokasi belanja untuk waktu tertentu • Sebelum pergi belanja sebaiknya merinci dengan detail barang yang akan kita beli • Dekat dengan ibu, karna kita perlu belajar dari ibu bagaimana cara mengatur keuangan • Pintar-pintarlah menawar • Meminta teman atau sahabat untuk mengingatkan bila penyakit borosmu datang Membiasakan menabung Buatlah rekening tabungan jika memungkinkan. Saldo sisa (jika ada) pengeluaran dapat kalian tabungkan walau hanya beberapa ribu saja, itu dapat menjadi keuntungan yang sangat bagus di kemudian hari. Berikut contohnya No Uraian Debet Kredit Saldo Keterangan 1 Dapat uang dari ibu 50.000 2 Beli buku 10.000 3 Transport 35.000 5000 Sisa saldo untuk menabung di tabungan pelajar (di kantor pos) Membiasakan bekerja keras Membiasakan bekerja keras dengan cara beberapa hal • Menambah pengetahuan, kemampuan dan perubahan sikap tingkahlaku ke arah yang positif • Mempunyai tujuan belajar • Mempunyai rencana ke depan Membiasakan tidak pamrih Membiasakan tidak pamrih atau meminta imbalan jasa atas apa yang kita perbuat terhadap orang lain. Serta disertai dengan sikap sebagai berikut : • Bersikap sopan, ramah dan selalu menunjukkan sikap yang menyenangkan dan bersahabat dengan orang lain • Bisa menguasai diri sendiri dan berusaha tidak menyinggung, mengganggu, dan menyakiti perasaan dan fikiran orang lain • Selalu berusaha tidak mngecewakan, atau membuat marah orang lain walaupun diri sendiri dalam keadaan sedih RANGKUMAN MATERI KELAS VIII TP : 1 Ringkasan materi Pokok-pokok ajaran agama yang dianutnya Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan YME yang diberikan berbagai kelebihan. Kelebihannnya antara lain akal dan hati agar tercapainya hubungan keselarasan. Sebagai wujud syukur manusia terhadap Sang Pengcipta, manusia harus punya keyakinan dan kepercayaan yang disebut agama. Manusia mahluk religius dan mahluk sosial yang selalu berkomunikasi dan berhubungan dengan manusia lainnya. Dalam keseharian antara manusia satu dengan yang lainnya seringkali berbenturan. Misalnya beda pendapat, berbeda keyakinan, dan berbeda kepercayaan. Manusia juga mahluk individu yang mempunyai keinginan dan kepentingan pribadi. Sebagai mahluk individu manusia kadang memunculkan egonya, ia mempunyai kepentingan dan keinginan pribadi yang kadang-kadang bertentangan dengan kebutuhan dan keinginan manusia yang lain . Disinilah peran manusia sebagai mahluk sosial dimana kepentingan orang banyak harus di dahulukan dari pada kepentingan pribadi. Agar tidak terjadi berbenturan di masyarakat, manusia juga harus berlandaskan dan berdasarkan kepada ajaran agama masing-masing. Setiap agama mengajarkan kebaikan, tidak ada mengajarkan kejelekkan dan kejahatan. Jika ada manusia berbuat kejahatan, adalah orangnya sendiri. Praktek hubungan sosial menurut jaran agama Dalam memperaktekkan hubungan sosial menurut ajaran agama diperlukan ha-hal sebagai berikut : • Tepat janji : Bertanngungjawab atas apa yang diucapkan, selalu menepati janji • Amanah :Dapat di percaya • Bijaksana :Mengedepankan pemikiran yang matang dan tidak merugikan siapapun • Lugas : Sikap dan prilaku menunjukan apa adanya, tidak di buat-buat • Sabar : Tenang dalam menghadapi apapun • Rajin :Suka bekerja keras • Ulet : tidak mudah putus asa • Kehati-hatian : cermat dan teliti • Berfikir jauh ke depan : Selalu berfikir jangka panjang untuk menyongsong hari esok lebih baik Praktek kegiatan belajar menurut ajaran agama Praktek kegiatan belajar menurut ajaran agama conothnya adalah • Tidak menyontek waktu ulangan • Berkata jujur ketika membela teman • Mengenbalikan barang yang bukan milik kita kepada pemiliknya • Dll TP : 2 Ringkasan materi Penerimaan terhadap perubahann fisik dan psikis remaja Menerima apapun kelebihan dan kekurangan diri yang dimiliki merupakan hal yang paling bijak agar kepercayaan diri tetap eksis dan dapat tampil secara wajar dalam penesuaian diri dengan lingkungan. Berikut adalah cara membangun kepercayaan diri • Optimis : selalu memiliki harapan yang positif menghadapi segala hal • Ambisi yang tepat : dorongan untuk mencapai sukses • Tidak egois : Tidak selalu berorientasi pada diri sendiri • Toleran : punya sikap, menghargai pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri • Tidak berlebihan : mampu menampilkan dirinya secara wajar dan apa adanya tanpa rasa malu Ada 5 hal yang diarankan bagi orang tua untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak sejak dini • Jangan pelit pujian • Sesekali berilah hadiah • Biarkan anak memilih, contohnya warna baju yang diinginkan • Latihlah anak untuk memecahkan masalah • Bantu anak dalam menetapkan tujuan Pengembangan pengaruh positif dan menghindari pengaruh negatif perubahan fisik terhadap sosial Dalam hal sosial dapat dilakukan dengan : • Mengikuti kegiatan keterampilan tertentu contohnya olehraga,menjahit dll • Menyadari bahwa perubahan fisik yang terjadi merupakan hal yang normal • Mengikuti kegiatan eksul • Mengadakan kegiatan di lingkungan tempat tinggal sesuai dengan minat • Mengikuti event atau kegiatan sebagai ajang apresiasi remaja contoh lomba menulis, fasion show, outbound • Mempunyai teman curhat yang dapat dipercaya dalam hal memecahkan masalah Cara mengatasi kesulitan yang terjadi akibat perubahan fisik dan psikis terhadap kegiatan belajar Modal utama untuk belajar adalah motivasi yang kuat. Motivasi ibarat kunci pembuka, jika kita sudah mempunya motivasi dan semangat, segala hambatan dan rintangan yang menghalangi kita untuk belajar akan menghilang. Hambatan diri adalah penghambat atau hal-hal yang dapat mempersulit diri sendiri Faktor-faktor hambatan diri adalah 1. Faktor pribadi 2. Faktor lingkungan Macam-macam hambatan 1. Berupa faktor fisik 2. Berupa faktor psikis 3. Dari dalam diri sendiri 4. Hambatan dari luar • Dari keluarga • Dari masyarakat atau teman 5. Pengaruh media masa dan hiburan Cara-cara mengatasi hambatan diri 1. Pemahaman diri a. Bagaimana sifat diri kita? b. Apa bakat/potensi kita? c. Cita-cita/gaya hidup yang diinginkan? d. Seberapa jauh minat terhadap masa depan? 2. Pemahaman lingkungan a. Bagaimana keadaan lingkungan sosial kita? b. Apa yang terjadi dengan pergaulan dengan teman sebaya? c. Kondisi sosial keluarga? Contoh : a. Pemahaman diri, jika kita termasuk yang penakut maka perlu belajar pada orang yang pemberani, jika kita hidup glamor maka kita harus berkaca kepada kehidupan orang yang sederhana b. Pemahaman lingkungan, contohnya ada teman sekelas kita ketika istirahat selalu menyendiri, tidak ada teman yang menemani, teman semejanya pun kurang berkomunikasi dan itu terjadi hampir setiap hari. Ada apa sebenarnya? Maka ternyata dia adalah termasuk anak yang sulit bergaul, kurang bisa beradaptasi dengan lingkunganan sifatnya egois. Cara memotivasi semangat belajar 1. Berfikir positif 2. Berusaha lebih tekun belajar 3. Meniru contoh keberhasilan orang lain 4. Belajar sendiri 5. Belajar dari berbagai sumber 6. Menambah pelajaran dengan les TP : 3 Ringkasan materi Contoh-contoh penerimaan peran pribadi sebagai pria atau wanita dalam kelompok sebaya tanpa membedakan teman pria atau wanita pada posisi tertentu Dalam masyarakat yang sedang berkembang kenyataan ini tak dapat dielakkan dan situasi ini sangatlah bernilai tinggi bagi remaja terutama dalam pertumbuhannya ke arah kematangan pribadi . Dalam kelompok sebaya anak mendapat pengalaman-pengalaman yang perlu untuk memenuhi tugas perkembangannya, termasuk tugas perkembangan sebagai pria dan wanita Kelompok sebaya makin lama makin penting setelah anak memasuki masa remaja. Kelompok sebaya pada masa kanak-kanak hanya merupakan pelengkap kehidupan bermain di rumah dan di sekolah. Namun pada masa remaja merupakan suatu kumpulan yang sangat penting dan menuntut kesetiaan dari anggotanya. Dalam kenyataannya kadang-kadang terjadi pertentangan antara kelompok remaja di satu pihak dengan kelompok orang dewasa di pihak lain. Manfaat kelompok teman sebaya dalam membantu perkembangan kepribadian • Kehidupan kelompok memberi rasa aman • Kehidupan kelompok memberi hiburan yang menyenangkan • Memberikan pengalaman dalam pergaulan yang lebih luas dengan orang lain • Membantu remaja mengembangkan sikap toleran dan aling memahami • Memberikan kesempatan untuk memperoleh keterampilan-keterampilan sosial • Banyak memberikan kesempatan untuk dapat menilai orang lain • Memberikan pola-pola dan standar prilaku remaja • Memberikan kesempatan mencapai kesetiaan terhadap kelompok Contoh pola hubungan sosial dengan teman sebaya tanpa membedakan peran pria da wanita pada posisi tertentu Setiap manusia pasti mengalami perubahan-perubahan dalam aspek fisik, psikis, dan sosial yang terjadi sepanjang hidup sejak konsepsi sampai kematian. Pada laki-laki perubahan yang terjadi adalah 1. Mulai tumbuh rambut sekunder misalnya di kumis 2. Perubahan pada suara 3. Tumbuh jakun Pada wanita perubahan yang terjadi adalah 1. Mulai berfungsinya alat reproduksi 2. Terjadinya menarche (haid) Keadaan ini tidak bisa dihindari, dan menunjukan jati diri identitas sebagai wanita atau pria. Tugas yang dikerjakan di sekolah (yang cocok) 1. Piket kelas Anak putri • Menyapu lantai • Mengambil kapur • Memanggil guru • Mencatat • Mengabsen • Memperindah ruangan kelas Anak putra • Mengepel lantai • Membawa buku tugas/buku LKS/buku pelajaran • Menjaga ketertiban dan keamanan kelas 2. Petugas upacara • Anak putri membawa bendera atau reg koor • Anak putra/putri mengibarkan bendera atau komandan upacara Ciri-ciri anak yang mencapai peranan sosial sebagai pria secara memadai/ tinggi • Fisiknya yang matang • Senang kepada kawan perempuan • Menyenangi kegiatan-kegiatan yang anggotanya terdiri dari laki-laki dan perempuan • Sewaktu-waktu mengadakan perempuan dengan kawan gadisnya • Mempunyai ideal atau bayangan sebagai laki-laki yang kuat • Aktif dalam kegiatan oleharaga • Menyenangi pekerjaan laki-laki dan senantiasa mencari pengalaman dalam kerja Cara-cara dan peraktek pengembangan pengaruh positif hubungan teman sebaya terhadap kegiatan belajar Remaja awal telah memiliki pemikiran logis dimana seringkali menghadapi kebingungan antara pemikiran diri dan pemikiran orang lain. Menghadapi keadaan ini perkembangan pada remaja sikap egosentrisme, yang berupa pemikiran-pemikiran subyektif dirinya tentang masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam masyarakat atau kehidupan pada umumnya. Perkembangan pola pikir sikap peduli remaja sebagai berikut : • Diawali dengan kecenderunagn keinginan menyendiri dan bergaul dengan orang bangak tetapi bersifat temporer • Adanya kecenderungan yang kuat pada kelompok sebaya diserta semangat komformis yang tinggi • Adanya pertentangan antara keinginan bebas dan dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan orang tua • Dengan sikapnya dan cara pemikirannya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam prilaku sehari-hari oleh para pendukungnya/orang dewasa • Mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat untuk diidolakan. Kelompok sebaya mempunyai pengaruh yang besar bagi siswa dalam hubungan dengan kawan-kawan sekelasnya. Hubungan baik antara satu dengan yang laninnya di dalam kelas, akan berpengaruh baik terhdap suasana belajar. Demikian pula sebaliknya, jika hubungan satu dengan yang lain buruk akan berpengaruh buruk pada suasana belajar di kelas. Suasana kelompokakan berpengaruh besar dalam belajar. Oleh karena itu pembentukkan kelompok belajar hendaknya memperhatikan kehidupan kelompok sebaya dalam kelas. Pembentukkan kelompok hendaknya memperhatikan hubungan diantara siswa dalam kelas. Kelompok sebaya dapat digunakan sebagai sarana pemecahan masalah. Suatu masalah akan lebih efektif bila dipecehkan dalam kelompok daripada dipecahkan sendiri. TP : 4 Ringkasan materi Peraktek menerapkan nilai dan prilaku dalam kehidupan yang lebih luas Antara manusia yang satu dengan yang lain terdapat pandangan atau pendapat yang berbeda. Meskipun setiap manusia berbeda-beda,tetapi mempunyai rasa ketergantungan antara satu dengan yang lainnya. Disinilah munculnya nilai –nilai kehidupan atau norma kehidupan yang kita ketahui akan semakin bermanfaat bagi kita untuk menentukan sikap. Norma adalah suatu petunjuk hidup yang berisi larangan dan perintah Macam-macam norma 1. Norma agama 2. Norma susila 3. Norma kesopanan 4. Norma kebiasaan 5. Norma hukum Fungsi norma 1. Merupakan faktor prilaku dalam kelompok tertentu 2. Merupakan aturan, pedoman atau petunjuk 3. Pengendali dalam hidup bermasyarakat Cara mengendalikan perasaan marah pada remaja • Bersikap pemaaf • Berfikir positif • Rendah hati dan toleransi • Senantiasa mengingat akan akibat buruk dari permusuhan • Meningkatkan keimanan Cara mengatasi rasa takut • Persiapkan mental untuk menghadapi situasi tertentu • Pelajari dan persiapkan sebaik-baiknya untuk menghadpai suasana tertentu contohnya jika akan ulangan • Pupuk dan binalah rasa percaya diri • Hadapi dan kerjakan apa yang ananda takuti Praktek mengenalkan nilai dan cara berprilaku sosial dalam kehidupan di luar kelompok sebaya Dalam hubungan sosial masa remaja, sifat pemalu adalah sifat yang manyak melekat dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah cara mengatasi perasaan malu • Temukan sebab-sebab rasa malu itu timbul, dan bagaimana cara mempengaruhinya contohnya takut berada dalm keramaian, maka upayanya adalah berusaha sedikit demi sedikit mau berada di tengah keramaian • Jika malu dan gugup, maka kendorkanlah otot-otot sarap dengan cara mengambil nafas dalam—dalam kemudian di lemaskan • Hilangkan kekawatiran bahwa orang lain mencela kita • Bersikaplah wajar, jangan canggung • Kendalikan desakan bahwa setiap orang yang anda jumpai itu suka dan tertarik pada anda • Kendalikan perasaan anda untuk mengharapkan simpati dari orang alin dan jangan terus menerus memperlakukan teman sebagai tempat menumpahkan segala penderitaan ananda Jawab pertanyaan di bawah ini 1. Hal-hal yang membuat saya bergaul dengan orang lain apa? 2. Ceritakan peristiwa yang membuatmu malu saat bergaul dengan orang lain? 3. Bagaimana kebiasaanmu dalam mengatasi rasa malu Membiasakan mencegah penyalahgunaan narkoba • Membenahi diri dan menjaga pergaulan positif dengan lingkungan keluarga dan teman-teman • Tetap waspada • Berani menolak Contoh-contoh pengaruh nilai dan cara berprilaku dan pengaruh nilai dalam kehidupan yang lebih luas terhadap kegiatan belajar Manusia adalah mahluk sosial dan mahluk individu. Sebagai mahluk sosial maka manusia membutuhkan manusia lain untuk bersosialisasi Manfaat berteman/bersosialisasi adalah • Dapat belajar bersama • Dapat berbagi rasa • Mempunyai teman untuk bermain/bergaul Macam-macam pengaruh dalam bergaul 1. Pengaruh negatif • Membolos • Merokok • Menggunakan uang sekolah untuk bermain • Minum-minuman keras • Mencoba narkoba • Mencuri • Memalak • Berkelahi • Mengadu domba • Tawuran • Melawan guru • Membuka situs porno • Begadang dll 2. Pengaruh positif • Mengajak kegiatan positif • Memberi motivasi untuk meningkatkan prestasi • Jika bersalah mau mengungkapkan secara objektif • Ada teman berbagi dalam susah dan senang Akibat pergaulan, remaja dapat terjerumus dalam pegaulan yang buruk seperti merokok,minum minuman keras, penyalahgunaan obat/narkoba, terlibat tawuran dll. Olah karena itu hendaknya remaja berhati-hati dalam memilih teman dan pergaulan. Contoh barang yang disebut narkoba antara lain : 1. Heroin 2. Ganja 3. Hoksis 4. Ekstasi 5. Shabu-shabu 6. Nipam 7. Rakipnol 8. Minuman memabukka 9. Hipnoni dll Pencegahan narkoba 1. Mendekatkan diri kapada Tuhan YME 2. Luangkan waktu untuk memberikan perhatian dalm keluarga 3. Tetap waspada : ikuti berita-berita tentang narkoba di media masa 4. Berani menolak terhadap narkoba TP : 5 Ringkasan materi Identifikasi kemampuan, bakat, minat , karir dan seni Minat : Kecenderungan seseorang untuk memilih pada suatu hal, sehingga biasanya membuat seseorang senang melakukannya Bakat : Kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap orang sejak lahir Hubungan bakat dan minat : Seseorang yang mempunyai bakat dan dia memiliki minat untuk mengembangkan bakatnya, maka hasilnya akan di capai prestasi yang baik, Apalagi ditunjang oleh faktor intern dan ekstern yang ada di sekitarnya. Pengaruh potitif dari dalam • Mempunyai motivasi yang kuat untuk mempelajari sesuatu • Ingin mendapatkan perubahan melalui belajar sesuatu sesuai bakat dan minatnya • Ingin mewujudkan cita-cita Pengaruh positif dari keluarga • Keluarga memberi contoh yang baik • Memperhatikan jam belajarnya • Memberikan sarana untuk belajar Pengaruh positif dari mayarakat • Kesadaran masyarakat akan pentingnya belajar • Tidak melakukan hal yang mengganggu pelajaran • Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan YME Contoh-contoh aspek sosial berkaitan dengan pengembangan karir Apabila keluarga khususnya orang tua bersifat merangsang, mendorong dan membimbing terhadpat aktifitas siswa maka siswa akan mempunyai keyakinan atau pandangan tentang cita-cita ke depan secara positif Maka dari itu perlu dukungan pula dari hal-hal sebagai berikut • Pergaulan yang positif • Lingkungan masyarakat yang mendukung Cara-cara penerapan perkembangan pengaruh positif kemampuan bakat dan minat sendiri terhadap kegiatan belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar 1. Dari dalam diri • Kecerdasan • Bahak • Minat dan perhatian • Motivasi • Kesehatan jasmani • Cara belajar 2. Dari luar diri siswa • Lingkungan alam • Lingkungan keluarga • Lingkungan masyarakat • Peralatan belajar • Sekolah Contoh pengembangan keterampilan belajar adalah sebai berikut : 1. Membuat ringkasan Dengan membat ringkasan siswa akan memiliki hal berikut : • Catatan praktis yang berisi rangkuman hal-hal penting dari satu materi • Nilai lebih karna dibuat dengan jalan fikiran kita sendiri • Gaya tulisan yang dibuat berdasarkan alur fikiran yang mudah dipahami • Tulislah hal-hal penting saja dalam ringkasan • Sebisa mungkin menggunakan kata-kata sendiri dengan warna berbeda untuk setiap bahasan • Ringkasan sebaiknya dibuat berdasarkan poin-poin penting • Membuat ringkasan yang membedakan materi utama dan sub materi 2. Mengulang palajaran Mengulang kembali pelajaran berarti mempelajari kembali di rumah materi yang baru diajarkan di kelas karna mempelajari suatu hal lebih dari satu memberi hasil yang lebih baik Identifikasi dan penerapan apresiasi seni terhadap kegiatan belajar Masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan seni apalagi di zaman modern ini kebanyakan anggota masyarakat membutuhkan kepuasan batin melalui kasil karya seni.Berikut ini adalah kiat-kiat menampilkan seni di depan panggung 1. Lakukan perencanaan dan persiapan sebaik mungkin seperti berikut • Melakukan survei pada tempat yang akan digunakan • Cheking peralatan 2. Hilangkan rasa takut dan ragu 3. Lakukan negosiasi dengan masyarakat dan tuan rumah 4. Tumbuhkan rasa percaya diri 5. Berdoalah sebelum tampil 6. Tampil dengan all out, keluarkan kemampuan yang ada Identifikasi pengaruh kemampuan, bakat dan minat sendiri terhadap pilihan karir Cobalah ananada identifikasi kemampuan bakat, minat dan kepribadian ananda atau hal-hal lain yang menjadi potensi belajar dan kendala belajar anda Aspek Rendah sekali Rendah Sedang Tinggi Tinggi sekali Kemampuan realitas Kemampuan bahasa Kemampuan verbal Daya ingat Kemampuan hitung praktis Seni suara Seni lukis Seni tari Dll TP : 6 Ringkasan materi Memotifasi diri agar bersemangat untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang menjadi program sekolah Manusia adalah mahluk sosial dan mahluk individu. Sebagai mahluk sosial maka manusia membutuhkan manusia lain untuk bersosialisasi. Salah satu motivasi dalam menguasi pengetahuan dan keterampilan adanya berteman/bersosialisasi. Karna teman itu sangatlah penting dalam hal motivasi Manfaat berteman/bersosialisasi adalah • Dapat belajar bersama • Dapat berbagi rasa • Mempunyai teman untuk bermain/bergaul Macam-macam pengaruh dalam bergaul 1. Pengaruh negatif • Membolos • Merokok • Menggunakan uang sekolah untuk bermain • Minum-minuman keras • Mencoba narkoba • Mencuri • Memalak • Berkelahi • Mengadu domba • Tawuran • Melawan guru • Membuka situs porno • Begadang dll 3. Pengaruh positif • Mengajak kegiatan positif • Memberi motivasi untuk meningkatkan prestasi • Jika bersalah mau mengungkapkan secara objektif • Ada teman berbagi dalam susah dan senang Mewujudkan pengembangan dan penguasaan aspek-aspek sosial melalui berbagai materi yang dipelajari di MTs Pengaruh pemilihan karir ditentukan oleh aspek-aspek pribadi dan sosial berikut ini • Perbedaan jenis kelamin • Intelegensi dan bakat khusus • Minat • Kepribadian • Latar belakang keluargan dan status ekonomi Inginkah kamu sukses?apa itu sukses? Sukses berasal dari 4 huruf S : Saya U : Usaha K : Karena S : Saya E : Enggan S : Sengsara Yang berarti sukses adalah keberhasilan hidup dan kuncinya adalah kebiasaan baik, yang dapat membawa keberhasilan.Kita singkirkan pengaruh negatif kehidupan, sebaliknya segera kita tiru dan kita laksanakan pengaruh-pengaruh positif. Yang sangat berperan penting dalam kesuksesan adalah belajar efektik, cara belajar efektif adalah sebagai berikut : 1. Belajar di sekolah Hal-hal yang harus dilakkan adalah sebagai berikut : • Terbuka menerima keberadaan guru dan mata pelajarannya • Penuh minat dan perhatian • Agresif/dinamis : selalu ingin tau dan ingin maju 2. Belajar di rumah Hal –hal yang perlu diperhatikan adalah sebagi berikut : • Pilih waktu dan tempat yang tepat • Buatlah ringkasan • Lakukan tanya jawab dengan teman sebaya 3. Belajar kelompok Hal-hal yang diperlukan dalam belajar kelompok adalah sebagai berikut : • Anggota keloompok antara 3-4 orang • Tempat dapat bergantian dari satu anggota ke anggota yang lain • Batlah perjanjian bersama misalnya tidak boleh menonton vcd atau tv pada saat belajar kelompok Mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan aspek sosial dalam mempersiapkan karir Setiap pekerjaan biasanya menuntut pendidikan yang harus ditempuh sebagai prasarat minimal. Contoh seorang pekerja pabrik mungkin hanya menuntut pendidikan lulusan SMP atau SMA , tetapi pekerja profesional seperti dokter, pengacara, guru, tidak cukup lulusan SMA. DiIndonesia ada ketentuan bahwa setiap pekerjaan, prasarat minimal adalah lulusan SMP karena kebijakan pemerintah tentang kebijakan dasar sembilan tahun. Sebutkan minimal 10 jenis pekerjaan yang ananda ketahui yang ada di lingkungan anada dan isilah keterangan sesuai dengan kolom yang tersedia No Jenis Pekerjaan Latar belakang sekolah minimal Pengembangan diri adalah mengembangkan, mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan dengan memerhatikan kondisi lingkungan tempat kita berada. Hal yang harus dikembangkan dan diekspresikan berkaitan dengan pengembangan diri a. Bakat Bakat adalah anugerah Tuhan yang dibawa manusia sejak lahir berupa potensi dasar(Dr Sayekti, M.Pd.1993) b. Minat Minat adalah kecenderungan seseorang terhadap sesuatu yang ia sukai (m Surya, 1975) c. Prestasi Prestasi adalah keberhasilan yang diraih seseorang dalam mengikuti kompetensi atau persaingan di bidang tertentu Contoh pengembangan diri 1. Dalam lingkungan keluarga • Belajar rutin, menjaga kebersihan rumah dan kesehatan • Membantu pekerjaan orang tua dengan ikhlas • Membimbing anak dalam belajar 2. Dalam lingkungan sekolah • Membentuk kelompok belajar • Diskusi di kelas • Bertanya kepada guru apabila ada yang tidak dimengerti • Melerai teman yang bertengkar • Menolong teman yang kesusahan 3. Pengembangan diri di masyarakat • Menjenguk teman yang sakit • Belajar tampil di panggung pada acara HUT RI • Ikut gotong royong TP : 7 Ringkasan materi Konsep dan contoh-contoh kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi Seseorang yang memiliki EQ yang tinggi kemungkinan akan sukses dalam menjalani kehidupannya, baik kehidupan sosial maupun ekonominya. Mengapa demikian? Karna orang yang mampu mengenali perasaannya sendiri, memahami orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi, dan berhubungan baik dengan orang lain, ia akan selalu berhati-hati dalam berbuat, tidak pernah putus asa, da selalu berbagi perasaan dengan orang lain. EQ menurut Daniel Godman, dikembangakan menjadi 5 kategori, yaitu • Kesadaran diri • Pengaturan diri • Motivasi • Empati • Keterampilan sosial Contoh-contoh tentang sikap yang seharusnya diambil dalam kehidupan mandiri emosional, sosial, ekonomi Setiap orang mempunyai waktu yang sama yaitu 24 jam, yang tidak sama adalah penggunaannya efektif atau tidak. Ciri-ciri orang yang menggunakan waktu efektif adalah: • Selalu bekerja dengan rencana dan tujuan yang jelas • Tidak menggunakan waktu untuk hal-hal yang negatif • Tidak memaksakan diri jika sedang lelah atau sakit • Menyempatkan waktu untuk istirahat dan olahraga • Hampir selalu tepat waktu dalam segala hal • Tidak melalaikan ibadah Cara mensiasati waktu • Atur jadwal dengan agenda • Mencatat setiap janji yang dibuat • Buka dan periksa agenda setiap pagi dan malam • Jangan menunda-nunda pekerjaan • Kerjakan pekerjaan dengan skala prioritas • Letakkan jam duduk di meja belajar • Katakan “tidak” bila ada yang mengajak pada saat tidak tepat Cara-cara bersikap dalam hubungan sosial berkenaan dengan kehidupan secara sosial dan ekonomi Buatlah catatan kegiatan harian dari kegiatan yang suda dilaksanakan No Hari,tanggal Kegiatan positif yang dilaksanakan Hasil RINGKASAN MATERI KELAS IX TP : 1 Ringkasan materi Pokok-pokok ajaran agama Meningkatkan keimanan dengan cara 1. Hati yag bersih 2. Lidah yang jujur 3. Jiwa yang tentram 4. Akhlak yang lurus 5. Telinga selalu mendengar dan mata selalu melihat Implementasi ajaran agama dalalam kehidupan sehari-hari Manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa mempunyai kelebihan dan kekurangan. Orang yang melihat perimbangan ini akan senantiasa beruntung dan bersyukur. Sabar adalah menahan diri dalam rangka proses mencapai tujuan, sikap sabar tercermin dalam 3 hal 1. Sabar dalam berbuat 2. Sabar dalam menderita 3. Sabar dalam menahan marah Manfaat yang diambil dari sikap sabar adalah 1. Memiliki pertahanan diri yang baik 2. Tidak memperpanjang masalah 3. Dapat menunjukan kelebihan yang dimiliki sebagai perimbangan kekurangan diri 4. Banyak teman 5. Memperoleh kesuksesan 6. Mentalnya kuat 7. Tahan uji Ketika diejek teman karena berasal dari keluarga kurang mampu, sikap yang seharusnya dilakukan adalah 1. Menahan marah 2. Menerima kenyataan keadaan keluarga dalam kesusahan 3. Keluarga dalam kesulitan 4. Tidak dendam atas tindakan teman yang mengejek Implementasi ajaran agama dalam belajar Prilaku efektif adalah prilaku yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh individu maupun oleh lingkungannya sehingga prilaku tersebut bermakna bagi individu tersebut dalam menyelesaikan diri terhadap lingkunggannya Dalam hal belajar pribadi efektif adalah pribadi yang sanggup memperhitungkan diri, waktu dan tenaga dalam belajar.Perilaku yang efektif adalah prilaku seseorang yang senantiasa berudaha melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungannya. Motivasi belajar adalah kekuatan dalam diri individu yang mendorong untuk melaksanakansuatu tindakan untuk mengetahui pengetahuan dan berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap sehingga terjadi perubahan tingkahlaku yang disebabkan oleh pengalaman Peran motivasi belajar 1. Motivasi menentukan hasil belajar 2. Memperjelas tujuan belajar 3. Motivasi menentukan ketekunan belajar Cara meningkatkan motivasi belajar 1. Menumbuhkan usaha dan keinginan berhasil, karya usaha dan berkarya adalah kewajiban manusia sebagai hamba Allah SWT 2. Mengkaitkan belajar dengan kebutuhan 3. Mengkaitkan belajar dengan harapan dan cita-cita masa depan 4. Melaksanakan kegiatan belajar dengan motivasi • Belajar kelompok • Membuat ringkasan • Mendengarkan musik • Menonton televisi 5. Lingkungan kondusif TP : 2 Ringkasan materi Contoh-contoh penerimaan terhadap perubahan fisik dan psikis remaja Masa remaja banyak mengalami perubahan , baik psikis maupun fisik, perubahan ini banyak menimbulkan berbagai akibat yang banyak berpengaruh dalam kehidupan remaja. Oleh karena itu kehidupan pada masa remaja ini merupakan kehidupan romantis yang dihiasi dengan suka duka. Periodiasi remaja 1. Awal remaja, sia 12-14 tahun 2. Pertengahan remaja, sia 14-16 tahun 3. Akhir remaja, usia 16-21 Perkebangan biologis remaja 1. Tinggi dan berat badan 2. Proporsi badan dan bentuk badan 3. Kulit dan rambut 4. Berfungsinya kelenjar kelamin Perkembangan psikologis 1. Makin mampu untuk mengadakan generalisasi/melihat keseluruhan saling berkaitan 2. Makin dapat melihat hubungan satu dengan yang lain 3. Mampu mengadakan pembicaraan intelek 4. Mampu berfikir secara abstrak sehingga dapat untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan Tugas perkembangan remaja 1. Menerima keadaan diri 2. Membentuk hubungan teman sebaya secara dewasa 3. Mengembangkan kemampan diri sendiri 4. Mengembangkan tanggung jawab sosial 5. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan intelektual 6. Mempersiapkan pisik dan psikis untuk berkeluarga 7. Mencapai nilai-nilai kedewasaan Pada remaja perubahan fisik dan psikis yang menonjol, hal ini dapat mengakibatkan perubahan sikap, nilai dan prilaku. Pada masa ini remaja cenderung peduli pada penampilan dan kerapihan dirinya dan mulai membentuk kelompok atau geng. Pada masa remaja perubahan fisik mengalami pertumbuhan yang cepat. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah 1. Kesehatan dan gizi 2. Bentuk tubuh 3. Ketegangan emosional Disamping perkembangan fisik diatas, masa remaja juga ada bahaya fisik yang menghambat hubungan dengan lingkungan sekitar 1. Penyakit 2. Kegemukan 3. Bentuk tubuh yang tidak sesuai 4. Kecelakaan 5. Ketidakmampuan fisik 6. Kecanggungan 7. Kesederhanaan/kurang mampu secara ekonomi Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi perubahan fisik dan psikis sehingga terjalin hubungan harmonis 1. Menerima dengan lapang dada semua perubahan fisik yang menggangg jika itu permanen 2. Berusaha mencari jalan keluar agar fisik dan psikis tidak menghambat hubungan sosial misal ke dokter 3. Menutupi semua kekurangan dengan kelebihan yang ada pada diri kita 4. Keluarkan semua potensi positif yang ada dalam diri kita 5. Menanamkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa Pengembangan pengaruh positif dan menghindari pengaruh negatif perubahan negatif perubahan fisik terhadap hubungan sosial dan belajar Cara menjaga kebersihan diri 1. Mandi secara teratur dengan menggunakan air bersih dan sabun 2. Tangan harus dicuci sebelum makan, sebelum meniapkan makan&minum, sesudah BAB dan BAK 3. Kuku digunting pendek dan bersih 4. Kaki perlu dirawat dengan baik dan teratur 5. Pakaian diganti setiap habis mandi Cara menjaga kebersihan lingkungan 1. Rumah harus sehat dan terpelihara 2. Hewan peliharaan tidak berkeliaran di dalam rumah 3. Menyediakan tempat sampah tertutup dan buang sampah pada tempatnya 4. Jaga kebersihan air 5. Hindari genangan air di dalam rumah 6. Air limbah harus lancar alirannya Menjaga kesehatan pribadi 1. Menghindari merokok 2. Hindari minum-minuman keras 3. Tidak begadang yang tidak ada gunanya Belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar agar dapat mengetahui dan dapat melakukan sesuatu Peran aktif yang di perlukan dalam belajar adalah sebagai berikut : 1. Peran aktif siswa dalam proses belajar mangajar secara tatap muka • Memperhatikan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh • Mencatat hal-hal yang penting • Menjawab pertanyaan yang diajukan guru • Mengajuan pertanyaan apabila ada hal-hal yang belum di pahami • Memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya 2. Peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar secara berkelompok • Mempelajari dan memahami tugas yang diberikan guru dengan kelompok • Mengembangkan bahan yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok • Mendiskusikan tugas yang diberikan guru dalam kelompok • Aktif berperan dalam memberikan pendapat dan menarik kesimpulan • Turut bertanggungjawab akan hasil kerja kelompok 3. Peran aktif dalam proses belajar mengajar secara perorangan • Mempelajari dan memahami tugas yang diberikan oleh guru • Memanfaatkan buku sumber dari perpstakaan • Bertanya pada guru soal materi tugas yang belum di pahami • Mengkonsentrasikan diri dalam belajar • Memperbanyak latihan soal • Mengatur waktu agar kegiatan belajar tidak menjenuhkan • Membuat jadwal belajar dan latihan Cara-cara mengatasi kesulitan yang terjadi akibat rendah diri dalam pergaulan • Mengenal diri : kelebihan dan kekurangannya • Menghargai diri sendiri • Kompensasdi yaitu usaha untuk menutupi kekurangan atau kegagalannya TP : 3 Ringkasan materi Pola hubungan sosial teman sebaya dalam peran pribadinya sebgai pria dan wanita Masa remaja banyak mengalami perubahan , baik psikis maupun fisik, perubahan ini banyak menimbulkan berbagai akibat yang banyak berpengaruh dalam kehidupan remaja. Oleh karena itu kehidupan pada masa remaja ini merupakan kehidupan romantis yang dihiasi dengan suka duka. Periodiasi remaja 1. Awal remaja, sia 12-14 tahun 2. Pertengahan remaja, sia 14-16 tahun 3. Akhir remaja, usia 16-21 Perkembangan biologis remaja 1. Tinggi dan berat badan 2. Proporsi badan dan bentuk badan 3. Kulit dan rambut 4. Berfungsinya kelenjar kelamin Perkembangan psikologis 1. Makin mampu untuk mengadakan generalisasi/melihat keseluruhan saling berkaitan 2. Makin dapat melihat hubungan satu dengan yang lain 3. Mampu mengadakan pembicaraan intelek 4. Mampu berfikir secara abstrak sehingga dapat untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan Tugas perkembangan remaja 1. Menerima keadaan diri 2. Membentuk hubungan teman sebaya secara dewasa 3. Mengembangkan kemampan diri sendiri 4. Mengembangkan tanggung jawab sosial 5. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan intelektual 6. Mempersiapkan pisik dan psikis untuk berkeluarga 7. Mencapai nilai-nilai kedewasaan Contoh-contoh pola hubungan teman sebaya pada remaja sebagai pria dan wanita Macam-macam sikap sosial 1. Sikap kompetisi/persaingan 2. Sikap kompormitas 3. Sikap menonjolkan diri 4. Sikap menentang kekuasaan 5. Sikapmenerima dan menolak, sikap terakhir ini akan banyak dipenagruhi berbagai faktor yaitu • Kesan pertama • Mempunyai penampilan menarik • Partisipasi sosial • Kemampuan bicara dan cerdas • Kesehatan • Pola kepribadian Remaja dan percintaan Perkembangan percintaan remaja melalui beberapa tahap 1. Krush : Percintaan yang diwujudkan dengan saling membenci 2. Hero-worshipping : Perasaan cinta yang belum stabil 3. Boy crazy dan girl crazy : Perasaan cinta yang mulai stabil 4. Puppy love : Cinta monyet 5. Romantic love : Rasa cinta yang stabil TP : 4 Ringkasan materi Contoh-contoh tatakrama bergaul di lingkungan masyarakat Tata krama adalah • Tata berarti adat, aturan, norma, peraturan • Krama berarti sopan, santun, kelakuan, tindakan,perbuatan Jadi yang dimaksud dengan tatakrama adalah kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antara manusia setempat Dasar etika 1. Bersikap sopan dan ramah kepada siapa saja 2. Memberi perhatian kepada orang lain 3. Berusaha menjaga perasaan orang lain 4. Bersikap ingin membantu 5. Memiliki rasa toleransi yang tinggi 6. Dapat menguasai diri dan mengendalikan emosi Manfaat etika 1. Membuat kita menjadi disegani, dihormati, di senangi orang lain 2. Memudahkan hubungan baik dengan orang lain 3. Mempunyai keyakinan diri 4. Dapat memelihara suasana baik Praktek tatacara bergaul dalam kehidupan sehari-hari Ciri individu yang mempunyai tata krama 1. Memiliki rasa percaya diri ketika menghadapi masyarakat 2. Tingkahlaku dan ucapan selalu mempertimbangkan perasaan orang lain 3. Selalu bersikap ramah, sopan, menyenangkan 4. Bisa menguasai diri sendiri/tidak menyinggung orang lain 5. Selalu berusaha tidak mengecewakan Cara-cara mengatasi kesulitan dalam bergaul 1. Tata krama berbicara • Siapa yang diajak bicara • Kalimat yang di gunakan • Tempat pembicaraan di lakukan • Sikap berbicara • Tata krama berbicara 2. Tata Krama pergaulan • Siapa yang di hadapi? • Di mana pergaulan itu berlangsung • Bagaimana cara bersikap 3. Tata krama penampilan • Kesederhanaan, rapi, pantas dan bersahaja • Cara berpakaian yang di sesuaikan dengan waktu dan tempat TP : 5 Ringkasan materi Menciptakan kreativitas dalam berfikir dan bertindak Langkah menumbuhkan kreatifitas • Melatih sikap mental kreatif • Menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan kreatif • Memperluas khasanah pengetahuan Cara-cara membangun sikap optimisme Langkah membangun optimisme • Memulai hari dengan semangat baru • Pikirkan alternatif penyelesaian masalah • Dekati topik yang memberikan pandangan positif • Memotivasi diri • Hindari menyamaratakan kondisi • Hindari membesar-besarkan masalah • Pikirkan hal yang berlawanan • Hindari prediksi negatif • Fokus pada tujuan Rencana adalah sebuah cita-cita, keinginan, yang akan dicapai dalam kehidupan ini. Agar bisa berhasil perlu usaha keras, tanpa usaha keras rencana tinggal rencana saja, hanya angan-angan kosong, tak akan ada manfaatnya.Misalkan kita mengangankan/bercita-cita ingin menjadi dokter,usaha keras kita adalah belajar.Setelah lulus dari MTs masuk SMA jurusan IPA dan masuk jurusan kedokteran ketika kuliah. Demi rencana tersebut maka di perlukan konsentrasi dalam belajar. Agar dapat berkonsentrasi dalam belajar maka diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. Pemilihan waktu yang tepat 2. Tempat yang tenang dan menyenangkan 3. Sarana belajar yang memadai Belajarlah di rumah setiap hari dengan cara sebagai berikut: 1. Mengulangi apa yang di terima di sekolah 2. Mempersiapkan bahan pelajaran yang akan dipelajari besok hari 3. Menjalin hubungan baik dengan semua komponen Membangun kebiasaan berfikir positif Peraturan adalah cara membangun norma masyarakat sebagai pedoman agar manusia hidup tertib dan teratur, jika tidak manusia akan bertindak sewenang-wenang tanpa kendali, sulit diatur. Peraturan dibuat oleh lembaga dan orang yang memiliki kewenangan, sehingga berhak mengatur sesuatu misalnya: • Pemerintah mengatur negara • Orang tua mengatur keluarga • Guru mengatur siswa • Individu mengatur dirinya asal tidak bertentangan dengan peraturan yang lain Manfaat peraturan a. Berguna untuk menjauhkan masyarakat dari bahaya b. Memberi batasan sehingga kebebasan dapat diatur c. Membantu orang menentukan sikap dan mengerti akibatnya bila dilanggar d. Menentukan batasan suatu hubungan Cara menyelesaikan konflik Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui aturan-aturan yang ada dalam masyarakat dan negara, baik itu lisan atapun tertulis. Aturan yang tertulis misalnya : tata tertib, hukum negara, hukum pidana, hukum perdata, dan undang-undang. Beberapa hal yang memunculkan konflik yaitu 1. Perbedaan pendapat 2. Perbedaan kepentingan 3. Perbedaan pengetahuan 4. Perbedaan sudut pandang 5. Perbedaan asal Ditinjau dari lawan konflik, konflik bisa terjadi antara 1. Individu dengan dirinya 2. Individu dengan individu 3. Individu dengan kelompok 4. Kelompok dengan kelompok Beberapa cara menyelesaikan konflik sebagai berikut 1. Menghindar apabila masalah itu tidak penting 2. Akomodasi: hubungan harmonis dengan menempatkan pendapat orang lain jika tidak terlalu penting 3. Memaksa : kadang-kadang bisa menjadi pilihan baik dalam menyelesaikan konflik 4. Kompromi : solusi dengan membutuhkan pengorbanan pihak yang berkonflik 5. Kolaborasi : semua pihak berusaha memenuhi semua kebutuhan orang yang berkonflik TP : 6 Ringkasan materi Meniti karir setelah MTs Pekerjaan adalah segala aktifitas yang di tekuni seseorang sesuai dengan prosesnya untuk mengembangkan karirnya Hakikat pekerjaan mempunyai dua norma 1. Norma positif Yaitu apabila pekerjaan dilaksanakan dengan cara yang benar dan memiliki tujuan yang baik 2. Norma negatif Yaitu apabila pekerjaan dilaksanakan dengan cara yang tidak benar atau dengan cara yang tidak benar Macam-macam pekerjaan adalah sebagai berikut: 1. PNS , terbagi dalam 18 kementrian yaitu • Pendidikan nasional • Pertahanan • Perhubungan • Kesehatan • Keuangan • Luar negeri • Kehutanan • Perdagangan • PU • Kalautan dan perikanan • Tenaga kerja dan transmigrasi • Perindustrian • Energi dan sumber daya mineral • Dalam negeri • Hukm dan HAM • Pertanian • Sosial 2. TNI/POLRI 3. BUMN, antara lain: • Bank milik pemerintah contohnya BNI, BRI dll • PLN • Pertamina • PT KAI • Pegadaian • PT POS • Asuransi misalnya bumi putra dan jiwasraya • Telkom 4. Profesional • Dokter • Psikolog • Pengacara • Notaris • Akuntan • Konsultan dll 5. Kontrak/honorer 6. Swasta 7. Buruh • Tukang kayu/ batu • Sopir/tukang becak • Buruh pabrik • Buruh tani • Buruh panggul • Buruh bangunan 8. Wiraswasta • Menjahit • Salon • Ternak • Budidaya tanaman/ikan hias • Bengkel • Percetakan • Perdagangan • Transportasi dll Bagaimana memilih pekerjaan? 1. Sesuaikan dengan minat, bakat dan kemampuan 2. Memiliki prospek yang menjanjikan Informasi SMA Pertimbangan melanjutkan sekolah 1. Ingin melanjutkan lagi atau ingin bekerja? SMA/MA : Dipersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi SMK : Dipersiapkan untuk siap kerja 2. Prospek masa depan SMK : Pilihlah SMK yang dapat memberikan bukti atau jaminan bahwa alumnusnya di jamin masa depan karirnya atau mempunyai BKK yang dimaksudkan untuk membantu siswanya di terima di perusahaan-persahaan sesuai dengan keahlian SMA/MA : Pilihlah sekolah yang alumnusnya banyak di terima di PTN / lebih baik lagi PTN ternama 3. Biaya Harus dipertimbangkan kemampuan ekonomi orang tua jangan hanya sekedar mengejar gengsi 4. Bakat/minat Antara bakat dan minat harus sejalan Informasi SMK Berikut adalah tabel kelanjutan studi NO SEKOLAH LANJUTAN PROGRAM STUDI/KEAHLIAN 1 SMA/MA 1. IPA 2. IPS 3. BAHASA 2 SMK 1. Bisnis • Akutansi • Sekretaris • Manajemen bisnis • Boga • Busana • Kecantikan • Pariwisata • Kesejahteraan keluarga 2. Sosial • Pekerja sosial 3. Seni • Kria rupa • Kria kayu • Kriya tekstil • Kria logam • Kriya kramik • Kriya kulit • Seni musik • Seni karawitan • Seni pendalangan • Seni teater daerah 4. Teknik • Teknik logam • Bangunan • Elektronika • Listrik • Otomotiv • Mesin tenaga • Kimia • Tekstil • Instrmentasi industri • Teknik pendinginan • Geologi tambang • Grafika • Teknik perkapalan • Kontruksi pesawat terbang • Kontrksi bagian pesawat terbang • Perlengkapan pesawat terbang • Pemeliharaan pesawat terbang • Kelistrikan pesawat terbang 5. Pertanian • Teknologi hasil pertanian • Agronomi • Usaha tani terpadu • Mekanisme pertanian • Perikannan • Peternakan 6. Pariwisata • Pariwisata 7. Kesehatan • Farmasi • Keperawatan Informasi kursus keterampilan Jenis kursus yang dapat dijadikan tempat penyaluran bakat dan minat antara lain : • Elektronik • Otomotif • Salon • Las • Musik • Menjahit • Stir mobil • Budaya tanaman hias • Ternak Informasi PSB Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum memilih sekolah lanjutan 1. Kemampuan 2. Kesehatan 3. Finansial 4. Motivasi Hambatan-hambatan yang mungkin timbul 1. Kepandaian 2. Biaya/finansial 3. Kesehatan dan fisik Cara pemecahan hambatan 1. Mulai sekarang harus rajin belajar 2. Jika diperlukan bisa mengadakan belajar tambahan diluar jam pelajaran 3. Harus mempunyai target, kelak akan melanjutkan kemana setelah tamat dari mts 4. Harus punya slogan lulus dengan nilai terbaik, dengan nilai yang baik akan mudah masuk SMA/SMK manapun 5. Jangan punya prinsip yang penting lulus 6. Mempunyai sekolah lanjutan alternatif untuk menjaga jika tidak diterima di sekolah pilihan pertama TP : 7 Ringkasan materi Pentingnya belajar tepat waktu Menyiasati agar kita memiliki kebiasaan bekerja tepat waktu adalah sebagai berikut : 1. Anggaplah bahwa semua pekerjaan itu perlu 2. Ingat bahwa kesempatan tidak akan datang 2 kali 3. Selalu mejaga kepercayaan 4. Efisiensi 5. Ritme kerja 6. Mengurangi masalah 7. Ketenagaan 8. Menunjukkan 9. Priorotas utama 10. Kebanggaan Langkah-langkah belajar efektif dan efisien adalah mengetahui 1. Diri sendiri 2. Kemampuan belajar 3. Proses yang berhasil di gunakan 4. Minat Unsur –unsur belajar efektif dan efisien 1. Bangun alasan yang kuat mengapa kita harus belajar 2. Tumbuhkan minat terhadap pelajaran 3. Tekun hadir dan rajin di kelas 4. Belajar kelompok secara teratur 5. Belajar teratur dan terjadwal serta memiliki target 6. Pahamilah secara teratur dan terjadwal serta memiliki target 7. Seraplah informasi yang besar sejak dini 8. Konsentrasilah pada satu hal 9. Buatlah catan yang rapih dan menarik 10. Mengulang pelajaran Pentingnya menyusun rencana tahapan 1. Rencana jangka pendek 2. Rencana jangka menengah 3. Rencana jangka panjang Langkah meraih sukses Kunci sukses dalam kehidupan adalah sebagai berikut : 1. Sadar akan kekurangan dan kelebihan kita 2. Tidak takut untuk mencoba serta berani mengambil resiko 3. Terus memperbaiki kekurangan dan jangan cepat putus asa 4. Percaya bahwa kalau kita berusaha dengan baik dan dengan cara yang jujur, kita pasti bisa memenangkan permainan Keberhasilan dalam sukses dalam belajar didukung oleh beberapa faktor antara lain 1. Faktor internal • Fisik : Kesehatan • Pskis : Bakat, minat, sikap dan emosi 2. Faktor eksternal • Keluarga • Sekolah • Masyarakat • Teman sebaya Cara manghadapi kecemasan dalam menghadapi ujian 1. Kesiapan fisik 2. Menjaga kesehatan 3. Menyiapkan semua perlengkapan 4. Mempersiapkan tempat yang tepat 5. Datang tepat waktu 6. Berdoa Hal yang penting yang harus dilakukan sebelum belajar 1. Lengkapi segera semua catatan pelajaran di buku 2. Bereskan meja/kamar agar suasana rapi dan dapat berkontrasi 3. Buatlah jadwal dan target yang dipelajari 4. Hentikan semua kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan belajar 5. Konsentrasilah dalam belajar Wiraswasta, sebuah tantangan dan harapan Saaat ini perkerjaan sangatlah sulit dicari, kalaupun ada memerlukan berbagai persyaratan.Dalam menyingkapi kondisi ini, maka kita dapat melalakukan terobosan dengan menciptakan pekerjaan sendiri atau berwiraswasta dengan atau tanpa melibatkan orang lain, baik dibidang produksi atau pemasaran. Pekerjaan wiraswasta memerlukan sikap mental yang optimis dan kreatif. Berikut adalah langkah optimisme 1. Berfikir positif 2. Bertemanlah dengan orang-orang yang bergembira, bacalah buku yang membangkitkan semangat, arahkan fikiran untuk membantu orang lain 3. Bersiaplah menerima resiko 4. Lakukan rekreasi dan hiburan, menciptakan gairah menikmati hidup dengan tenang dan damai 5. Pelihara situasi antar sesama 6. Pupuklah jiwa religius 7. Senantiasa maju TP : 8 Ringkasan Materi Konsep dan contoh system etika dan nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi dan anggota masyarakat Motivasi untuk berprilaku sesuai dengan system etika dan nilai bagi pedoman sebagai pribadi dan masyarakat Contoh etika perkenalan 1. Pada waktu kenalan ucapkan namamu dengan jelas 2. Lakukan kontak individu dengan cara – Jabat tangan dalam waktu 3-4 detik, bisa juga dengan kedua tangan dikatupkan dan di tarik ke dada – Tersenyumlah – Tubuh sedikit dibungkukan Berikut hal yang harus diperhatikan dalam perkenalan 1. Orang yang lebih muda memperkenalkan kepada yang lebih tua 2. Soerang pria memperkenalkan kepada wanita 3. Wanita diperkenalkan kepada pria, bila pria itu adalah orang yang perlu dihormati seperti ulama 4. Hindari perkenalan di tempat ramai misalnya, lift, jalan raya dll Etika dalam percakapan 1. Ekspresi wajah : harus terlihat berseri-seri, jangan membuang wajah pada lawan bicara, tatap mata orang yang diajak bicara secara wajar, jangan memundukkan atau menengadahkan kepala. 2. Posisi badan : posisi harus berhadapan dengan orang yang menjadi lawan bicara, jangan berkacak pinggang, tangan disamping atau bersilang di depan Dilanjutkan dengan sosiodrama Cara-cara mewujudkan aspek-aspek sosial dalam system etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara serta penerapannya Berbagai upaya dapat dilakukan sebagai warga negara yang baik. Diantaranya adalah dengan berusaha sebagai berikut : 1.Berusaha kreatif dan inovatif 2. Belajar bertanggungjawab 3. Bekerja keras 4. Memanfaatkan sumber daya Norma-norma tingkah laku selaku pribadi, anggota masyarakat dan sebagi warga negara Nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga dan berpengaruh perilaku sosial orang-orang yang memiliki nilai tersebut Fungsi nilai 1. Petunjuk arah 2. Pemersatu 3. Pengawasan dengan adanya pengikat tertentu 4. Benteng perlindungan 5. Alat pendorong Macam-macam nilai sosial 1. Nilai sosial, dalam masyarakat tidak selalu sama, dimasyarakat satu baik belum tentu di masyarakat lain 2. Nilai material,Artinya segala sesuatu yang berguna bagi manusia 3. Nilai vital, artinya segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk malakukan aktivitas 4. Nilai kerohanian, artinya segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia

Konpensasi

21 Apr

 

http://www.facebook.com/notes/public-administration-community/kompensasi-dan-kinerja-pegawai-dalam-organisasi-publik/471134903443 4 maret 2012

KOMPENSASI DAN KINERJA PEGAWAI DALAM ORGANISASI

Public organizations as an organizer of the government is very serious attention to the role of human resources (employees) as one of the main pillars to achieve good governance. Good Governance can be implemented if the role and performance of human resources (government officials) can work effectively, efficiently, clean, and professional and productive. In the study of human resources management is one of the high and low effort to measure the performance of human resources (employees) are very closely related to the compensation system applied by the institution / organization where they work. There are some things that need to be considered by organizations in giving compensation. First, the compensation given should be considered fair by employees, and Secondly the amount of compensation is not much different from that expected by employees. This article tries to explain comprehensively what it is compensation. The discussion in this article will focus on efforts to explain what it is compensation, the compensation characteristics and mind set, goals and compensation functions, forms of compensation, the things that are considered compensation, the basis for calculating compensation, fairness and feasibility of compensation and compensation related to performance improvement employee.

1. Pendahuluan Pada era globalisasi dalam menjalankan organisasi pemerintahan tantangan terbesar adalah bagaimana melaksanakan keberhasilan pembangunan dengan tetap menerapkan komitmen yang tinggi berupa penerapan nilai luhur peradapan bangsa dan prinsip good governance dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan negara sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan melihat betapa pentingnya persoalan tersebut diatas maka organisasi publik sebagai penyelenggara pemerintah harus menaruh perhatian yang lebih serius terhadap peran sumber daya manusianya (pegawai) sebagai salah satu pilar utama untuk mewujudkan good governance.Usaha tersebut dapat diciptakan dari peran sumber daya manusia (aparatur pemerintah) yang efektif, efisien, bersih, dan profesional serta produktif.Untuk itulah, perlu merumuskan secara rinci dan terpadu usaha-usaha yang harus dilakukan untuk mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi dengan mengetahui faktor-faktor yang secara signifikan yang berpengaruh terfhadap produktivitas pegawai di lingkungannya. Aparatur Pemerintah dalam organisasi publik merupakan salah satu sumber daya yang ada dalam suatu organisasi disamping sumber daya yang lain, misalnya modal, material, dan mesin. Kelebihan pada peran aparatur pemerintahan sebagai sumber daya manusia adalah mampu mengelolah sumber daya lainnya, sehingga hampir setiap organisasi menyatakan bahwa “manusia adalah aset terpenting bagi organisasi”. Sebagai salah satu unsur produksi, manusia berkedudukan sama dengan unsur lainnya, seperti teknologi dan biaya. Namun, manusia memiliki ciri unik.Dia memiliki kepribadian yang aktif, banyak menggunakan intuisi, dinamis, bahkan sensitif dan sekaligus sebagai pengelola dan atau pengguna dua unsur produksi tadi, yaitu teknologi dan biaya untuk menghasilkan output tertentu. Oleh karena itu, manusia ditempatkan sebagai unsur yang sangat khusus oleh setiap organisasi, karena manusia baru akan terdorong untuk bekerja dan meningkatkan produktivitasnya jika beragam kebutuhannya mulai dari kebutuhan fisik (seperti : makan, papan, pakaian), kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, sampai dengan kebutuhan aktualisasi diri dapat terpenuhi dengan baik (Mangkuprawira , 2003). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada diri manusia terdapat kebutuhan-kebutuhan yang pada saatnya nanti membentuk tujuan-tujuan yang hendak dicapai dan dipenuhinya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan inilah yang dipandang sebagai pendorong atau penggerak bagi seseorang untuk melakukan sesuatu, termasuk melakukan pekerjaan atau beker Bagi sebagian pegawai, harapan untuk mendapatkan uang adalah satu-satunya alasan untuk bekerja, namun yang lain berpendapat bahwa uang hanyalah salah satu dari banyak kebutuhan yang terpenuhi melalui kerja. Seseorang yang bekerja akan merasa lebih dihargai oleh masyarakat di sekitarnya, dibandingkan yang tidak bekerja. Mereka akan merasa lebih dihargai lagi apabila menerima berbagai fasilitas dan simbol-simbol status lainnya dari organisasi dimana mereka bekerja. Dari uraian di atas dapat dikatakan, bahwa kesediaan pegawai untuk mencurahkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, tenaga, dan waktunya, sebenarnya mengharapkan adanya imbalan dari pihak organisasi yang dapat memuaskan kebutuhannya. Menurut Schuler dan Jackson (1999), Mondy, et al. (1999), Schermerhorn, et al. (1998), Robbins (1996), dan Siagian (1995), pada prinsipnya imbalan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu imbalan intrinsik dan imbalan ekstrinsik. Imbalan intrinsik yaitu imbalan yang diterima pegawai untuk dirinya sendiri.Biasanya imbalan ini merupakan nilai positif atau rasa puas pegawai terhadap dirinya sendiri karena telah menyelesaikan suatu tugas yang baginya cukup menantang. Teknik-teknik pemerkayaan pekerjaan, seperti pemberian peran dalam pengambilan keputusan, tanggung jawab yang lebih besar, kebebasan dan keleluasaan kerja yang lebih besar dengan tujuan untuk meningkatkan harga diri, secara intrinsik merupakan imbalan.Imbalan ekstrinsik mencakup kompensasi langsung, kompensasi tidak langsung dan imbalan bukan uang. Termasuk dalam kompensasi langsung antara lain adalah gaji pokok, upah lembur, pembayaran insentif, tunjangan, bonus; sedangkan termasuk kompensasi tidak langsung antara lain jaminan sosial, asuransi, pensiun, pesangon, cutin kerja, pelatihan dan liburan. Imbalan bukan uang adalah kepuasan yang diterima pegawai dari pekerjaan itu sendiri atau dari lingkungan psikologis dan/atau phisik dimana pegawai bekerja.Termasuk imbalan bukan uang misalnya rasa aman, atau lingkungan kerja yang nyaman, pengembangan diri, fleksibilitas karier, peluang kenaikan penghasilan, simbol status, pujian dan pengakuan. Pembahasan dalam tulisan ini akan difokuskan pada imbalan ekstrinsik yang selanjutnya disebut sebagai kompensasi dan diartikan sebagai sejumlah uang atau penghargaan yang diberikan oleh suatu organisasi kepadapegawainya, sebagai imbalan atas jasanya dalam melakukan tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Menurut Steers & Porter (1991) bahwa tinggi rendahnya kinerja pekerja berkaitan erat dengan sistem pemberian kompensasi yang diterapkan oleh lembaga/organisasi tempat mereka bekerja.Pemberian kompensasi yang tidak tepat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang. Ketidaktepatan pemberian kompensasi disebabkan oleh ; (1) pemberian jenis kompenasasi yang kurang menarik (2) pemberian penghargaan yang kurang tepat tidak membuat para pekerja merasa tertarik untuk mendapatkannya. Akibatnya para pekerja tidak memiliki keinginan meningkatkan kinerjanya untuk mendapatkan kompensasi tersebut. Dalam konteks organisasi publik aparatur pemerintah dapat bekerja dengan baik apabila kompensasi yang diberikan kepadanya dapat mendukung kebutuhan hidupnya.Di samping itu latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja pegawai juga berpengaruh terhadap perilaku pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya.Kompensasi yang diberikan dalam bentuk gaji yang diberikan kepada pegawai negeri dirasakan belum memadai untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.Oleh karena itu, pemerintah berusaha untuk menaikkan gaji pegawai sampai 30 % (Solo Pos, 22 November 2005). Berikut ini akan dibahas tentang apa itu kompensasi, karakteristik dan mind set kompensasi, tujuan dan fungsi kompensasi, bentuk kompensasi, hal-hal yang menjadi pertimbangan kompensasi, dasar perhitungan kompensasi, keadilan dan kelayakan kompensasi serta hubungan kompensasi dengan peningkatan kinerja pegawai. 2. Pengertian dan Arti Pentingnya Kompensasi Kompensasi acapkali disebut sebagai penghargaan dan dapat di definisikan sebagai setiap bentuk penghargaan yang di berikan pada pegawai sebagai balas jasa atas kontribusi yang mereka berikan kepada organisasi. Garry Dessler mendefinisikan kompensasi sebagai berikut :Employee compensastionnis all forms of pay rewards going to employee and arising from their employment. Maksudnya kompensasi dapat diartikan sebagai pemberian imbalan atas hasil kerja yang dilakukan dengan melihat prestasi kerja itu sendiri.Prestasi kerja yang dilakukan dapat dinilai dan diukur berdasarkan suatu penilaian yang telah ditentukan organisasi secara objektif. Handoko (1998) menyatakan bahwa : “Kompensasi adalah pemberian kepada pegawai dengan pembayaran finansial sebagai balas jasa untuk pekerjaan yang dilaksanakan dan sebagai motivator untuk pelaksanaan kegiatan di waktu yang akan datang. Jenis kompensasi yang diberikan pada pegawai menurut Mondy dan Neo, dapat berbentuk kompensasi finansial dan non finansial (Mondy & Neo,1993) Kompensasi finansial adalah kompensasi yang diterima pegawai dalam bentuk finansial, seperti gaji, upah, bonus dan tunjangan-tunjangan. Sedangkan kompensasi non-finansial adalah kompensasi yang diterima pegawai dalam bentuk non- financial, seperti promosi jabatan dan penghargan.Dalam penelitian Andrew F. Sikula menyatakan bahwa di bagian kepegawaian, hadiah yang bersifat uang diberikan kepada pegawai sebagai penghargaan dari pelayanan mereka.Bentuk- bentuk kompensasi seperti upah, gaji digunakan untuk mengatur pemberian pegawai antara pegawai dengan organisasi.Remunerasi adalah suatu hadiah, pembayaran atau balas jasa untuk jasa yang diberikan (Martoyo, 2000, p.125). Bagi organisasi /perusahaan, kompensasi memiliki arti penting karena kompensasi mencerminkan upaya organisasi dalam mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan pegawainya.Pengalaman menunjukkan bahwa kompensasi yang tidak memadai dapat menurunkan prestasi kerja, motivasi kerja, dan kepuasan kerja pegawai, bahkan dapat menyebabkan pegawai yang potensial keluar dari organisasi. Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) Luthans (1992:147), mengatakan: “Incentives, at the end of the motivation cycle is the incentives defined as anything that will alleviate a need and reduce a drive, thus attaining an incective will tend to restore physiological and psychological balaance and will reduce or cut off the drive. Eating food, drinking water, and obtainig friends willtend to resotore the balance and reduce the corresponding drivers, food, water, and friens are the incentives in these exemples”. Maksudnya adalah kompensasi, pada akhir daur motivasi didefinisikan sebagai segala sesuatu yang akan meringankan kebutuhan dan mengurangi gerakan, dengan demikian pencapaian kompensasi akan menuju kepada perbaikan keseimbangan fisiologis dan psikologis dan akan mengurangi atau menghilangkan gerakan. Memakan makanan, meminum air, dan memperoleh teman akan menuju kepada perbaikan keseimbangan dan mengurangi penyesuaian gerakan, makan, air, dan teman adalah kompensasi dari contoh-contoh diatas. 3. Karakteristik dan Mind Set Kompensasi Simamora (1997, pp.544-545) mengemukakan bahwa kompensasi mempunyai lima karakteristik yang harus dimiliki apabila kompensasi dikehendaki secara optimal efektif dalam mencapai tujuan-tujuannya. Karakteristik-karakteristik tersebut antara lain: 1. Arti penting Sebuah imbalan tidak akan dapat mempengaruhi apa yang dilakukan oleh orang-orang, atau bagaimana perasaan mereka jika hal tersebut tidak penting bagi mereka. Adanya rentang perbedaan yang luas diantara orang-orang jelaslah mustahil mencari imbalan apapun yang penting bagi setiap orang di dalam organisasi.Dengan demikian tantangan dalam merancang sistem imbalan adalah mencari imbalan-imbalan yang sedapat mungkin mendekati kisaran pada pegawai dan menetapkan berbagai imbalan-imbalan guna meyakinkan bahwa imbalan-imbalan yang tersedia adalah penting bagi semua tipe individu yang berbeda di dalam organisasi. 2. Fleksibilitas Jika sistem imbalan disesuaikan dengan karakteristik-karakteristik unik dari anggota individu dan jika imbalan-imbalan disediakan tergantung pada tingkat kinerja tertentu, maka imbalan-imbalan memerlukan berbagai tingkat fleksibilitas.Fleksibilitas imbalan merupakan prasyarat yang perlu untuk merancang sistem imbalan yang terkait dengan individu–individu. 3. Frekuensi Semakin sering suatu imbalan dapat diberikan, semakin besar potensi daya gunanya sebagai alat yang mempengaruhi kinerja pegawai.Oleh karena itu imbalan-imbalan yang sangat didambakan adalah imbalan-imbalan yang dapat diberikan dengan sering tanpa kehilangan arti pentingya. 4. Visibilitas Imbalan-imbalan haruslah betul-betul dapat dilihat jika dikehendaki supaya kalangan pegawai merasakan adanya hubungan antara kinerja dan imbalan-imbalan. 5. Biaya Semakin rendah biayanya, semakin diinginkan imbalan tersebut dari sudut pandang organisasi. Imbalan berbiaya tinggi tidak dapat diberikan sesering imbalan berbiaya rendah dan karena sifat mendasar biaya yang ditimbulkan, imbalan berbiaya tinggi mengurangi efektifitas dan efisiensi 4. Tujuan dan Fungsi Kompensasi Secara umum pemberian manajemen kompensasi adalah untuk membantu organisasi dalam mencapai tujuan keberhasilan strategi dan menjamin terciptanya keadilan baik keadilan internal maupun keadilan eksternal. Schuler dan Jackson (1999) menyatakan bahwa melalui kompensasi dapat digunakan untuk (a) menarik orang-orang yang potensial atau berkualitas untuk bergabung dengan organisasi.(b) mempertahankan pegawai yang baik. (c) meraih keunggulan kompetitif. (d) memotivasi pegawai dalam meningkatkan produktivitas atau mencapai tingkat kinerja yang tinggi. (e) melakukan pembayaran sesuai aturan hukum.(f) memudahkan sasaran strategis.(g) mengokohkan dan menentukan struktur. Bagaimana kemudian kaitan manajemen yang efektif dengan pemberian kompensasi, Purnomo (2003, pp.33-34) menjelaskannya sebagai berikut : 1. Memperoleh SDM yang berkualitas, kompensasi yang menjanjikan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencari kerja. Tingkat pembayar harus responsiveterhadap penawaran dan permintaan pasar kerja, karena para manajer organisasi akan berkompetisi untuk mendapatkan pegawai yang berkualitas sesuai yang diharapkan. 2. Mempertahankan pegawai yang ada, para pegawai dapat keluar jika besaran kompensasi tidak kompetitif dan akibatnya akan menimbulkan perputaran pegawai yang semakin tinggi. 3. Menjamin keadilan, manajemen kompensasi selalu berusaha agar keadilan internal dan eksternal dapat terwujud. Keadilan internal menyatakan bahwa kompensasi dikaitkan dengan nilai relatif suatu pekerjaan sehingga pekerjaan yang sama dibayar dengan besaran yang sama, sedangkan keadilan eksternal berarti bahwa kompensasi terhadap pegawai merupakan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan organisasi lain. 4. Penghargaan terhadap perilaku yang diinginkan, pembayaran hendaknya memperkuat perilaku yang diinginkan dan bertindak sebagai insentif untuk perbaikan perilaku di masa yang akan datang, rencana kompensasi efektif, menghargai kinerja, ketaatan, pengalaman, tanggung jawab dan perilaku- perilaku lainnya. 5. Mengendalikan biaya, sistem kompensasi yang rasional akan membantu organisasi dalam memperoleh dan mempertahankan para pegawai dengan biaya yang beralasan. Tanpa manajemen kompensasi yang efektif, maka bisa jadi pekerja akan dibayar di bawah atau di atas nilai standar. Berdasarkan penjelasan diatas tujuan dari pemberian kompensasi tersebut saling terkait, artinya apabila pemberian kompensasi tersebut mampu mengundang orang-orang yang potensial untuk bergabung dengan organisasdan membuat pegawai yang baik untuk tetap bertahan di organisasi, serta mampu memotivasi pegawai untuk meningkatkan kinerjanya, berarti produktivitas juga akan meningkat dan organisasi dapat menghasilkan produk dengan harga yang kompetitif, sehingga organisasi lebih dimungkinkan untuk dapat mencapai sasaran strategisnya yaitu mempertahankan kelangsungan hidup dan mengembangkan usaha. Sementara itu Hasibuan (1997, pp.137-138) mengemukakan bahwa tujuan dari kompensasi, antara lain: 1. Ikatan Kerjasama. Agar terjalin ikatan kerjasama antara majikan dengan pegawai, dimana pegawai harus mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, sedangkan pengusaha atau majikan wajib membayar kompensasi sesuai dengan perjanjian. 2. Kepuasan Kerja. Dengan balas jasa, pegawai akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, status sosial dan egoistiknya sehingga ia memperoleh kepuasan kerja dari jabatannya itu. 3. Pengadaan Efektif. Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar maka pengadaan pegawai yang berkualitas untuk organisasi itu akan lebih mudah. 4. Motivasi. Jika balas jasa yang diberikan memotivasi bawahannya cukup besar, manajemen akan lebih mudah memotivasi bawahannya. 5. Stabilitas Pegawai. Dengan program kompensasi atas prinsip adil dan layak serta eksternal konsistensi yang kompetitif, maka stabilitas pegawai lebih terjamin karena turn over relatif kecil. 6. Disiplin. Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin pegawai semakin baik, mereka akan menyadari serta mentaati peraturan yang berlaku. 7. Pengaruh Serikat Buruh Dengan program kompensasi yang baik, pengaruh serikat buruh dapat dihindarkan dan pegawai akan berkonsentrasi pada pekerjaannya. 8. Pengaruh Pemerintah Jika program kompensasi itu sesuai dengan Undang-Undang Perburuhan yang berlaku (seperti batas upah minimum), maka campur tangan pemerintah secara berlebihan dapat dihindarkan. Tujuan pengembangan kompensasi bukanlah aturan yang harus dengan kaku diikuti dan dijalankan, akan tetapi lebih kepada pedoman dalam pemberian upah/gaji kepada para pegawainya. Semakin baik pengaturan gaji dan upah suatu organisasi maka akan semakin baik pula gaji/upah tersebut diterima oleh para pegawainya.Pengaturan kompensasi haruslah memenuhi beberapa tujuan. Kadang-kadang tujuan-tujuan ini akan bertentangan satu sama lainnya. Kompensasi merupakan alat pengikat organisasi terhadap pegawainya, faktor penarik bagi calon pegawai dan faktor pendorong seseorang menjadi pegawai.Dengan demikian kompensasi mempunyai fungsi yang cukup penting di dalam memperlancar jalannya roda organisasi/ organisasi. Menurut Martoyo (1994), fungsi kompensasi adalah : a. Penggunaan SDM secara lebih efisien dan lebih efektif Kompensasi yang tinggi pada seorang pegawai mempunyai implikasi bahwa organisasi memperoleh keuntungan dan manfaat maksimal dari pegawai yang bersangkutan karena besarnya kompensasi sangat ditentukan oleh tinggi/rendahnya produktivitas kerja pegawai yang bersangkutan.Semakin banyak pegawai yang diberi kompensasi yang tinggi berarti semakin banyak pegawainya yang berprestasi tinggi. Banyaknya pegawai yang berprestasi tinggi akan mengurangi pengeluaran biaya untuk kerja-kerja yang tidak perlu (yang diakibatkan oleh kurang efisien dan efektifitasnya kerja). Dengan demikian pemberian kompensasi dapat menjadikan penggunaan SDM secara lebih efisien dan lebih efektif. b. Mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Sistem pemberian kompensasi yang baik secara langsung dapat membantu stabilitas organisasi dan secara tidak langsung ikut andil dalam mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.Sebaliknya pemberian kompensasi yang kurang baik dapat menyebabkan gejolak di kalangan pegawai akibat ketidakpuasan. Pada gilirannya gejolak ketidakpuasan ini akan menimbulkan kerawanan ekonomi. 5. Bentuk-Bentuk Kompensasi. Seperti di jelaskan diatas salah satu tujuan pokok pegawai dalam bekerja adalah untuk memperoleh kompensasi yang seringkali berupa gaji yang diterima pegawai secara periodik.Kompensasi diadakan agar pegawai dapat memenuhi seluruh atau sebagian kebutuhan dan keinginannya.Organisasi / organisasi memberikan kompensasi sebagai salah satu bentuk penghargaan atas jasa yang telah diberikan oleh pegawai melalui hasil kerja.Kompensasi tidak selalu berbentuk imbalan yang bersifat finansial/keuangan.Berikut ini adalah penjelasan tentang komponen-komponen yang terdapat pada struktur kompensasi. Menurut Dessler (1992), membagi kompensasi pegawai dalam tiga komponen, yaitu : 1. Pembayaran secara langsung (direct financial payment) dalam bentuk upah, gaji, insentif, dan bonus. 2. Pembayaran tidak langsung (indirect payment) dalam bentuk tunjangan seperti : asuransi dan liburan atas dana organisasi. 3. Ganjaran nonfinansial (nonfinancial rewards) seperti hal-hal yang tidak mudah dikuantifikasi, yaitu ganjaran-ganjaran seperti : pekerjaan yang lebih menantang, jam kerja yang lebih luwes, dan kantor yang lebih bergengsi SedangkanGomez-Mejia, et al., (1995); Schuler dan Jackson (1999); serta Luthans (1998), kompensasi dapat diklasifikasikan dalam tiga komponen utama, yaitu: Pertama, kompensasi dasar yaitu kompensasi yang jumlahnya dan waktu pembayarannya tetap, seperti upah dan gaji. Kedua, kompensasi variabel merupakan kompensasi yang jumlahnya bervariasi dan/atau waktu pembayarannya tidak pasti.Kompensasi variabel ini dirancang sebagai penghargaan pada pegawai yang berprestasi baik. Termasuk kompensasi variabel adalah pembayaran insentif pada individu maupun kelompok, gainsharing, bonus, pembagian keuntungan (profit sharing), rencana kepemilikan saham pegawai (employee stock-ownership plans) dan stock-option plans. Ketiga, merupakan komponen terakhir dari kompensasi total adalah benefit atau seringkali juga disebut indirect compensation (kompensasi tidak langsung). Termasuk dalam komponen ini adalah (1) perlindungan umum, seperti jaminan sosial, pengangguran dan cacat; (2) perlindungan pribadi dalam bentuk pensiun, tabungan, pesangon tambahan dan asuransi; (3) pembayaran saat tidak bekerja seperti pada waktu mengikuti pelatihan, cuti kerja, sakit, saat liburan, dan acara pribadi; (4) tunjangan siklus hidup dalam bentuk bantuan hukum, perawatan orang tua, perawatan anak, program kesehatan, dan konseling. Secara umum dalam buku-buku manajemen sumber daya manusia yang ditulis oleh pakar manajemen sumber daya manusia membagi kompensasi dapat dibagi atas dua kelompok besar yaitu kelompok imbalan langsung (Direct Compensation) yang terdiri dari imbalan yang diterima secara langsung, rutin atau periodik oleh pekerja atau pegawai dan imbalan tidak langsung (Indirect Compensation) yang terdiri dari imbalan yang diterima secara tidak rutin atau periodik, yang diterima nanti atau bila terjadi sesuatu pada pegawai. Menurut Bernadin dan Russell (1993 : 420) “Direct compensation is the basic wage and the salary system, plus performance-based pay. Indirect compensation is the general category for emplyee benefits-mandated protection programs, health insurance, pay for time not worked, and various other employee benefits”.Kompensasi langsung adalah upah dasar dan sistem penggajian, ditambah pembayaran yang didasarkan pada kinerja. Kompensasi tidak langsung adalah kategori yang umum berupa benefit program perlindungan bagi pegawai, asuransi kesehatan, gaji yang dibayar pada waktu tidak bekerja, dan berbagai benefit lain bagi kesejahteraan pegawai. Sementara itu Simamora (2004, p.436) memetakan bentuk kompensasi dalam dua kelompok besar yaitu : Kompensasi Keuangan 1. Kompensasi Langsung Simamora (2004, p.441) mengatakan bahwa kompensasi dapat berupa kompensasi langsung dan kompensasi tidak langsung.Kompensasi langsung dapat berupa upah, premi, dan insentif. Upah adalah suatu bentuk pemberian kompensasi yang bersifat ”finansial” dan merupakan yang utama dari bentuk kompensasi yang ada. Upah dibagi menjadi empat bagian yakni upah menurut prestasi kerja, upah menurut lama kerja, upah menurut senioritas dan upah menurut kebutuhan.Sementara insentif adalah suatu sarana motivasi yang diberikan kepada seseorang sebagai perangsang atau pendorong yang diberikan secara sengaja kepada pegawai agar mendapat semangat yang lebih besar untuk berprestasi. a. Pengertian Upah Menurut Soeprihanto (1998) dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ”Upah merupakan wujud sarana pengganti jasa yang diberikan oleh organisasi kepada pegawai dimana seluruh penerimaan resmi yang mereka terima dari organisasi dapat berbentuk uang atau jasa sehingga dapat meningkatkan produktifitas kerja”. (p. 25). Menurut Flippo (2003, p.308), upah adalah harga untuk jasa yang diberikan kepada orang lain, menurut dewan penelitian pengupahan nasional upah adalah suatu imbalan dari pemberian kerja kepada penerima kerja untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah dan akan dilakukan berfungsi sebagai kelangsungan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan produksi dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan menurut persetujuan, undang-undang serta peraturan yang dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja. b. Pengertian Insentif Menurut Moekiyat (2002, p.77), insentif sering dipergunakan untuk menunjukkan pembayaran jasa yang baik pada pekerja kasar atau administratif yang memadukan pengawas upah yang dirumuskan termasuk gaji, tradisi makan minimum dan perumahan dalam arti input, insentif, merupakan balas jasa, yang dibayar atas kesatuan hasil. Menurut Nitisemito (2002, p.249), insentif adalah penghasilan tambahan yang diberikan pada pekerja atau pegawai yang dapat memberikan prestasi yang telah diberikan. Beberapa sifat dasar dalam sistem pengupahan insentif adalah : 1. Sistem pembayaran agar diupayakan cukup sederhana, sehingga mudah dimengerti dan dihitung oleh pegawai yang bersangkutan sendiri. 2. Upah insentif yang diterima benar-benar dapat menaikkan motivasi kerja mereka, sehingga output dan efisensi kerjanya juga meningkat. 3. Pelaksanaan pengupahan insentif hendaknya cukup cepat, sehingga pegawai yang berprestasi lebih cepat pula merasakan nikmatnya berprestasi. 4. Penentuan standar kerja atau standar produksi hendaknya scermat mungkin dalam arti tidak terlalu tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh umumnya pegawai, atau tidak terlalu rendah, sehingga tidak terlalu mudah dicapai pegawai. 5. Besarnya upah normal dengan standar kerja per jam hendaknya cukup merangsang pekerja atau pegawai untuk bekerja giat. Dalam penentuan Insentif ada beberapa kesulitan yang harus dilalui, Heidjrachman dalam Susilo Martoyo (1994) mengemukakan terdapat delapan kesulitan dalam sistem pengupahan insentif yaitu: 1. Alat ukur dari berbagai prestasi pegawai belum tentu dapat berhasil dibuat secara tepat sebagaimana diharapkan, yakni wajar dan dapat diterima. 2. Alat ukur dan tujuan organisasi harus terikat erat. 3. Data tentang prestasi kerja pegawai harus cepat dan teratur terkumpul setiap saat (hari, minggu, bulan). 4. Standar yang ditetapkan haruslah mempunyai kadar/ tingkat kesulitan yang sama untuk setiap kelompok kerja. 5. Gaji/ upah total dari upah pokok plus bonus yang diterima haruslah konsisten di antara berbagai kelompok pekerja yang menerima insentif dan antara kelompok yang menerima insentif dengan yang tidak menerima insentif. 6. Standar prestasi haruslah disesuaikan secara periodic dengan adanya perubahan dalam prosedur kerja. 7. Kemungkinan tantangan dari pihak serikat pegawai harus sudah diperhitungkan secara matang. 8. Berbagai reaksi kariyawan terhadap sistem pengupahan insentif yang diterapkan juga harus diantisipasi kemungkinannya . 2. Kompensasi Tidak Langsung Kompensasi tidak langsung yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah cakupan tunjangan (benefit) yang luas.Tunjangan pegawai adalah (employee benefit) adalah pembayaran (payment) dan jasa (service) yang melindungi dan melengkapi gaji pokok, dan organisasi membayar semua atau sebagian dari tunjangan (Simamora, 2004, p.550). Tunjangan digunakan untuk membantu organisasi memenuhi satu atau lebih dari tujuan berikut (Simamora, 2004, p.550) : a. Meningkatkan moral kerja pegawai b. Memotivasi pegawai c. Meningkatkan kepuasan kerja d. Memikatkan pegawai-pegawai baru e. Mengurangi putaran pegawai f. Menjaga agar serikat pekerja tidak campur tangan g. Menggunakan kompensasi secara lebih baik h. Meningkatkan keamanan pegawai i. Mempertahankan posisi yang menguntungkan j. Meningkatakan citra organisasi di kalangan pegawai Sedangkan efek utama dari tunjangan kompensasi adalah untuk menahan para pegawai di dalam organisasi atas basis jangka panjang. Sedikit atau tidak ada bukti bahwa diversitas yang sangat besar dari program gaji tambahan, yang sering diistilahkan dengan ”tunjangan pelengkap (fringe benefits)” befungsi untuk memotivasi pegawai ke arah produktivitas yang lebih tinggi. Sedangkan program tunjangan pegawai dapat dibagi ke dalam tiga kategori yaitu : • Tunjangan yang menghasilkan penghasilan (income) serta memberikan peningkatan rasa aman bagi kalangan pegawai dengan membayar pengeluaran ekstra atau luar biasa yang dialami pegawai secara tidak terduga. Sedangkan program tunjangan yang termasuk dalam kelompok ini adalah asuransi kesehatan, asuransi jiwa, uang pensiun serta asuransi selama bekerja atau asuransi tenaga kerja • Program tunjangan yang dapat dipandang sebagai kesempatan bagi pegawai. Hal ini meliputi mulai dari pembayaran biaya kuliah sampai liburan, hari besar, cuti tahunan, dan cuti hamil bagi pegawai perempuan. Tunjangan ini berkaitan dengan kualitas kehidupan pegawai yang terpisah dari pekerjaan. • Tunjangan yang diberikan untuk menjamin kenyamanan pegawai selama bekerja di organisasi. Yang temasuk dalam tunjangan ini adalah tersedianya kendaraan kantor, ruang kantor yang nyaman bagi pegawai, dan adanya tempat parkir yang aman. Kompensasi Non Keuangan Definisi kompensasi nonfinansial menurut Simamora (2001, p.541), kompensasi non finansial terdiri dari kepuasan yang diperoleh seseorang dari pekerjaan itu sendiri, atau dari lingkungan psikologis, dan atau fisik dimana orang itu bekerja. Kompensasi non finansial dibagi menjadi dua , yaitu: 1. Pekerjaan adalah segala aktifitas yang dilakukan oleh pegawai dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas yang telah dibebankan padanya. Pegawai akan menerima kompensasi non keuangan berupa kepuasan kerja dengan melakukan pekerjaan yang dirasa tepat bagi pegawai, antara lain : a. Tugas-tugas yang menarik b. Tantangan bagi sebagian pegawai yang merasakan pekerjaan yang kurang menantang/ monoton akan dapat memacu ketidakpuasan pegawai atau bahkan membuat pegawai tersebut keluar dari organisasinya demi mencari pekerjaan yang dianggap lebih menantang. c. Tanggung Jawab yaitu suatu bentuk kepercayaan yang diberikan oleh organisasi terhadap pegawainya untuk menyelesaikan pekerjaan. d. Pengakuan yaitu suatu bentuk sikap yang diberikan organisasi kepada pegawai atas keberadaan dan kedudukannya ditengah-tengah organisasi sebagai salah satu anggota yang berkecimpung dalam organisasi. e. Rasa Pencapaian yaitu perasaan pegawai atas pencapaian dalam keberhasilannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan padanya dengan baik. 2. Lingkungan pekerjaan adalah kondisi lingkungan dalam suatu organisasi dimana para pegawai melaksanakan tugas dan pekerjaannya sehari-hari. Adapun lingkungan pekerjaan terdiri atas : a. Kebijakan-kebijakan yang sehat maksudnya adalah kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh manajemen hendaknya harus adil tidak hanya mendukung organisasi saja sehingga organisasi terkesan sewenang- wenang dalam menentukan kebijakan bagi pegawai, selain itu kebijakan- kebijakan tersebut haruslah mampu mendukung pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan serta juga berfungsi sebagai sarana untuk membela kepentingan pegawai dengan demikian kepuasan kerja akan diperoleh pegawai. b. Supervisi yang kompeten maksudnya adalah pengawas yang bijaksana dan cakap serta mampu memberikan petunjuk-petunjuk, dukungan dan tanggung jawab yang nyata dalam proses penyelesaian pekerjaan yang rumit dan kompleks, selain itu pengawas juga memberikan kesempatan bagi pegawainya untuk ikut berpartisipasi dan dalam segala hal yang berkaitan dengan penyelesaian pekerjaannya sehingga secara otomatis kemampuan pegawai juga ikut berkembang sehingga tercipta kepuasan kerja bagi pegawai. c. Teman kerja yang menyenangkan akan meningkatkan semangat kerja pegawai karena dengan keeratan hubungan dengan teman kerja yang menyenangkan akan membantu proses penyelesaian pekerjaan sehingga pekerjaan akan selesai dengan mudah dan cepat, selain itu dengan keeratan hubungan dengan rekan kerja mampu mengurangi ketegangan, kecemasan dalam kelompok, sehingga pegawai akan lebih mampu menyesuaikan diri dengan tekanan pengaruh pekerjaan. d. Lingkungan kerja yang nyaman maksudnya adalah tempat kerja seseorang pegawai yang terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan nonfisik yang dapat mempengaruhi pegawai dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Menurut pendapat Handoko (1994, p.192), bahwa kegiatan-kegiatan pengaturan lingkungan kerja juga mencakup pengendalian suara bising, pengaturan penerangan tempat kerja, pengaturan kelembaban dan suhu udara, pelayanan kebutuhan pegawai, pengaturan penggunaan warna, pemeliharaan kebersihan lingkungan, dan penyediaan berbagai fasilitas yang dibutuhkan pegawai, seperti kamar mandi, ruang ganti pakaian, dan sebagainya. Menurut Dessler (1997, p.349), kompensasi non finansial atau ganjaran non finansial merupakan hal-hal yang tidak mudah dikuantifikasi, yaitu ganjaran-ganjaran seperti pekerjaan yang lebih menantang, jam kerja yang lebih luwes/ fleksibel, dan kantor yang lebih bergengsi. 6. Faktor-faktor Yang Menjadi Pertimbangan Kompensasi. Teori kompensasi belum pernah mampu menyediakan suatu jawaban yang memuaskan atas jasa yang dilakukan bagi individu bagi pekerjaan yang berharga.Sementara itu tidak ada pendekatan secara ilmiah yang tersedia, sejumlah faktor secara relevan dan yang khas digunakan untuk menentukan upah individu.Namun pada dasarnya sistem kompensasi suatu organisasi harus direncanakan dan di buat, hal ini diperlukan sebagai daya dukung para pegawai dalam pencapaian tujuan organisasi. Hal yang dapat dijadikan kebijakan dalam penetapan sistem kompensasi menurut Mondy, Noe dan Premeaux (8th ed: 315} ada empat faktor, yaitu : faktor organisasi (The Organization), faktor pegawai (The Employee), faktor pasaran tenaga kerja (The Labor Market) dan jenis pekerjaan itu sendiri (The Job). • Dari faktor organisasi (the organization), penetapan kompensasi harus di lihat dari sisi kebijakan manajemen, keadaan politik yang mempengaruhi organisasi dan kemampuan organisasi dalam melakukan pembayaran. • Dari faktor pegawai (the employee) , penetapan kompensasi ini harus menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan kinerja pegawai itu, pembayaran berdasarkan merit, variable gaji, pembayaran yang didasarkan pada keterampilan pegawai, pembayaran berdasarkan pada kompetensi, Senioritas pegawai, pengalaman kerja, hubungan keanggotaan dalam organisasi, potensinya, pengaruh politik dan yang terakhir adalah keberuntungan. • Dari faktor pasaran tenaga kerja (the labor market), penetapan kompensasi juga harus melihat kompensasi yang berlaku secara umum di pasar tenaga keja, untuk itu organisasi dalam menetapkan system kompensasi ini haruslah melakukan survey pada organisasi lain, kelayakan, biaya hidup, organisasi buruh, tingkat social dan perundang-undangan ekonomi yang berlaku. • Sedangkan dari faktor pekerjaan (the job), maka penetapan system kompensasi harus di dasari dengan, analisa jabatan (job analysis), uraian tugas pekerjaan (job description), evaluasi jabatan (job evaluation) dan terakhir penawaran secara kolektip (collective bargaining). Mangkuprawira (2003) menyampaikan ada beberapa prinsip yang diterapkan dalam manajemen kompensasi, antara lain : • Terdapatnya rasa keadilan dan pemerataan pendapatan dalam organisasi. • Setiap pekerjaan dinilai melalui proses evaluasi pekerjaan dan kinerja atau performance. • Mempertimbangkan keuangan organisasi. • Nilai rupiah dalam sistem penggajian mampu bersaing dengan harga pasar tenaga kerja sejenis. • Sistem penggajian yang baru dapat membedakan orang yang berprestasi baik dan yang tidak dalam golongan yang sama. • Sistem penggajian yang baru harus dikaitkan dengan penilaian kinerja pegawai. Pada umumnya pegawai akan menerima perbedaan kompensasi yang berdasarkan tanggungjawab, kemampuan, pengetahuan, produktivitas, “on – job” atau kegiatan kegiatan manajerial. Sedangkan pembayaran yang berdasarkan ras, kelompok etnis, dan jenis kelamin, dilarang oleh hukum dan kebijaksanaan umum. 7. Dasar Perhitungan Kompensasi Dasar perhitungan kompensasi dipakai untuk mendapatkan sistem pembayaran kompensasi yang adil, dan menjadikan organisasi menarik, mampu bertahan hidup dan mampu memotivasi pegawainya serta dapat melakukan penghematan biaya. Menurut Gomez-Mejia, et al. (1995), dasar perhitungan kompensasi dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu menggunakan pendekatan pekerjaan atau jabatan (job-based approaches) dan menggunakan pendekatan keterampilan (skill-based approaches). Kompensasi berdasarkan jabatan atau pekerjaan Ada tiga komponen kunci untuk mengembangkan rencana kompensasi berdasarkan jabatan. Pertama, mewujudkan keadilan internal melalui evaluasi jabatan; kedua, mewujudkan keadilan eksternal melalui survei pasar; dan ketiga, mencapai keadilan individu (Gomez-Mejia, et al., 1995). Metode evaluasi jabatan memusatkan diri pada jabatan sebagai unit kepentingan. Beberapa metode mengevaluasi jabatan secara keseluruhan, sedangkan beberapa lainnya menggunakan faktor-faktor yang dapat dikompensasi. Metode evaluasi jabatan yang sudah sangat populer dipakai untuk mengevaluasi posisi eksekutif, manajer dan professional maupun posisi teknik, administrasi dan manufaktur adalah metode Hay Guide Chart-Profile. Secara operasional, sistem ini mengandalkan tiga faktor utama yang bisa dikompensasi, yaitu pemecahan masalah (problem solving), kecakapan (know how) dan pertanggungjawaban (accountability). Menurut metode ini, faktor-faktor yang penting mempunyai nilai tinggi, sedangkan faktor-faktor yang kurang penting mempunyai nilai yang lebih rendah. Evaluasi jabatan ini hanya untuk internal organisasi bukan untuk menghitung tingkat upah di pasar atau organisasi lain. Selain itu evaluasi jabatan ini hanya fokus pada nilai tugas masing-masing jabatan, bukan pada orang yang melaksanakannya (Schuler dan Jackson, 1999; Gomez-Mejia et al., 1995). Kompensasi berdasarkan keterampilan Para akademisi dan konsultan menegaskan bahwa pembayaran kompensasi berdasarkan jabatan dapat dengan mudah disalahgunakan dan sudah tidak cocok lagi dengan kebutuhan pada dewasa ini. Menurut Bridges (1994), Murlis dan Fitt (1991) dalam Schuler dan Jackson (1999), pendekatan-pendekatan kompensasi berdasarkan jabatan yang konvensional: (1) mendukung organisasi hierarkis kaku yang menekan motivasi serta kreativitas pegawai, (2) beranggapan bahwa orang adalah komoditas yang dapat dibentuk untuk “cocok dengan” peran-peran yang telah ditentukan, (3) tidak cocok untuk organisasi yang lebih ramping saat ini, dimana tim-tim kecil dan fleksibel yang terdiri dari orang-orang dengan aneka keterampilan secara ekonomis lebih masuk akal daripada sejumlah individu dengan satu keterampilan, (4) tidak cocok dalam sektor jasa, dimana keberhasilan masa depan terletak pada pengetahuan yang dimiliki pekerja ketimbang jabatan yang diberikan kepada mereka. Menurut Lawler (1983), alasan digunakannya keterampilan sebagai dasar perhitungan kompensasi adalah karena (a) pegawai yang berkemampuan tinggi atau yang mampu mengembangkan keterampilannya dapat menerima kompensasi yang lebih tinggi, walaupun jabatannya tetap. (b) nilai individu akan lebih tersorot daripada nilai pekerjaan yang dilakukannya. Pegawai yang memiliki kemampuan dan keterampilan tentu akan tertarik pada organisasi yang memberikan kompensasi berdasarkan kemampuan dan keterampilan, sebab pada umumnya pegawai yang mempunyai keterampilan lebih, mengharapkan kompensasi yang lebih banyak pula.Menurut Dessler (2000) terdapat empat perbedaan antara kompensasi berdasarkan keterampilan (skill-based pay) dan kompensasi berdasarkan pekerjaan atau jabatan (jobbased pay) yaitu: tes kompetensi, efek perubahan jabatan, senioritas, dan peluang promosi. 1. Keadilan dan Kelayakan dalam Pemberian Kompensasi Selain hal-hal diatas, dalam pemberian kompensasi perlu dipertimbangkan unsur keadilan dan kelayakan. 1. Keadilan Dalam pemberian kompensasi apakah itu berupa upah, gaji, bonus atau bentuk-bentuk lainnya, penting sekali diperhatikan masalah keadilan terebut. Keadilan bukan berarti sama rasa sama rata tanpa pandang bulu, tetapi harus terkait adanya hubungan antara pengorbanan (input) dengan output. Semakin tinggi pengorbanan, semakin tinggi penghasilan yang diharapkan, sehingga oleh karenanya yang harus dinilai adalah pengorbanan (input) yang diperlukan suatu jabatan.Input dalam satu jabatan ditujukan dari persyaratan-persyaratan (spesifikasi) yang harus dipenuhi oleh orang yang memangku jabatan tersebut. Oleh karena itu semakin tinggi pula penghasilan (output) yang diharapkan. Output ini ditunjukkan dari upah yang diterima para pegawai yang bersangkutan, dimana didalamnya tercantum rasa keadilan yang sangat diperhatikan oleh setiap pegawai penerima kompensasi tersebut.Bila tuntutan keadilan seperti seperti ini telah terpenuhi ini berarti organisasi telah memiliki internal consistency dalam sistem kompensasinya. 2. Kelayakan Di samping masalah keadilan dalam pemberian kompensasi perlu diperhatikan masalah kelayakan.Pengertian layak ini berkaitan dengan standar hidup seperti kebutuhan pokok minuman atau upah minimum sesuai dengan ketentuan pemerintah. Kelayakan juga dilihat dengan cara membandingkan pengupahan di organisasi lain. Bila kelayakan ini sudah tercapai, maka organisasi sudah mencapai apa yang disebut external consistency (Konsistensi Eksternal). Apabila upaya di dalam organisasi yang bersangkutan lebih rendah dari organisasi-organisasi lain, maka hal ini dapat mengakibatkan kesulitan bagi organisasi untuk memperoleh tenaga kerja. Oleh karena itu untuk memenuhi kedua konsistensi tersebut (internal dan eksternal) perlu digunakan suatu evaluasi pekerjaan. 2. Hubungan Kompensasi dengan Peningkatan Kinerja Pegawai Berbicara tentang kebijakan pemberian kompensasi, umumnya hanya tertuju pada jumlah yang dibayarkan kepada pegawai.Apabila jumlah kompensasi telah cukup memadai, berarti sudah cukup layak dan baik.Permasalahannya sebenarnya tidak sesederhana itu, sebab cukup memadai menurut kacamata organisasi, belum tentu dirasakan cukup oleh pegawai yang bersangkutan.Menurut Nitisemito (1996) pengaruh kompensasi terhadap pegawai sangatlah besar.Semangat kerja yang tinggi, keresahan dan loyalitas pegawai banyak dipengaruhi oleh besarnya kompensasi.Pada umumnya, pemogokan kerja yang sering terjadi di negara kita ini, sebagian besar disebabkan karena masalah upah. Pembayaran kompensasi berdasarkan keterampilan, sebenarnya dalam kondisi tertentu dapat meningkatkan kinerja pegawai, disamping dapat pula membuat pegawai frustasi. Bagi pegawai yang memang memiliki keterampilan yang dapat diandalkan, maka pemberian kompensasi berdasarkan keterampilan akan dapat meningkatkan kinerja, sebaliknya bagi pegawai yang tidak memiliki keterampilan dan tidak mempunyai kemampuan untuk meningkatkan keterampilannya, maka sistem pemberian kompensasi ini dapat mengakibatkan frustasi. Dikaitkan dengan teori pengharapan, maka pemberian kompensasi berdasarkan keterampilan akan memotivasi pegawai, sebab dalam teori pengharapan dikatakan bahwa seorang pegawai akan termotivasi untuk mengerahkan usahanya dengan lebih baik lagi apabila pegawai merasa yakin, bahwa usahanya akan menghasilkan penilaian prestasi yang baik. Penilaian yang baik akan diwujudkan dengan penghargaan dari organisasi seperti pemberian bonus, peningkatan gaji atau promosi dan penghargaan itu dapat memuaskan pegawai. Jadi dalam teori pengharapan terdapat tiga hubungan, yaitu hubungan antara usaha dengan prestasi, hubungan prestasi dengan penghargaan organisasi dan hubungan antara penghargaan organisasi dengan tujuan pegawai. Apabila penghargaan yang diberikan oleh organisasi sesuai dengan pengharapan dan dapat memuaskan kebutuhannya, maka pegawai tersebut akan termotivasi untuk lebih meningkatkan usaha/kinerjanya, sebaliknya apabila usaha yang dilakukan tidak mendapat penghargaan sesuai dengan harapan pegawai, maka pegawai yang bersangkutan akan merasa frustasi, sehingga tidak termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya. Menurut Robbins (2001), kompensasi berdasarkan keterampilan adalah sesuai dengan teori ERG (Existence, Relatedness and Growth theory) dari Alderfer, sebab sistem pembayaran ini dapat mendorong pegawai untuk belajar, meningkatkan keterampilannya dan memelihara keterampilannya. Hal ini dapat diartikan, bahwa bagi pegawai yang ingin memenuhi kebutuhannya dengan lebih baik, maka pemberian kompensasi berdasarkan keterampilan akan menjadi pendorong baginya untuk lebih meningkatkan keterampilan, agar memperoleh kompensasi yang lebih tinggi, sehingga kebutuhannya dapat terpenuhi. Dikaitkan dengan teori kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement theory), pemberian kompensasi berdasarkan keterampilan juga sesuai, sebab sistem pembayaran kompensasi ini dapat akan mendorong pegawai untuk bekerja lebih efisien, mau mempelajari keterampilan yang baru atau berusaha meningkatkan keterampilannya, sehingga siap menghadapi tantangan baru. Hal ini cukup jelas, sebab mempelajari keterampilan baru merupakan tantangan tersendiri bagi seseorang yang ingin maju. Apabila tantangan ini dapat dilampaui, maka akan timbul rasa bangga bagi yang bersangkutan, kebanggaan bukan hanya karena prestasi yang meningkat, namun karena penghargaan yang diterima juga meningkat dan memuaskan bagi dirinya. Dalam kaitannya dengan teori penguatan (reinforcement theory), pembayaran kompensasi berdasarkan keterampilan akan mendorong pegawai untuk belajar secara kontinyu, mengembangkan keterampilannya, dan dapat bekerja sama dengan anggota lain dalam organisasi. Semakin berkembang keterampilan yang dimiliki, maka akan semakin besar pula kompensasi yang akan diterimanya. Sistem pembayaran kompensasi berdasarkan keterampilan juga sesuai dengan teori keadilan (equity theory) yang membandingkan antara prestasi yang dicapai dengan kompensasi atau penghargaan yang diberikan oleh organisasi. Apabila prestasi pegawai sebanding dengan penghargaan yang diberikan oleh organisasi, maka motivasi pegawai untuk meningkatkan kinerjanya dapat dioptimalkan. Jadi dengan kata lain, bila kompensasi yang diberikan sesuai dengan keadilan dan harapan pegawai, maka pegawai akan merasa puas dan termotivasi untuk terus meningkatkan kinerjanya. Pada kenyataannya, sebagian besar organisasi masih kurang menghargai keterampilan dan kemampuan seseorang, sehingga sering dijumpai pemberian kompensasi didasarkan pada senioritas bukan pada kemampuan seorang pegawai untuk mengembangkan keterampilan yang dimilikinya.Kondisi ini dapat mengakibatkan pegawai menjadi apatis dan tidak termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya, sebab peningkatan keterampilan tidak diimbangi dengan peningkatan kompensasi. Sebaliknya, kompensasi akan naik dengan sendirinya tanpa perlu meningkatkan keterampilan. Hanya waktu yang dapat meningkatkan besarnya kompensasi, sehingga apabila kompensasi ditingkatkan, pegawai hanya termotivasi untuk sementara waktu, setelah itu kinerjanya akan kembali seperti semula. Hal ini merupakan salah satu sebab yang mengakibatkan organisasi sulit untuk meningkatkan produktivitas maupun kualitas produknya, sehingga sulit untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga yang kompetitif. Agar pegawai termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya, sebaiknya organisasi menggunakan keterampilan sebagai dasar perhitungan kompensasi.Kepada pegawai juga perlu dijelaskan bahwa kompensasi yang diberikan, dihitung berdasarkan keterampilan dan kemampuan mereka dalam mengembangkan keterampilannya untuk menunjang penyelesaian tugas yang dibebankan kepadanya. Sebagaimana dicontohkan di depan, apabila pegawai tata usaha mampu mengetik menggunakan mesin ketik manual maupun elektrik dengan hasil yang memuaskan, seharusnya dibayar lebih tinggi daripada yang hanya mampu menggunakan mesin ketik manual saja. Demikian pula bagi yang telah mampu mengoperasikan komputer dengan terampil, seharusnya dinilai lebih daripada yang lain. Kesimpulan Dalam Organisasi manusia ditempatkan sebagai unsur yang sangat khusus, karena manusia baru akan terdorong untuk bekerja dan meningkatkan produktivitasnya jika beragam kebutuhannya mulai dari kebutuhan fisik (seperti : makan, papan, pakaian), kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, sampai dengan kebutuhan aktualisasi diri dapat terpenuhi dengan baik. Ada beberapa hal yang perlu diingat oleh organisasi dalam pemberian kompensasi.Pertama, kompensasi yang diberikan harus dapat dirasakan adil oleh pegawai dan kedua, besarnya kompensasi tidak jauh berbeda dengan yang diharapkan oleh pegawai. Apabila dua hal ini dapat dipenuhi, maka pegawai akan merasa puas. Kepuasan akan memicu pegawai untuk terus meningkatkan kinerjanya, sehingga tujuan organisasi maupun kebutuhan pegawai akan tercapai secara bersama. Untuk mencapai keadilan sebagaimana diharapkan oleh pegawainya, maka organisasi harus mempertimbangkan kondisi eksternal, kondisi internal dan kondisi individu.Kompensasi harus diusahakan sebanding dengan kondisi di luar organisasi.Kompensasi juga harus memperhatikan kondisi individu, sehingga tidak memberikan kompensasi dengan pertimbangan subyektif dan diskriminatif. Untuk memenuhi harapan pegawai, hendaknya kompensasi yang diberikan oleh organisasi dapat memuaskan berbagai kebutuhan pegawai Kompensasi yang diberikan berdasarkan pekerjaan atau senioritas tanpa memperhatikan kemampuan dan keterampilan seringkali membuat pegawai yang mempunyai keterampilan dan kinerja baik menjadi frustasi dan meninggalkan organisasi, sebab kompensasi yang diberikan oleh organisasi dirasakan tidak adil dan tidak sesuai dengan harapan mereka. Sebaliknya kompensasi ini akan membuat pegawai yang tidak berprestasi menjadi benalu bagiorganisasi. Kompensasi yang diberikan berdasarkan kinerja dan keterampilan pegawai nampaknya dapat memuaskan pegawai, sehingga diharapkan pegawai termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan mengembangkan keterampilannya. Hal ini disebabkan karena pegawai yang selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja dan keterampilannya akan mendapatkan kompensasi yang semakin besar. REFRENSI : Dessler, G. 2000. Human Resource Management.8th edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Dessler, Gary. 1992. Manajemen Personalia. diterjemahkan oleh : Agus Dharma, Edisi Ketiga. Erlangga. Jakarta Flippo. Edwin B. 1995. Manajemen Personalia.Diterjemahkan oleh : Mohammad Masud. Edisi Keenam. Jilid Kedua. Erlangga. Jakarta. Gomez-Mejia, L.R., D.B. Balkin, dan R.L. Cardy. 1995. Managing Human Resources. Englewood Cliffs: Prentice-Hall, Inc. Handoko, T. Hani. (2000). Manajemen personalia dan sumber daya manusia. Yogyakarta: BPFE Hasibuan, Malayu S.P. (1997). Manajemen sumber daya manusia. , Jakarta: Gunung Agung Hadipurnomo. 1992. Tata Personalia. Cetakan Kelima. Jambatan. Jakarta Hariandja, M.T.E. (2002). Manajemen SDM: Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian dan Peningkatan Produktivitas Pegawai.PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Jakarta. Lawler, E.E. 1983. Sistem Imbalan dan Pengembangan Organisasi. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Luthans, F. 1998. Organizational Behavior.8th edition. New York: The McGraw-Hill Co., Inc. Mangkuprawira, Sjafri. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. Cetakan Kedua. Ghalia Indonesia. Jakarta. Mangkunegara, A.P. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Cetakan Pertama, Rosda, Bandung Moekijat. 1995. Manajemen Kepegawaian. Bumi Aksara. Jakarta. Mondy, R.W., R.M. Noe, dan S.R. Premeaux. 1999. Human Resource Management. 7th edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Nitisemito, A.S. 1996. 45 Wawasan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Ranupandoyo, Heidirachman. 1994. Manajemen Personalia. Edisi Ketiga. Badan Penerbit Fakultas Ekonomi. Yogyakarta. Ruky, Achmad S. 2002. Sistem Manajemen Kinerja. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Robbins, S.P. 1996. Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Jakarta: Prenhallindo. Schuler, R.S., dan S.E. Jackson. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia: Menghadapi Abad Ke-21. Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Simamora, Henry, 2004, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bina Aksara, Jakarta Sedarmayanti.(2001). Sumber daya manusia dan produktivitas kerja. Bandung: C.V Mandar Maju Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 1 No. 2, Oktober 2003 Jurnal Ilmiah “Manajemen & Bisnis” Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Vol. 02 No. 02 Oktober 2002 Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 4, No. 2, September 2002: 108 – 122 Jurnal Pendidikan Penabur – No.04 / Th.IV/ Juli 2005 Manajemen sumber daya manusia, disingkat MSDM, adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan efektif serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tercapai tujuan (goal) bersama perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal.[1] MSDM didasari pada suatu konsep bahwa setiap karyawan adalah manusia – bukan mesin – dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis.[rujukan?]Kajian MSDM menggabungkan beberapa bidang ilmu seperti psikologi, sosiologi, dll. Unsur MSDM adalah manusia.[2] Manajemen sumber daya manusia juga menyangkut desain dan implementasi sistem perencanaan, penyusunan karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karier, evaluasi kinerja, kompensasi karyawan dan hubungan ketenagakerjaan yang baik.[rujukan?]Manajemen sumber daya manusia melibatkan semua keputusan dan praktik manajemen yang memengaruhi secara langsung sumber daya manusianya.[3] Daftar isi [sembunyikan] • 1Peran, Fungsi, Tugas dan Tanggung Jawab Manajemen Sumber Daya Manusia o 1.1Perencanaan o 1.2Rekrutmen & Seleksi o 1.3Pelatihan, Pengembangan & Penilaian Prestasi o 1.4Promosi, Pemindahan dan Pemisahan • 2Catatan kaki • 3Rujukan • 4Pranala luar [sunting]Peran, Fungsi, Tugas dan Tanggung Jawab Manajemen Sumber Daya Manusia Peranan karyawan bagi sebuah perusahan berupa keterlibatan mereka dalam sebuah perencanaan, sistem, proses dan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Berbicara mengenai peranan tenaga kerja, harus dibedakan antara mereka yang memiliki pekerjaan dan mereka yang bekerja. R.Kyosaki menyebutnya dalam empat tingkatan (quadrant) yaitu self employed, employe, pebisnis dan investor. Karyawan adalah mereka yang bekerja pada orang lain dengan menjual jasa mereka; waktu, tenaga dan pikiran untuk perusahan dan mendapat kopensasi dari perusahan tersebut. Namun berbicara mengenai tenaga kerja ini masih umum.Karena ada yang tidak bekerja, yang bekerja (pada orang lain/negara/swasta) dan mereka yang bekerja sendiri. Dalam MSDM yang ingin ditelah adalah karyawan (mereka yang menjual jasa-pikiran, tenaga dan waktu- kepada orang lain atau perusahaan. Disini terjadi sebuah ikatan atau kontrak mengenai hak dan kewajiban masing-masing. [sunting]Perencanaan Melakukan persiapan dan seleksi tenaga kerja (Preparation and selection) Persiapan. Dalam proses persiapan dilakukan perencanaan kebutuhan akan sumber daya manusia dengan menentukan berbagai pekerjaan yang mungkin timbul. Yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perkiraan/forecastakan pekerjaan yang lowong, jumlahnya, waktu, dan lain sebagainya. Ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan persiapan, yaitu faktor internal seperti jumlah kebutuhan karyawan baru, struktur organisasi, departemen yang ada, dan lain-lain. Faktor eksternal seperti hukum ketenagakerjaan, kondisi pasa tenaga kerja, dan lain sebagainya.[rujukan?] [sunting]Rekrutmen & Seleksi 1. Rekrutmen tenaga kerja/Recruitment. Rekrutmen adalah suatu proses untuk mencari calon atau kandidat pegawai, karyawan, buruh, manajer, atau tenaga kerja baru untuk memenuhi kebutuhan sdm oraganisasi atau perusahaan. Dalam tahapan ini diperlukan analisis jabatan yang ada untuk membuat deskripsi pekerjaan/job description dan juga spesifikasi pekerjaan/job specification.[rujukan?] 2. Seleksi tenaga kerja/Selection. Seleksi tenaga kerja adalah suatu proses menemukan tenaga kerja yang tepat dari sekian banyak kandidat atau calon yang ada. Tahap awal yang perlu dilakukan setelah menerima berkas lamaran adalah melihat daftar riwayat hidup/cv/curriculum vittae milik pelamar. Kemudian dari cv pelamar dilakukan penyortiran antara pelamar yang akan dipanggil dengan yang gagal memenuhi standar suatu pekerjaan. Lalu berikutnya adalah memanggil kandidat terpilih untuk dilakukan ujian test tertulis, wawancara kerja/interview dan proses seleksi lainnya. Menurut Cut Zurnali (2010), sebuah organisasi atau perusahaan harus dapat mencari dan menarik calon karyawan yang memiliki kemampuan bekerja dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, yang biasa disebut sebagai pekerja pengetahuan (knowledge worker). Mengutip pendapat Drucker (2002:135): Kontribusi manajemen yang paling penting yang dibutuhkan pada abad ke-21 ini adalah meningkatkan produktivitas kerja pengetahuan (knowledge work) sekaligus meningkatkan produktivitas pekerja pengetahuan (knowledge worker). Produktivitas kerja pengetahuan (knowledge work) berarti perusahaan meningkatkan cakupan kerjanya pada pemanfaatan teknologi yang berbasis pengetahuan, termasuk didalamnya memanfaatkan semaksimal mungkin penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam meningkatkan profitabilitas sekaligus memperkuat daya saing (competiveness) perusahaan.Kerja pengetahuan adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap perusahaan atau setiap organisasi, baik organisasi laba (perusahaa atau korporasi) maupun organisasi nirlaba (seperti kantor-kantor pemerintah atau NGO).Sedangkan peningkatan produktivitas pekerja pengetahuan (knowledge worker) bermakna bagaimana memanfaatkan semaksimal mungkin pengetahuan dan kemampuan para pekerja pengetahuan dalam menjalankan setiap pekerjaan atau tugas yang diberikan perusahaan kepada mereka. Cut Zurnali (2010) mendefinisikan pekerja pengetahuan atau knowledge worker (K-Worker) sebagai karyawan sebuah organisasi yang bertanggung jawab untuk mendesain, membangun, menguji, memelihara, dan mengoperasikan infrastuktur dan aplikasi keorganisasian dengan sentuhan teknologi informasi dan komunikasi sehingga dapat mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien sekaligus dapat memberikan kepuasaan bagi para stake holder organisasi tersebut. Lebih lanjut dipaparkan bahwa kekhasan pekerja pengetahuan terletak pada adanya otonomi untuk menikmati kebebasan dalam pekerjaan, bergerak, dan melawan perintah dan budaya pengendalian.Dalam perkembangannya, K-worker cenderung memiliki kemampuan mengoperasikan perusahaan sehingga mereka dapat memiliki satu atau lebih perusahaan yang dapat berupa perusahaan komersial ataupun perusahaan non profit.Beragam perusahaan pengetahuan dapat memilih untuk membantu menempatkan bidang pengetahuan dan teknologi yang biasanya ditujukan untuk pengembangan kemampuan dalam industri utama seperti industri telekomunikasi, pendidikan dan konsultan, pertambangan, otomotif, semi konduktor, dan bioteknologi. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Cut Zurnali tersebut, dapatlah ditarik sebuah kesimpulan bahwa pada era sekarang ini sudah saatnya sebuah departemen SDM merekrut karyawan-karyawan dengan kualifikasi knowledge worker agar sebuah organisasi atau perusahaan dapat mencapai keunggulan kompetitif dalam jangka panjang, sekaligus memberikan keuntungan kepada para stake holder organisasi tersebut, tidak hanya pada saat ini tapi juga di masa depan. [sunting]Pelatihan, Pengembangan & Penilaian Prestasi 1. Pengembangan dan evaluasi karyawan (Development and evaluation). Tenaga kerja yang bekerja pada organisasi atau perusahaan harus menguasai pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Untuk itu diperlukan suatu pembekalan agar tenaga kerja yang ada dapat lebih menguasai dan ahli di bidangnya masing-masing serta meningkatkan kinerja yang ada. Dengan begitu proses pengembangan dan evaluasi karyawan menjadi sangat penting mulai dari karyawan pada tingkat rendah maupun yang tinggi.[rujukan?] 2. Memberikan kompensasi dan proteksi pada pegawai (Compensation and protection). Kompensasi adalah imbalan atas kontribusi kerja pegawai secara teratur dari organisasi atau perusahaan. Kompensasi yang tepat sangat penting dan disesuaikan dengan kondisi pasar tenaga kerja yang ada pada lingkungan eksternal. Kompensasi yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada dapat menyebabkan masalah ketenaga kerjaan di kemudian hari atau pun dapat menimbulkan kerugian pada organisasi atau perusahaan. Proteksi juga perlu diberikan kepada pekerja agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan tenang sehingga kinerja dan kontribusi perkerja tersebut dapat tetap maksimal dari waktu ke waktu. Kompensasi atau imbalan yang diberikan bermacam-macam jenisnya yang telah diterangkan pada artikel lain pada situs organisasi.org ini.[rujukan?] [sunting]Promosi, Pemindahan dan Pemisahan 1. Promosi adalah sebuah jenis transfer yang meliputi penugasan kembali seorang pegawai pada sebuah posisi yang kemungkinan besar diberikan pembayaran yang lebih tinggi dan tanggung jawab, hak dan kesempatan yang lebih besar. Demosi, kadang-kadang disebut transfer ke bawah, adalah sebuah jenis transfer meliputi pemotongan pembayaran, hak dan kesempatan.[rujukan?] 2. Pemisahan, disebut juga pemberhentian, bahkan sering disebut downsizing, adalah perpindahan sementara atau tidak definitif seorang pegawai dari daftar gaji. Umumnya adalah untuk mengurangi kelebihan beban biaya tenaga kerja dan permasalahan keuangan perusahaan semakin serius.[rujukan?] 3. Terminasi adalah tindakan manajemen berupa pemisahan pegawai dari organisasi karena melanggar aturan organisasi atau karena tidak menunjukkan kinerja yang cukup.[rujukan?] 4. Pemberhentian sukarela adalah pemisahan pegawai dari organisasi atas inisiatif organisasi atau kemauan pegawai sendiri.[rujukan?] 5. Pengunduran diri adalah pemisahan pegawai yang telah menyelesaikan masa kerja maksimalnya dari organisasi atau umumnya di kenal dengan istilah pensiun.[rujukan?] [sunting]Catatan kaki 1. ^http://e-course.usu.ac.id/content/manajemen/manajemen0/textbook.pdf 2. ^Dessler, Gary, (2005), Human Resource Management (Manajemen Sumber Daya Manusia) edisi kesembilan jilid 2, edisi Bahasa Indonesia, Indeks, Jakarta. 3. ^Henry Simamora, Manajemen Sumber Daya Manusia (2006:5) [sunting]Rujukan • Cut Zurnali, (2010), Knowledge Worker: Kerangka Riset Manajemen Sumber Daya Manusia Masa Depan, Penerbit Unpad Press, Bandung • Handoko, T.H.(1987). Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Edisi ke-2. Yogyakarta:PBFE [Universitas Gadjah Mada]. • Siagian, Sondang P. (2006), Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan ketiga belas, Bumi Aksara, Jakarta. • Saydam, Gouzali, (2000), Manajemen Sumber Daya Manusia : Suatu pendekatan Mikro (Dalam Tanya Jawab), Cetakan kedua, Djambatan, Jakarta • Hariandja, Marihot Tua Efendi, (2005), Manajemen Sumber Daya Manusia : Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian, dan Peningkatan Produktivitas Pegawai, Cetakan ketiga, PT Grasindo, Jakarta. • BAB I • TINJAUAN TEORITIS KOMPENSASI • 2.1. PENGERTIAN KOMPENSASI • Kompensasi merupakan balas jasa yang diberikan oleh organisasi / perusahaan kepada karyawan, yang dapat bersifat finansial maupun non finansial, pada periode yang tetap. Sistem kompensasi yang baik akan mampu memberikan kepuasan bagi karyawan dan memungkinkan perusahaan memperoleh, mempekerjakan, dan mempertahankan karyawan. Bagi organisasi / perusahaan, kompensasi memiliki arti penting karena kompensasi mencerminkan upaya organisasi dalam mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Pengalaman menunjukkan bahwa kompensasi yang tidak memadai dapat menurunkan prestasi kerja, motivasi kerja, dan kepuasan kerja karyawan, bahkan dapat menyebabkan karyawan yang potensial keluar dari perusahaan. • 2.2. FUNGSI KOMPENSASI • Dari pengertian diatas terlihat bahwa kompensasi merupakan alat pengikat perusahaan terhadap karyawannya, faktor penarik bagi calon karyawan dan faktor pendorong seseorang menjadi karyawan. Dengan demikian kompensasi mempunyai fungsi yang cukup penting di dalam memperlancar jalannya roda organisasi/ perusahaan. Menurut Martoyo (1994), fungsi kompensasi adalah : • a. Penggunaan SDM secara lebih efisien dan lebih efektif • Kompensasi yang tinggi pada seorang karyawan mempunyai implikasi bahwa organisasi memp eroleh keuntungan dan manfaat maksimal dari karyawan yang bersangkutan karena besarnya kompensasi sangat ditentukan oleh tinggi/rendahnya produktivitas kerja karyawan yang bersangkutan. Semakin banyak pegawai yang diberi kompensasi yang tinggi berarti semakin banyak karyawannya yang berprestasi tinggi. Banyaknya karyawan yang berprestasi tinggi akan mengurangi pengeluaran bi aya untuk kerja-kerja yang tidak perlu (yang diakibatkan oleh kurang efisien dan efektifitasnya kerja). Dengan demikian pemberian kompensasi dapat menjadikan penggunaan SDM secara lebih efisien dan lebih efektif. b. Mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi • Sistem pemberian kompensasi yang baik secara langsung dapat memb antu stabilitas organisasi dan secara tidak langsung ikut andil dalam mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya pemb erian kompensasi yang kurang baik dapat menyebabkan gejolak di kalangan karyawan akibat ketidakpuasan. Pada gilirannya gejolak ketidakpuasan ini akan menimbulkan kerawanan ekonomi. • 2.3. TUJUAN KOMPENSASI • Sebagai bagian dari manajemen SDM, pemberian kompensasi bertujuan untuk: • a. Memperoleh karyawan yang memenuhi persyaratan. • Salah satu cara organisasi untuk memperoleh karyawan yang memenuhi persyaratan (qualified) dapat dilakukan dengan pemberian sistem kompensasi. Sistem kompensasi yang baik merupakan faktor penarik masuknya karyawan qualified. Sebaliknya, sistem kompensasi yang buruk dapat mengakibatkan keluarnya karyawan yang qualified dari suatu organisasi. Sebagai contoh, eksodus secara besar-besaran karyawan dari perusahaan A ke perusahaan B merupakan indikasi lebih baiknya sistem kompensasi yang ada pada perusahaan B daripada perusahaan • b. Mempertahankan karyawan yang ada • Eksodus besar-besaran karyawan ke perusahaan lain juga menunjukkan betapa besarnya peranan kompensasi dalam mempertahankan karyawan yang qualified. Sistem kompensasi yang kurang baik dengan iklim usaha yang kompetitif dapat menyulitkan organisasi/perusahaan dalam mempertahankan karyawannya yang qualified. • c. Menjamin keadilan • Pemb erian kompensasi yang baik juga bertujuan untuk menjamin keadilan. Dalam arti, perusahaan memberikan imbalan yang sepadan untuk hasil karya atau prestasi kerja yang diberikan pada organisasi. • d. Menghargai perilaku yang diinginkan • Besar kecilnya pemb eran kompensasi juga menunjukkan penghargaan organisasi terhadap perilaku karyawan yang diinginkan. Bila karyawan berperilaku sesuai dengan harapan organisasi, maka penilaian kinerja yang diberikan akan lebih baik daripada karyawan yang berperilaku kurang sesuai dengan harapan organisasi. Pemb erian nilai kinerja yang baik diiringi dengan pemb erian kompensasi yang baik dapat meningkatkan kesadaran karyawan bahwa perilakunya dinilai dan dihargai sehingga karywan akan selalu berusaha memp erbaiki perilakunya. • e. Mengendalikan biaya-biaya • Dalam jangka pendek, pemberian kompensas i pada karyawan yang berprestasi akan memperbesar biaya. Namun secara jangka panjang, kerja karyawan yang lebih efektif dan efisien akibat pemberian kompensasi yang baik dapat mengendalikan biaya-biaya yang tidak perlu. Organisasi sering kali mengeluarkan biaya-biaya yang tidak perlu akibat rendahnya produktifitas atau kurang efekif dan efisiennya kerja kary awan. Seringkali biaya yang tidak perlu ini besarnya melebihi biaya tetap. Pemberian komensasi yang baik diharapkan dapat mendorong karyawan untuk lebih produktif dan lebih efisien serta efektif dalam bekerja sehingga organisasi dapat memperkecil atau mengendalikan biaya-biaya yang harus dikeluarkan dan memperbesar pemasukannya. • f. Memenuhi peraturan-peraturan legal • Selain lima tujuan di atas, kompensasi juga bertujuan untuk memenuhi peraturan-peraturan legal seperti Upah Minimum Rata-rata (UMR), Ketentuan Lembur, Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), Asuransi Tenaga Kerja (Astek) dan fasilitas lainnya. • Sejalan dengan hal tersebut, Martoyo (1994) berpendapat bahwa tujuan kompensasi adalah : 1. Pemenuhan kebutuhan ekonomi karyawan atau sebagai jaminan economic security bagi karyawan. • 2. Mendorong agar karyawan lebih baik dan lebih giat. • 3. Menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kema juan. • 4. Menunjukkan penghargaan dan perlakuan adil organisasi terhadap karyawannya (adanya keseimbangan antara input yang diberikan karyawan terhadap perusahaan dan output atau besarnya imbalan yang diberikan perusahaan kepada karyawan). 2.4. PENENTUAN KOMPENSASI • Besarnya kompensasi yang diberikan ditentukan oleh 1) Harga / Nilai pekerjaan, 2) Sistem kompensasi yang diterapkan, dan 3) Faktor-faktor yang memp engaruhi kompensasi. • 1) Harga/ Nilai Pekerjaan • Penilaian harga suatu jenis pekerjaan merupakan tindakan pertama yang dilakukan dalam menentukan besarnya kompensasi yang akan diberikan kepada karyawan. Penilaain harga pekerja dapat dilakukan dengan dua cara, sebagai berikut : • a. Melakukan analisis jabatan/pekerjaan • Berdasarkan analisis jabatan akan didapat informasi yang berkaitan dengan : 1) Jenis keahlian yang dibutuhkan, 2) Tingkat kompeksitas pekerjaan, 3) Resiko pekerjaan, dan 4) Perilaku/kepribadian yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Dari informasi tersebut kemudian ditentukan harga pekerjaan. • b. Melakukan survei “harga ”pekerjaan sejenis pada organisasi lain. • Harga pekerjaan pada beberapa organi sasi dapat dijadikan sebagai patokan dalam menetukan harga pekerjaan sekaligus sebagai ukuran kelayakan kompensasi. Jika harga pekerjaan yang diberikan lebih rendah dari organisasi lain, maka kecil kemungkinan organisasi tersebut mampu menarik atau memp ertahankan karyawan yang qualified. Sebaliknya bila harga pekerjaan tersebut lebih tinggi dari organisasi lainnya, maka organisasi tersebut akan lebih mudah menarik dan memp ertahankan karyawan yang qualified. • • 2) Sistem kompensasi • Beberapa sistem kompensasi yang bias a digunakan adalah sistem prestasi, sistem kontrak/borongan. • a. Sistem Prestasi • Upah menurut prestasi kerja sering juga disebut dengan upah sistem hasil. Pengupahan dengan cara ini mengaitkan secara langsung antara besarnya upah dengan prestasi kerja yang ditujukan oleh karyawan yang bersangkutan. Sedikit banyaknya upah tersebut tergantung pada sedikit banyaknya hasil yang dicapai karyawan dalam waktu tertentu. Cara ini dapat diterapkan bila hasil kerja dapat diukur secara kuantitatif. Cara ini dapat mendorong karyawan yang kurang produktif menjadi lebih produktif. Cara ini akan sangat menguntungkan bagi karyawan yang dapat bekerja cepat dan berkemampaun tinggi. Contoh kompensasi sistem hasil : per potong, per meter, per kilo, per liter dan sebagainya. • g. Sistem Waktu • Besarnya kompensasi dihitung berdas arkan standar waktu seperti Jam, Hari, Minggu, Bulan. Besarnya Upah ditentukan oleh lamanya karyawan melaksanakan atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Umumnya cara ini digunakan bila ada kesulitan dalam menerapkan cara pengupahan berdasarkan prestasi. • Kelemahan dari sistem waktu adalah : • 1. Mengakibatkan mengendornya semangat karyawan yang produktifitasnya tinggi (diatas rata- rata ). • 2. Tidak memb edakan usia, pengalaman, dan kemampuan karyawan. • 3. Membutuhkan pengawasan yang ketat agar karyawan sungguh- sungguh benerja. • 4. Kurang mengakui adanya prestasi kerja karyawan. • Sedangkan kelebihan sistem waktu adalah : • 1. Dapat mencegah hal- hal yang kurang diinginkan seperti pilih kasih, diskriminasi maupun • kompetisi yang kurang sehat. • 2. Menjamin kepastian penerimaan upah secara periodik. • 3.Tidak memandang rendah karyawan yang cukup lanjut usia. • h. Sistem kontrak/ borongan • Penetapan besarnya upah dengan sistem kontrak / borongan didasarkan atas kuantitas, kualitas dan lamanya peyelesaian pekerjaan yang sesuai dengan kontrak perjanjian. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan, maka dalam kontrak j uga dicantumkan ketentuan mengenai “konsekuensi ”bila pekerjaan yang dihasilkan tidak sesuai dengan perjanjian baik secara kuantitas, kualitas maupun lamanya penyelesaian pekerjaan. • Sistem ini biasanya digunakan untuk jenis pekerjaan yang dianggap merugikan bila dikerjakan oleh karyawan tetap dan /atau jenis pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan oleh karyawan tetap. 2.5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPENSASI • Dalam pemberian kompensasi, terdapat sejuml ah faktor yang memp engaruhinya. Secara garis besar faktor-faktor tersebut terbagi tiga, yaitu faktor intern organisasi, pribadi karyawan yang bersangkutan, dan faktor ekstern pegawai organisasi. • A. Faktor Intern Organisasi • Contoh faktor intern organisasi yang mempengaruhi besarnya kompensasi adalah dana organsasi, dan serikat pekerja. • a. Dana Organisasi • Kemampuan organisasi untuk melaksanakan kompensasi tergantung pada dana yang terhimpun untuk keperluan tersebut. Terhimpunnya dana tentunya sebagai akibat prestasi-prestasi kerja yang telah ditujukan oleh karyawan. Makin besarnya prestasi kerja maka makin besar pula keuntungan organisasi/perusahaan. Besanya keuntungan perusahaan akan memperbesar himpunan dana untuk kompensasi, maka pelaksanaan kompensasi akan makin baik. Begitu pula sebaliknya. • b. Serikat pekerja • Para pekerja yang tergabung dalam seikat pekerja juga dapat mempengaruhi pelaksanaan atau penetapan kompensasi dalam suatu perusahaan. Serikat pekerja dapat menjadi simbol kekuatan pekerja di dalam menuntut perbaikan nasib. Keberadaan serikat pekerja perlu mendapatkan perhatian atau perlu diperhitungkan oleh pihak manajemen. • B. Faktor Pribadi Karyawan • Contoh faktor pribadi karyawan yang mempengaruhi besarnya pemberian kompensasi adalah produktifitas kerja, posisi dan jabatan, pendidikan dan pengalaman serta jenis dan sifat pekerjaan. • a. Produktifitas kerja • Produktifitas kerja dipengaruhi oleh prestasi kerja. Prestasi kerja merupakan faktor yang diperhitungkan dalam penetapan kompensasi. Pengaruh ini memungkinkan karyawan pada posisi dan jabatan yang sama mendapatkan kompsasai yang berbeda. Pemb erian kompesasi ini dimaksud untuk meningkatkan produktifitas kerja karyawan. • b. Posisi dan Jabatan • Posisi dan jabatan berbeda berimplikasi pada perbedaan besarnya kompensasi. Posisi dan jabatan seseorang dalam organisasi menunjukkan keberadaan dan tanggung jawabnya dalam hierarki organisasi. Semakin tinggi posisi dan jabatan seseorang dalam organisasi, semakin besar tanggung jawabnya, maka semakin tinggi pula kompensasi yang diterima nya. Hal tersebut berlaku sebaliknya. • c. Pendidikan dan Pengalaman • Selain posisi dan jabatan, pendidikan dan pengalaman kerja juga merupakan faktor yang memp engaruhi besarnya kompensasi. Pegawai yang lebih berpengalaman dan berpndidikan lebih tinggi akan mendapat kompensasi yang lebih besar dari pegawai yang kurang pengalaman dan atau lebih rendah tingkat pendidikannya. Pertimbangan faktor ini merupakan wujud penghargaan organisasi pada keprofesionalan seseorang. Pertimbangan ini juga dapat memacu karyawan untuk meningkatkan pengetahuannya. • d. Jenis dan Sifat Pekerjaan • Besarnya kompensasi pegawai yang bekerja di lapangan berbeda dengan pekerjaan yang bekerja dalam ruangan, demikian juga kompensasi untuk pekerjaan klerikal akan berbeda dengan pekerjaan adminsitratif. Begitu pula halnya dengan pekerjaan manajemen berbeda dengan pekerjaan teknis. Pemberian kompensasi yang berbeda ini selain karena pertimbangan profesioalisme pegawai juga kerena besarnya resiko dan tanggung jawab yang dipikul oleh pegawai yang bersangkutan. Sebagai contoh, dikebanyakan organisasi/perusahaan pegawai yang bertugas di lapangan biasanya mendaptkan kompenasai antara 2 – 3 kali lipat dari pekerjaan di dalam ruangan/kantor. Besarnya kompensasi sejalan dengan besarnya resiko dan tanggung jawab yang dipikulnya. C. Faktor Ekstern • Contoh faktor ekstern pegawai dan organisasi yang mempengaruhi besarnya kompensasi adalah sebagai berikut : • a. Penawaran dan Permintaan kerja • Mengacu pada hukum ekonomi pasar bebas, kondisi dimana penawaran (supply) tenaga kerja ebih dari permintaan (demand) akan menyebabkan rendahnya kompensasi yang diberikan. Sebaiknya bila kondisi pasar kerja menunjukkan besarnya juml ah permintaan tenaga kerja sementara penawaran hanya sedikit, maka kompensasi yang diberikan akan besar. Besarnya nilai kompensasi yang ditawarkan suatu organisasi merupakan daya tarik calon pegawai untuk memasuki organisasi tersebut. Namun dalam keadaan dimana juml ah tenaga kerja lebih besar dari lapangan kerja yang tersedia, besarnya kompensasi sedikit banyak menjadi terabaikan. • b. Biaya hidup • Besarnya kompensasi terutama upah/ga ji harus disesuaikan dengan besarnya biaya hidup (cost of living). Yang dimaksud biaya hi dup disini adalah biaya hidup minimal. Paling tidak kompensasi ya ng diberikan harus sama dengan atau di atas biaya hidup minimal. Jika kompensasi yang diberikan lebih rendah dari biaya hidup minimal, maka yang terjadi adalah proses pemi skinan bangsa. • c. Kebijaksanaan Pemerintah • Sebagai pemegang kebijakan, pemerintah berupaya melindungi rakyatnya dari kesewenang-wenangan dan keadilan. Dalam kaitannya dengan kompensasi, pemerintah menentukan upah minimum, jam kerja/hari, untuk pria dan wanita, pada batas umur tertentu. Dengan peraturan tersebut pemerintah menjamin berlangsungnya proses pemakmuran bangsa hingga dapat mencegah praktek- praktek organisasi yang dapat memi skinkan bangsa. • d. Kondisi Perekonomian Nasional • Komp ensasi yang diterim oleh pegawai di negara-negara ma ju jauh lebih besar dari yang diterima negara-negara berkembang dan atau negara mi skin. Besarnya rata-rata kompensasi yang diberikan oleh organsasi-organisasi dalam suatu negara mencerminkan kondisi perekonomia n negara tersebut dan penghargaan negara terhadap sumber daya manusianya. 2.6. KEADILAN DAN KELAYAKAN DALAM PEMBERIAN KOMPENSASI • Selain hal-hal diatas, dalam pemb erian kompensasi perlu dipertimbangkan unsur keadilan dan kelayakan. 1. Keadilan • Dalam pemberian kompensasi apakah itu berupa upah, gaji, bonus atau bentuk-bentuk lainnya, penting sekali diperhatikan masalah keadilan terebut. Keadilan bukan berarti sama rasa sama rata tanpa pandang bulu, tetapi harus terkait adanya hubungan antara pengorbanan (input) dengan output. Semakin tinggi pengorbanan, semakin tinggi penghasilan yang diharapkan, sehingga oleh karenanya yang harus dinilai adalah pengorbanan (input) yang diperlukan suatu jabatan. Input dalam satu jabatan ditujukan dari persyaratan-persyaratan (spesifikasi) yang harus dipenuhi oleh orang yang memangku jabatan tersebut. Oleh karena itu semakin tinggi pula penghasilan (output) yang diharapkan. Output ini ditunjukkan dari upah yang diterima para karyawan yang bersangkutan, dimana didalamnya tercantum rasa keadilan yang sangat diperhatikan oleh setiap karyawan penerima kompensasi tersebut. Bila tuntutan keadilan seperti seperti ini telah terpenuhi ini berarti perusahaan telah memiliki internal consistency dalam sistem kompensasinya. • 2. Kelayakan • Di samping masalah keadilan dalam pemberian kompensasi perlu diperhatikan masalah kelayakan. Pengertian layak ini berkaitan dengan standar hidup seperti kebutuhan pokok minuman atau upah minimum sesuai dengan ketentuan pemerintah. Kela yakan juga dilihat dengan cara memb andingkan pengupahan di perusahaan lain. Bila kelayakan ini sudah tercapai, maka perusahaan sudah mencapai apa yang disebut external consistency (Konsistensi Eksternal). Apabila upaya di dalam perusahaan yang bersangkutan lebih rendah dari perusahaan-perusahaan lain, maka hal ini dapat mengakibatkan kesulitan bagi perusahaan untuk memp eroleh tenaga kerja. Oleh karena itu untuk memenuhi kedua konsistensi tersebut (internal dan eksternal) perlu digunakan suatu evaluasi pekerjaan. 2.7. JENIS – JENIS KOMPENSASI • Sebagaimana telah diuraikan di atas, kompensasi adalah gaji/upah ditamb ah dengan fasilitas dan insentif lainnya yang diterima pegawai dari organisasi. Pengertian ini menunjukkan bahwa selain mendapatkan upah/gaji yang ditetapkan, pegawai juga mendapatkan kompensasi. Jenis-jenis kompensasi selain upah/gaji tetap adalah 1) pengupahan insentif; 2) kompensasi pelengkap; 3) keamanan/kesehatan. • 1) Insentif • Yang dimaksud dengan insentif adalah memberikan upah/gaji berdasarkan perbedaan prestasi kerj a sehingga bisa jadi dua orang yang memiliki jabatan sama akan menerima upah yang berbeda, karena prestasinya berbeda, meskipun gaji pokoknya/dasarnya sama. Perbedaan tersebut merupakan tamb ahan upah (bonus) karena adanya kelebihan prestasi yang memb edakan satu pegawai dengan yang lain. a. Sifat dasar Insentif • Beberapa sifat dasar dalam sistem pengupahan insentif adalah : • 1. Sistem pemb ayaran agar diupayakan cukup sederhana, sehingga mudah dimengerti dan dihitung oleh karyawan yang bersangkutan sendiri. • 2. Upah insentif yang diterima benar-benar dapat menaikkan motivasi kerja mereka, sehingga output dan efisensi kerjanya juga meningkat. • 3. Pelaksanaan pengupahan insentif hendaknya cukup cepat, sehingga karyawan yang berprestasi lebih cepat pula merasakan nikmatnya berprestasi. • 4. Penentuan standar kerja atau standar produksi hendaknya scermat mungkin dalam arti tidak terlalu tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh umumnya karyawan,atau tidak terlalu rendah sehingga tidak terlalu mudah dicapai karyawan. • 5. Besarnya upah normal dengan standar kerja per jam hendaknya cukup merangsang pekerja atau karyawan untuk bekerja giat. • Menurut penelitian para ahli, penentuan besarnya insentif berlaku pula bagi tenaga pimpinan yang besarnya 50-60% dari gaji bulanan. Jenis upah insentif macam-macam seperti Premi (bonus Payment), stock option (hak untuk memb eli/mendapatkan saham pada harga tertentu), Phantom stock plan (dicatat sebagai pemegang saham), dan sebagainya. • c. Kesulitan Sistem Pengupahan Insentif • Menurut Heidjrachman dalam Susilo Martoyo (1994) terdapat delapan kesulitan dalam sistem pengupahan insentif yaitu: • 1. Alat ukur dari berbagai prestasi karyawan belum tentu dapat berhasil dibuat secara tepat sebagaimana diharapkan, yakni wajar dan dapat diterima. • 2. Alat ukur dan tujuan perusahaan harus terikat erat. • 3. Data tentang prestasi kerja karyawan harus cepat dan teratur terkumpul setiap saat (hari, minggu, bulan). • 4. Standar yang ditetapkan haruslah mempunyai kadar/ tingkat kesulitan yang sama untuk setiap • kelompok kerja. • 5. Gaji/ upah total dari upah pokok plus bonus yang diterima haruslah konsisten di antara berbagai kelompok pekerja yang menerima insentif dan antara kelompok yang menerima insentif dengan yang tidak menerima insentif. • 6. Standar prestasi haruslah disesuaikan secara periodic dengan adanya perubahan dalam prosedur kerja. • 7. Kemungkinan tantangan dari pihak serikat karyawan harus sudah diperhitungkan secara matang. 8. Berbagai reaksi kariyawan terhadap sistem pengupahan insentif yang diterapkan juga harus diantisipasi kemungkinannya . Dengan demi kian perusahaan harus cukup cermat dan hati- hati sekali dalam menentukan sitem pengupahan insentif ini. • 2) Kompensasi pelengkap ( Fringe Benefit). • Komp ensasi pelengkap merupakan salah satu bentuk pemb erian kompensasi berupa penyediaan paket benefit dan program- program pelayanan karyawan, dengan maksud pokok untuk memp ertahankan keberadaan karyawan sebagai anggota organisasi dalam jangka panjang. Kalau upah dan gaji merupakan kompensasi langsung karena sung berkaitan dengan prestasi kerja, maka kompansasi pelengkap merupakan kompensasi tidak langsung berkaitan dengan prestasi kerja. Dengan perkataan lain kompensasi pelengkap adalah upaya penciptaan kondisi dan lingkungan kerja yang menyenangkan dan tidak secara langsung berkaitan dengan prestasi kerja. Saat ini kompensasi pelengkap berkembang pesat terutama karena : • 1. Perubahan sikap karyawan. • 2. Tuntutan serikat pakerja. • 3. Persaingan yang memaksa perusahaan untuk menyediakan benefit yang menarik dan menjaga karyawannya, 4. Persyaratan- persyaratan yang ditetapkan pemerintah, • 5. Tuntutan kenaikan biaya hidup. • Kompensasi pelengkap meliputi : • a. Tunjangan antara lain berbentuk : • 1. Pensiun • 2. Pesangon • 3. Tunjangan Kesehatan • 4. Asuransi Kecelakaan Kerja. • b. Pelayanan yang meliputi : • 1. Majalah, • 2. Sarana Olah Raga, • 3. Perayaan Hari Raya, • 4. Program Sosial Lainnya • Dengan kata lain, jenis tunjangan dan pelayanan dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Jaminan rasa aman karyawan (Employee Security) , • 2. Gaji dan upah yang dibayar pada saat karyawan tidak bekerja (Pay f or time not worked) , 3. Bonus dan penghargaan ( Bonuses and Rewards ), • 4. Program Pelayanan ( Survices Program ) . • Beberapa keuntungan atau manfaat yang didapat organisasi dengan pemberian kompensasi pelengkap kepada karyawannya diantaranya adalah : • 1. Peningkatan semangat kerja dan kesetiaan. • 2. Penurunan turn over karyawan dan absensi, • 3. Pengurangan kelelahan, • 4. Pengurangan pengaruh serikat buruh/ pekerja, • 5. Hubungan masyarakat yang lebih baik, • 6. Pemuasan kebutuhan- kebutuhan karyawan, • 7. Meminimalkan biaya kerja lembur, • 8. Mengurangi kemungkina intervensi pemerintah. • 3) Keamanan serta kesehatan karyawan • Pembinaan kesehatan karyawan atau anggota organisasi merupakan suatu bentuk kompensasi nonfinansial yang sangat penting dalam organisasi. Keadaan aman dan sehat seorang kary awan / anggota organisasi tercermin dalam sikap individual dan aktivitas organisasi karyawan yang bersangkutan. Makin baik kondisi keamanan dan kesehatan, makin positif sumb angan mereka bagi organisasi/perusahaan. Pada umumnya, perusahaan memperhatikan masalah keamanan dan kesehatan karyawan justru untuk memungkinkan terciptanya kondisi kerja yang lebih baik. Hal ini penting sekali terutama bagi bagian-bagian organisasi yang memiliki resiko kecelakaan tinggi. Biasanya tanggung jawab pembinaan keamanan dan kesehatan karyawan tersebut terletak pada manajer operasional perusahaan atau organisasi yang bersangkutan, antara lain meliputi : • 1. Pemeliharaan peraturan-peraturan keamanan. • 2. Standar kesehatan serta pencatatan dan pelaporan kecelakaan. • 3. Pengaturan program-program kesehatan dan keamanan. • 4. Pengaturan suhu udara dalam ruang kerja, ventilasi dan keberhasilan lingkungan kerja. 5. Program-program latihan keamanan bagi karyawan. • 6. Pengaturan-pengaturan pencegahan kecelakaan kerja dan sebagainya. • Kesehatan karyawan yang dimaksud di sini adalah kesehatan jasmani dan rohani sedangkan keamanan adalah keadaan karyawan yang terbebas dari rasa takut dan bebas dari segala kemungkinan kecelakaan kerja. Upaya memelihara keamanan dapat dilakukan dengan : 1. Menggunakan mesin yang dilengkapi mdg alat pengaman. • 2. Menggunakan peralatan yang lebih baik. • 3. Mengatur lay out pabrik dan penerangan yang sebaik mungkin. • 4. Lantai-lantai, tangga-tangga dan lereng-lereng dijaga harus bebas dari air, minyak dan oli. 5. Melakukan pemeliharaan fasilitas pabrik secara baik. • 6. Menggunakan petunjuk-petunjuk dan peralatan-peralatan keamanan beserta larangan-larangan yang dianggap perlu. • 7. Mendidik para karyawan dalam hal keamanan. • 8. Membentuk komite manajemen serikat pekerja untuk memecahkan masalah-masalah keamanan dan sebagainya. • • BAB II • TINJAUAN YURIDIS • KOMPENSASI • Didalam UU No.13 Tahun 2003 Bab X tentang Perlindungan,Pengupahan,dan Kesejahteraan terdapat beberapa pasal yang mengatur dan memuat tentang kompensasi.Beberapa contoh pasal-pasal itu antara lain: • Pasal tentang Perlindungan • 1.Pasal 79 • (1) Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada buruh/pekerja • (2) Isinya memuat tentang lamanya waktu istirahat dalam ayat (1) • 2.Pasal 80 • Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja/buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya. • 3.Pasal 82 • (1) pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5(satu setengah)bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5(satu setengah)bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. • (2) Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5(satu setengah)bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan. • 4.pasal 86 • (1) Setiap pekerja /buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas: • a.keselamatan dan kesehatan kerja • b.moral dan kesusilaan;dan • c.perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. • (2) Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. • (3) Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dan ayat(2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. • Pasal tentang Pengupahan • 1.Pasal 88 • (1) Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. • (2) Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh • (3) Kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat(2) meliputi: • a.upah minimum • b.upah kerja lembur • c.upah tidak masuk kerja karena berhalangan • d.upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain diluar pekerjaanya. • e.upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya • f.bentuk dan cara pembayaran upah • g.denda dan potongan upah • h.hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah • i.struktur dan skala pengupahan yang proporsional • j.upah untuk pembayaran pesangon • k.upah untuk perhitungan pajak penghasilan • Pasal tentang Kesejahteraan • Pasal 99 • (1) Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan social tenaga kerja • (2) Jaminan social tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. • Selain itu pemerintah juga telah membuat UU No.3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. • BAB III • TINJAUAN EMPIRIS • Kita sering mendengar dan melihat kenyataan yang berlangsung di dunia usaha seringkali terjadi persengketaan yang melibatkan pengusaha disatu sisi dan pekerja/buruh disisi lainnya. Contoh kasus yang baru-baru ini terjadi yaitu perelisihan yang terjadi di Grand Hotel Aquila ataupun perselisihan di Hotel Papandayan. Perselisihan diantara keduanya sampai saat inipun belum dapat menemukan suatu solusi yang terbaik bagi keduanya,walaupun setidaknya sudah ada keputusan hukum yang mengikat. • Hal ini bisa terjadi karena adanya beberapa factor,diantaranya; • a. Lemahnya penegakan supremasi hukum,khususnya yang menyangkut hak-hak buruh atau • pekerja • b. Keberpihakan aparat penegak hukum pada pihak yang “berkuasa” • c. Tidak terjadinya komunikasi yang baik antara perwakilan buruh dan pengusaha • d. Kurangnya pengetahuan tentang hak dan kewajiban yang sebenarnya telah diatur didalam • perundang-undangan yang berlaku • e. SDM yang kurang berpendidikan • f. Mental dari para pengusaha yang selalu memandang bahwa pekerja/buruh itu adalah robot • pengeruk keuntungan bagi mereka,dll • Pemerintah dalam hal penyelesaian persengketaan antara buruh dan pengusaha telah membentuk Lembaga Peradilan Hukum Industrial ataupun Peradilan Niaga sebagai jalan terakhir ketika persengketaan itu tidak menemukan titik temu. • Pemerintah juga dalam hal ini Kemenerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dapat bertindak sebagai fasilitator pertemuan antara pihak pengusaha dan buruh (bipartit) ataupun juga bertindak sebagai komponen yang terlibat didalamnya untuk bertemu bersama-sama (tripartit). • KESIMPULAN • • Pemerintah dalam hal ini Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah membuat regulasi berupa UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang didalamnya memuat beberapa pasal mengenai kompensasi dan UU No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Kompensasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan antara karyawan dan perusahaan, disana terdapat beberapa hak dan kewajiban yang mengikat keduanya, bagi karyawan merupakan hak-hak normatif dan bagi perusahaan merupakan salah satu kewajiban yang harus diberikan, karena pentingnya masalah kompensasi ini. • Kompensasi merupakan salah satu parameter untuk mengukur sejauh mana iklim dan kondisi suatu perusahaan yang baik, karena walau bagaimanapun perusahaan yang baik yang kokoh dan berkembang, bertanggung jawab pula untuk meningkatkan kesejahteraan buruh/pekerja simultan dengan pertumbuhan perusahaan, dalam artian perusahaan tidak hanya mencari dan mendapatkan keuntungan semata tetapi harus juga bisa mewujudkan kesejahteraan karyawannya. • Kompensasi sebagai salah satu komponen dalam upaya mewujudkan kesejahteraan buruh/pekerja dalam pelaksanaanya seringkali berbenturan dengan aspek legalitas yang telah di sepakati bersama. Hal ini tidak terlepas juga dari situasi dan kondisi perusahaan itu sendiri, pengadilan Hukum Industrial,Pengadilan Niaga merupakan lembaga terakhir untuk dapat menyelesaikan persengketaan di kedua belah pihak • DAFTAR PUSTAKA • UU no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan • UU no. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja • “Kompensasi” Rahadian,Dedi H,DR.MM • “Kompensasi” Martoyo,Susilo (1994)

 

Perencanaan Pendidikan

13 Apr

 

1                         a. Jelaskan dan gambarkan model pendidikan di suatu negara

Tingkat Pendidikan Dasar merupakan program pendidikan nasional di Indonesia yang melandasi jenjang menengah. Dalam menunjang terselenggaranya kependidikan dasar, pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Dalam hal ini pemerintah juga mempunyai tanggungjawab dalam hal pengelolaan, pembangunan, pengadaan, dan pembinaan. Pemerintah melalui kementerian (kemdiknas), dapat juga menjadi partner akademik yang baik dengan memberikan penghargaan, beasiswa prestasi, dll.

Bentuk dan jenjang kependidikan sekolah terdiri atas pendidikan Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtida’iyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), serta bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Menengah adalah tingkat lanjutan dari pendidikan nasional dasar, yang terdiri atas menengah umum dan kejuruan, artinya, lulusan sekolah / tingkat dasar (SD dan SMP) akan dilanjutkan dengan tingkat menengah. Adapun bentuknya, sebagaimana yang telah umum disekeliling kita, yakni;

1. Sekolah Menengah Atas (SMA),

2. Madrasah Aliyah (MA),

3. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan

4. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan Tinggi, sebagaimana namanya, adalah tingkat keilmuan lanjut dari tingkat menengah. Mencakup program diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Bentuknya bisa bermacam-macam, diantaranya adalah; akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, universitas. Sebagai jenjang tinggi, PT berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan tinggi juga dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

Selain program pendidikan nasional diatas, ada jenjang yang tidak termasuk dalam urutan jenjang formal, yakni nonformal atau pendidikan luar sekolah.

Pendidikan nonformal atau terkadang disebut dengan jalur luar sekolah, diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Yakni merupakan pendidikan yang diarahkan untuk menanamkan kompetensi tertentu secara khusus, membentuk tenaga-tenaga profesional yang memiliki kemampuan khusus sesuai dengan kurikulum dan rencana seerta satuan pendidikan yang bersangkutan oleh masing-masing penyelenggara.

Ada beberapa bentuk dan jenis pendidikan nasional nonformal, diantaranya adalah kecakapan hidup, anak usia dini, kepemudaan, pemberdayaan perempuan, keaksaraan, keterampilan dan pelatihan kerja, kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Pendidikan non formal dapat diselenggarakan oleh lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

Program Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Pendidikan Informal adalah pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan atau juga adalah jalur pendidikan luar sekolah, berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil jalur ini dapat diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Selain beberapa bentuk pendidikan baik formal, nonformal, maupun informal diatas, ada juga bentuk pendidikan lain yang akan dijelaskan secara definitif. Bentuk-bentuk pendidikan tersebut adalah;

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), adalah program yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar dan dapat diselenggarakan melalui jalur formal, nonformal, dan/atau informal. Jalur formalnya adalah TK dan RA atau bentuk lain yang sederajat. Bentuk non formalnya adalah Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA) dan bentuk lain yang sederajat. Dalam bentuk informal, adalah pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Pendidikan Kedinasan adalah program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan (sumber daya manusia ) dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen dan dapat diselenggarakan baik melalui jalur formal dan nonformal.

Pendidikan Keagamaan adalah program pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dapat diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Pendidikan keagamaan dapat berbentuk diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

Pendidikan Jarak Jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus adalah program bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Program layanan khusus adalah program bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

Gambaran model sistem pendidikan nasional adalah sebagai berikut :

b.  Mengapa sistem pendidikan harus direncanakan

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

Pada pasal 19 ayat 3 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinyatakan bahwa setiap satuan pendidikan harus melakukan perencanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Dengan demikian sebelum melakukan pelaksanaan pembelajaran terlebih dahulu dilakukan perencanaan pembelajaran. Pada Standar Proses (Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007) bagian perencanaan pembelajaran dinyatakan  bahwa kegiatan inti pembelajaran merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar (KD), dan kegiatan pembelajaran harus di­lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang­kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan tersebut harus dilakukan secara terencana karena pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP.

Mengapa harus dinilai

  1. Untuk mengevaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran
  2. Untuk menilai proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses,
  3. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru

c.  Hubungan perencanaan pembangunan pendidikan dan pembangunan negara

Perencanaan pembanguan pendidikan merupakan tantangan penyelenggaraan pendidikan yang berkwalitas untuk menyelaraskan dengan situasi global yang menuntut  kemajuan. Bila perencanaan pembangunan pendidikan berjalan dengan baik maka akan menghasilkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan untuk kemajuan suatu negara, dan sebaliknya apabila perencanaan pendidikan tidak berjalan dengan baik maka sumber daya manusianya akan gagal dalam mengejar perkembangan dunia.  Output dari pendidikan akan menghasilkan sumber daya manusia yang akan mengisi seluruh elemen kehidupan dalam suatu negara.Oleh karena itu, perencanaan pembangunan pendidikan akan  berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, social dan lain-lain

            d. Identifikasi karekteristik perencanaan sebelum dan setelah perang dunia II

Perencanaan pendidikan sebelum perang dunia II dari pribumi dimotori oleh tokoh nasional Ki Sarmidi Mangunsarkoro  tahun 1931 yag kemudian menjadi mentri pendidikan RI ke 5. Beliau  ditugasi untuk menyusun Rencana Pelajaran Baru dan pada tahun 1932 disahkan taman siswa sebagai jalur pendidikan swasta pada saat itu, sebagai ‘Daftar Pelajaran Mangunsarkoro’. Perencanaan pendidikan dalam Daftar Pelajaran Mangunsarkoro berisikan hal-hal  yang mencerminkan cita-cita Nasional dalam arus pergerakan nasional di Indonesia khususnya di Asia pada umumnya, yang merupakan aspek kebudayaan dari kebangunan nasionalisme, yang pada hakikatnya merupakan usaha menguji hukum-hukum kesusilaan dan mengajarkan berbagai pembaharuan disesuaikan dengan alam dan zaman. Dua aspek lainnya adalah aspek sosial ekonomis yaitu usaha meningkatkan derajat rakyat dengan menumbangkan cengkeraman ekonomi bangsa-bangsa Eropa Barat, sedangkan pada aspek politik yaitu usaha merebut kekuasaan politik dari tangan Pemerintah Kolonialisme Belanda. Jalur pendidikan swasta yang lainnya adalah Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah dan Pondok Pesantren.

Sedangkan pihak Belanda sebagai jalur resmi pada saat itu, memperkenalkan sistem pendidikan formal bagi penduduk Hindia-Belanda (cikal bakal Indonesia), meskipun terbatas bagi kalangan tertentu yang terbatas. Sistem yang mereka perkenalkan secara kasar sama saja dengan struktur yang ada sekarang, dengan tingkatan sebagai berikut:

Sejak tahun 1930-an, Belanda memperkenalkan pendidikan formal terbatas bagi hampir semua provinsi di Hindia Belanda.

Perencanaan pendidikan setelah perang dunia ke II

Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

a. Kurikulum 1968 dan sebelumnya

Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.

Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

b. Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut.

  • Berorientasi pada tujuan
    • Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.
    • Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
      • Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
      • Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.

Kurikulum 1984

Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah
  • Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik
  • Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah
  • Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang.
    • Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
    • Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.

Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi, oleh karena itu diperlukan perubahan kurikulum. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.

  • Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
  • Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.
  • Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
  • Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks.
  • Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran.

Kurikulum 1994

Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut.

  • Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan
    • Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
    • Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
    • Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan.
    • Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
    • Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
    • Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.

Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut.

  • Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran
  • Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.

Permasalahan di atas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu

  • Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
  • Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
  • Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
  • Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.
  • Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.

Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.

Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi Tahun 2002 dan 2004

Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan, seperti penyempurnaan kurikulum, materi pelajaran, dan proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soejadi (1994:36), khususnya dalam mata pelajaran matematika mengatakan bahwa kegiatan pembelajaran matematika di jenjang persekolahan merupakan suatu kegiatan yang harus dikaji terus menerus dan jika perlu diperbaharui agar dapat sesuai dengan kemampuan murid serta tuntutan lingkungan.

Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagai sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah.

Kurikukum yang dikembangkan saat ini diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies (Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran.

Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarahkan pada dua pengembangan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang, maka pendidikan di sekolah dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi.

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur, 2002a). Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut.

  • Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.
  • Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten.
  • Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran.
  • Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur.

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya.

Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.

Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu:

  • pemilihan kompetensi yang sesuai;
    • spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi;
    • pengembangan sistem pembelajaran.

Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  • Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
    • Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
    • Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
    • Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Struktur kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam suatu mata pelajaran memuat rincian kompetensi (kemampuan) dasar mata pelajaran itu dan sikap yang diharapkan dimiliki siswa.

Struktur kompetensi dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut.

Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian.

Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?”. Guru akan menggunakan indikator sebagai dasar untuk menilai apakah siswa telah mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. Indikator bukan berarti dirumuskan dengan rentang yang sempit, yaitu tidak dimaksudkan untuk membatasi berbagai aktivitas pembelajaran siswa, juga tidak dimaksudkan untuk menentukan bagaimana guru melakukan penilaian. Misalkan, jika indikator menyatakan bahwa siswa mampu menjelaskan konsep atau gagasan tertentu, maka ini dapat ditunjukkan dengan kegiatan menulis, presentasi, atau melalui kinerja atau melakukan tugas lainnya.

Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan.

Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.

Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:

  • Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  • Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
    • Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
    • Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
    • Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan, mulai dari tujuan, visi – misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, hingga pengembangan silabusnya.

            e. Gambarkan dan jelaskan proses perencanaan pendidikan

                 Siklus perencanaan pendidikan

  1. Pengumpulan data, pengolahan data dan informasi→2. Analisis dan diagnosis

                                                                                                                        ↓

                                                                                                3. Perumusan dan  kebijaksanaan

                                                                                                                        ↓

11. Evaluasi rencana dan pelaksanaan       4. Perkiraan kebutuhan yang akan datang          ↑       ↓

                 10. Pelaksanaan rencana                                                            5. Penetapan sasaran

                9. Rincian rencana                                                                           ↓

                 8. Penganggaran     ←7. Perumusan rencana         ←6. Alternatif strategi

                 Keterangan                      

Pengumpulan data : Observasi, dokumwntasi, angket, wawancara

Mengolahdata         : dengan statistik

Informasi                : keterangan yang diperoleh dari data yang sudah diolah

Analis                     : membandingkan antara informasi yang sebenarnya dengan

                                  yang seharusnya, menemukan adanya masalah

Diagnosis                : penelaahan , peninjauan, diselidiki kenapa ada masalah atau

                                  ketidakcocokan

Kebijaksanaan        : Pengambilan keputusan dengan keadilan

Sasaran                   : bagian-bagian    dari tujuan keseluruhan yang akan dicapai

                                 (target)

Alternatif strategi   : Kegiatan yang tidak memakan waktu, biaya, dan tetaga tetapi

                                  kegiatan dapat selesai

Anggaran                : uang yang akan    digunakan    untuk  kegiatan yang sudah

                                 direncanakan

Rincian rencana      : Rincian    detail       kepanitiaan      dan    anggaran   biaya

Evaluasi                  : Penilaian baik/buruk

  1. Untuk mengatasi masalah-masalah, seperti rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, dan lain-lain seperti yang telah dijelaskan diatas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:
  • Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
  • Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

2                    Rensta pembangunan pendidikan (di sekolah)

VISI, MISI  DAN TUJUAN

 

V I S I :

Beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia serta berprestasi

M I S I :

  1. Mendidik siswa dengan pendidikan agama Islam dan membina siswa agar berprestasi dibidang agama.
  2. Menyediakan pelayanan belajar yang efektif dengan sumber belajar yang memadai.
  3. Memberikan uswatun hasanah dan mauidhoh hasanah dalam menciptakan akhlaqul karimah melalui pembiasaan yang dijiwai oleh Qur’an dan As Sunnah.
  4. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh kepada seluruh warga madrasah.
  5. Mengoptimalkan guru dan siswa dalam kegiatan pendidikan dan bimbingan.
  6. Memotivasi siswa untuk mengenali potensi dirinya sehingga dapat dikembangkan secara optimal.
  7. Menerapkan program partisipatif untuk mengembangkan potensi dan sarana madrasah dengan melibatkan warga madrasah dan warga masyarakat.
  8. Menciptakan madrasah sebagai institusi yang dinamis, kondusif dan persuasive untuk mencetak lulusan yang unggul.
  9. Mengusahakan sarana / prasarana yang memadai untuk menunjang keberhasilan program keunggulan madrasah.

 

 

 

TUJUAN :

  1. Tercapainya implementasi KBK, KTSP dan file skill.
  2. tercapainya peningkatan penggunaan model-model pembelajaran diluar kegiatan belajar mengajar.
  3. Tercapainya peningkatan kemampuan komunikasi berbahasa Arab.
  4. Tercapainya peningkatan ketrampilan menggunakan media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
  5. Tercapainya peningkatan ketrampilan menggunakan peralatan Laboratorium.
  6. Tercapainya peningkatan kemampuan guru menyusun silabus dan alat penilaian.
  7. Tercapainya peningkatan perolehan rata-rata Ujian Nasional.
  8. Tercapainya peningkatan kedisiplinan dan ketertiban siswa dalam mewujudkan program kesiapsiagaan.
  9. Tercapainya peningkatan rata-rata nilai raport kelas VII, VIII dan IX.
  10. Tercapainya peningkatan kuantitas dan kualitas fasilitas dilingkungan madrasah
  11. Tercapainya jumlah lulusan yang diterima SMK/SMA faforit.
  12. Tercapainya internalisasi budaya tata krama warga madrasah.
  13. Tercapainya peningkatan kerjasama dengan orang tua, masyarakat sekitar dan institusi lain.
  14. Tercapainya pengembangan kualitas siswa dalam bidang PIR, Olympiade Mapel, Seni, Olah Raga, Sosial dan beragama.
  15. Tercapainya peningkatan kegiatan 10 K (Keamanan, Ketertiban, Kedisiplinan, Kekluargaan, Kerindangan, Kesehatan).
  16. Terlaksananya pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan dan bermakna.
  17. Terwujudnya budaya belajar, membaca dan menulis.
  18. Terwujudnya manajemen madrasah yang partisipatis, transparan dan akuntable.
  19. Terujuwnya budaya jujur, sapa, senyum dan santun.
  20. Terciptanya budaya disiplin, demokratis dan beretos kerja tinggi.
  21. Terwujudnya kesejahteraan lahir dan batin bagi warga madrasah.
  22. Terwuudnya kesejahteraan lahir dan batin bagi warga madrasah.
  23. Terwujudnya hubungan yang harmonis antar warga madrasah.
  24. Terwujudnya pelayanan yang cepat, tepat dan memuaskan kepada masyarakat.
  25. Terwujudnya kerja sama saling menguntungkan dengan institusi lain.
  26. Tercapainya Layanan Kesehatan Madrasah yang memadai.

 

VISI

“MENJADI SEKOLAH BERTARAF NASIONAL YANG UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMAN DAN TAQWA SERTA BERKARAKTER INDONESIA”.

 Indikator

  • Meningkatnya pengembangan kurikulum berstandar nasional.
  • Terwujudnya peningkatan sumber daya manusia pendidik dan tenaga kependidikan berstandar nasional.
  • Meningkatnya proses pembelajaran berstandar nasional
  • Terwujudnya rencana induk pengembangan sarana prasarana pendidikan berstandar nasional
  • Terwujudnya peningkatan kualitas lulusan dalam bidang akademik maupun non akademik berstandar nasional
  • Terwujudnya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dan peningkatan mutu kelembagaan berstandar nasional.
  • Terwujudnya pembiayaan sekolah berstandar nasional.
  • Terciptanya perikehidupan sekolah yang agamis
  • Mewujudkan sumberdaya manusia yang berstandar nasional.

MISI

  1. Melaksanakan pengembangan kurikulum :
    • Melaksanakan pengembangan kurikulum satuan pendidikan
    • Melaksankan pengembangan pemetaan kompetensi dasar semua mata pelajaran.
    • Melaksanakan pengembangan silabus.
    • Melaksanakan pengembangan rencana pembelajaran.
    • Melaksanakan pengembangan system penilaian.
  2. Melaksanakan Pengembangan Tenaga Kependidikan
    • Melaksanakan pengembangan profesionalitas guru
    • Melaksanakan peningkatan kompetensi guru
    • Melaksanakan peningkatan kompetensi TU dan tenaga kependidikan lainnya
    • Melaksanakan monitoring dan evaluasi kepada guru, TU dan tenaga kependidikan lainnya.
  3. Melaksanakan Pengembangan Proses pembelajaran.
    • Melaksanakan pengembangan metode pengajaran.
    • Melaksanakan pengembangan strategi pembelajaran
    • Melaksanakan pengembangan strategi penilaian.
    • Melaksanakan pengembangan bahan ajar/sumber pembelajaran.
  4. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan Fasilitas Pendidikan
    • Mengadakan media pembelajaran
    • Mengadakan sarana prasarana pendidikan.
    • Menata lingkungan belajar sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif.
  5. Melaksanakan Pengembangan/Peningkatan Standar Ketuntasan dan Kelulusan.
  6. Melaksanakan Pengembangan Kelembagaan dan Manajemen Sekolah.
    • Mengadakan kelengkapan administrasi sekolah melalui system administrasi sekolah terpadu.
    • Melaksanakan MBS.
    • Melaksanakan monitoring dan evaluasi.
    • Melaksanakan supervise klinis.
    • Melaksanakan pengakrifan website sekolah.
    • Menyusun RPS.
  7. Melaksanakan Program Penggalangan Pembiayaan Sekolah
    • Melaksanakan Pengembangan Jalinan Pinjaman Dana
    • Melaksanakan Usaha Peningkatan Penghasilan Sekolah
    • Pendayagunaan Potensi Sekolah (Lingkungan )
    • Melaksanakan Program Subsidi Silang.
  8. Melaksanakan Pengembangan Penilaian
    • Melaksanakan Pengembangan Perangkat/ Model-Model Pembelajaran
    • Melaksanakan program evaluasi pembelajaran
    • Menyiapkan siswa melalui kegiatan pengembangan bidang akademis, non akademis dan imtaq.
    • Mengikuti kegiatan lomba akademis dan non akademis dan keagamaan.

TUJUAN

  1. Sekolah Mengembangkan Kurikulum
    • Mengembangkan kurikulum satuan pendidikan.
    • Mengembangkan pemetaan SK, KD, Indikator untuk kelas 7, 8, 9.
    • Mengembangkan RPP untuk kelas 7, 8, 9 semua mata pelajaran.
    • Mengembangkan sistem penilaian berbasis kompetensi.
  2. Sekolah Mencapai Standar Isi (Kurikulum).
  3. Sekolah memiliki/mencapai standart proses pembelajaran.
    • Melaksanakan pembelajaran dengan strategi CTL.
    • Melaksanakan pendekatan belajar tuntas.
    • Melaksanakan pembelajaran inovatif.
  4. Sekolah memiliki/mencapai standart pendidikan dan tenaga kependidikan sesuai SPM.
  5. Sekolah memiliki/mencapai standart sarana/prasarana/fasilitas.
  6. Sekolah memiliki/mencapai standart pengelolaan sekolah.
  7. Sekolah memiliki/mencapai standart pencapaian ketuntasan keompetensi/prestasi/ lulusan.
  8. Sekolah memiliki/mencapai standart pembiayaan sekolah.
  9. Sekolah memiliki/mencapai standart sekolah nasional .

ANALISIS

Visi, misi dan tujuan diatas adalah tepat berdasarkan kondisi dan realitas yang ada, dengan program, strategi dan hasil yang dicapai sebagai berikut :

Program strategis untuk mencapai sasaran visi, misi dan tujuan :

  1. Pengembangan standart Isi/Kurikulum.
    • Pengembangan kurikulum satuan pendidikan .
    • Pengembangan silabus.
    • Pengembangan RPP.
    • Pengembangan pemetaan Sk, KD.
    • Pengembangan system penilaian.
  2. Pengembangan dan peningkatan SDM pendidikan dan tenaga kependidikan.
  3. Pengembangan standart proses pembelajaran
  4. Pengembangan sarana, prasarana dan media pembelajaran.
  5. Pengembangan standart pencapaian ketuntasan/kelulusan optimal.
  6. Pengembangan manajemen sekolah dan kelembagaan.
  7. Pengembangan komite sekolah dan pembiayaan pendidikan.
  8. Pengembangan kegiatan lomba akademik dan non akademik.

Program-program Strategis  dicapai melalui strategi :

  1. Sosialisasi.
  2. Kerjasama yang sinergis dengan stake holder.
  3. Diklat (Inservice Training/on service training)
  4. Workshop.
  5. Seminar.
  6. Pengaktifan MGMP.
  7. In house training.
  8. Pembinaan potensi siswa
    • Ekstrakurikuler
    • Lomba-lomba
  9. Pembekalan
  10. Pemberdayaan.
  11. Studi banding
  12. Pengadaan pembangunan.

Hasil yang dicapai :

  1. Terpenuhinya Kurikulum Sekolah
    • Tersusunnya kurikulum tingkat satuan pendidikan.
    • Pemetaan SK/KD, aspek, indikator
    • Silabus untuk semua mata pelajaran kelas 7 – 9.
    • Sistem penilaian untuk semua mata pelajaran kelas 7 -9.
    • Rencana program pembelajaran untuk semua mata pelajaran kelas 7 – 9.
  1. Terpenuhinya tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan sesuai SNP pada.
  2. Terpenuhinya standard proses pembelajaran dalam proses sesu SNP.
  3. Terpenuhinya sarana prasarana dan media pendidikan sesuai SNP.
  4. Tercapainya standart ketuntasan dan kelulusan sesuai SNP .
  5. Terwujudnya MBS sesuai SNP dan mutu kelembagaan.
  6. Terpenuhinya standart pembiayaan pendidikan sesuai SNP.
  7. Terlaksananya standart penilaian melalui implementasi model-model penilaian dan lomba-lomba potensi akademis, non akademis dan imtaq.

  1. a.  Jelaskan evaluasi dan monitoring

Monev adalah kegiatan monitoring dan evaluasi yang ditujukan pada suatu program yang sedang atau sudah berlangsung.

Monitoring sendiri merupakan aktivitas yang dilakukan pimpinan untuk melihat, memantau jalannya organisasi selama kegiatan berlangsung, dan menilai ketercapaian tujuan, melihat factor pendukung dan penghambat pelaksanaan program. Dalam monitoring (pemantauan) dikumpulkan data dan dianalisis, hasil analisis diinterpretasikan dan dimaknakan sebagai masukan bagi pimpinan untuk mengadakan perbaikan.

Evaluasi adalah proses untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data dan menganalisis data, menyimpulkan hasil yang telah dicapai, menginterpretasikan hasil menjadi rumusan kebijakan, dan menyajikan informasi (rekomendasi) untuk pembuatan keputusan berdasarkan pada aspek kebenaran hasil evaluasi

Perbedaan antara monitoring dan evaluasi adalah monitoring dilakukan pada saat program masih berjalan sedangkan evaluasi dapat dilakukan baik sewaktu program itu masih berjalan ataupun program itu sudah selesai. Atau dapat juga bila dilihat dari pelakunya, monitoring biasanya dilakukan oleh fihak internal sedangkan evaluasi dilakukan oleh fihak internal maupun eksternal. Evaluasi dilaksanakan untuk memperoleh fakta atau kebenaran dari suatu program beserta dampaknya, sedangkan monitoring hanya melihat keterlaksanaan program, faktor pendukung, penghambatnya. Bila dilihat secara keseluruhan, kegiatan monitoring dan evaluasi ditujukan untuk pembinaan suatu program. Monitoring dan evaluasi memiliki tujuan yaitu mendapatkan informasi sebagai masukan dalam pengambilan keputusan dan member masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan manajemen sekolah baik konteks, input, proses, output, maupun outcome.

b. dimensi yang harus dimonitoring dan di evalusai dalam pendidikan  adalah :

  • Konteks (eksternal sekolah) : berupa tuntutan (demand) dan dukungan (support) yang berpengaruh terhadap input sekolah. Evaluasinya dengan needs assessment.
  • Input
  • Proses
  • Output (dampak pendidikan jangka pendek)
  • Outcome (hasil Manajemen Berbasis Sekolah jangka panjang)

Ada 2 jenis Monitoring Evaluasi :

  • Internal  : Monitoring Evaluasi yang dilakukan oleh sekolah, tujuannya untuk mengetahui tingkat kemajuan sekolah sehubungan dengan sasaran – sasaran sekolah. Pelaksanaan Monitoring Evaluasi internal adalah warga sekolah.
  • Eksternal : Monitoring Evaluasi yang dilakukan pihak luar sekolah seperti Dinas Pendidikan Kabupaten / Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Pengawas, atau gabungan dari mereka.

        c.  Prosedur kerja dan persiapan

Sebelum monev terlebih dahulu harus diperhatikan hal hal berikut :

  1. Berorientasi pada tujuan.

Monev hendaknya dilaksanakan mengacu pada tujuan yang ingin dicapai. Hasil monev dipergunakan sebagai bahan untuk perbaikan atau peningkatan program pada evaluasi formatif dan membuat jastifikasi dan akuntabilitas pada evaluasi sumatif.

2.       Mengacu pada kriteria keberhasilan

Monev seharusnya dilaksanakan mengacu pada kriteria keberhasilan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Penentuan kriteria keberhasilan dilakukan bersama antara para evaluator, para sponsor, pelaksana program (pimpinan dan staf), para pemakai lulusan (konsumen), lembaga terkait (dimana peserta kegiatan bekerja).

3.       Mengacu pada asas manfaatMonev sudah seharusnya dilaksanakan dengan manfaat yang jelas. Manfaat adalah berupa saran, masukan atau rekomendasi untuk perbaikan program program yang dimonev atau program sejenis di masa mendatang.

4.       Dilakukan secara obyektif

Monev harus dilaksanakan secara objektif. Petugas monev dari pihak eksternal seharusnya bersifat independen, yaitu bebas dari pengaruh pihak pelaksana program. Petugas monev internal harus bertindak objektif, yaitu melaporkan temuannya apa adanya.

Perisiapan evaluasi.perencanaan dengan tahapan 3 periode evaluasi

  1. Evaluasi awal kegiatan, yaitu penilaian terhadap kesiapan proyek atau mendeteksi kelayakan proyek.
  2. Evaluasi formatif, yaitu penilaian terhadap hasil-hasil yang telah dicapai selama proses kegiatan proyek dilaksanakan. Waktu pelaksanaan dilaksanakan secara rutin (per bulan, triwulan, semester dan atau tahunan) sesuai dengan kebutuhan informasi hasil penilaian.
  3. Evaluasi sumatif, yaitu penilaian hasil-hasil yang telah dicapai secara keseluruhan dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan. Waktu pelaksanaan pada saat akhir proyek sesuai dengan jangka waktu proyek dilaksanakan. Untuk proyek yang memiliki jangka waktu enam bulan, maka evaluasi sumatif dilaksanakan menjelang akhir bulan keenam. Untuk evaluasi yang menilai dampak proyek, dapat dilaksanakan setelah proyek berakhir dan diperhitungkan dampaknya sudah terlihat nyata.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam monitoring

  • Aspek masukan (input) proyek antara lain mencakup : tenaga manusia, dana, bahan, peralatan, jam kerja, data, kebijakan, manajemen dsb. yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan proyek.
  • Aspek proses / aktivitas yaitu  aspek dari proyek yang mencerminkan suatu proses kegiatan, seperti penelitian, pelatihan, proses produksi, pemberian bantuan dsb.
  • Aspek keluaran (output), yaitu aspek proyek yang mencakup hasil dari proses yang terutama berkaitan dengan kuantitas (jumlah)

Pertanyaan kunci monitoring

  • Masalah—masalah  apa yang timbul ?
  • Apakah proyek berjalan sesuai jadwal ?
  • Apakah proyek menghasilkan Output yang      direncanakan ?
  • Apakah anggarannya sesuai dengan rencana ?
  • Apakah strateginya berjalan sesuai dengan rencana?
  • Apakah kelompok sasaran (target group) terlibat dalam aktivitas proyek ?

  5.  Agar perencanaan pendidikan dapat dilakukan dengan baik, ada bebarapa persyaratan yang harus dipenuhi. Perencanaan tersebut harus :

  • Terarah pada pencapaian tertentu
  • Berangkat dari data
  • Dilakukan oleh orang-orang yang mampu membuat rencana
  • Melibatkan semua komponen pendidikan
  • Jelas/ realistis
  • Akomodatif/ memungkinkan menampung perkembangan baru
  • Berorientasi pada masalah

Proses Perencanaan Pendidikan adalah orang yang bertanggung jawab dalam perencanaan pendidikan. Ada sejumlah langkah implementasi perencanaan pendidikan yang harus dilakukan oleh perencana pendidikan. Langkah-langkah tersebut meliputi: forcasting, objectives, policy, procedure, programming, schedule dan budgeting.

  • Forcasting Forcasting adalah membuat prakiraan dengan mengantisipasi ke depan. Prakiraan tersebut didasarkan atas faktor-faktor organisasi pendidikan baik yang bersifat kondisional maupun situasional. Dimensi waktu yang harus dilibatkanialah dimensi kelampauan, dimensi kekinian dan dimensi keakanan. Berarti, masa lampau dan masa kini organisasi pendidikan, dengan segala faktor kondisional dan situasionalnya, dikaji terlebih dahulu sebelum hal-hal yangakan dilakukan tersebut dirumuskan. Dengan demikian, apa yang pada masa lampau dan masa kini berhasil dapat diulangi dan bahkan ditingkatkan, sedangkan yang gagal dapat dijadikan sebagai pelajaran. Dengan mengkaji masa lampau dan masa kini organisasi pendidikan, hal-hal yang akan dilakukan tersebut dapat dirumuskan secermat mungkin, dan ada kesinambungannya dengan apa yang dilakukan pada masa lampau. Faktor kondisional dan situasional organisasi pendidikan harus juga dipertimbangkan dalam forcasting, karena apa-apa yang akan dilakukan tersebut,tidak sekadar untuk kepentingan perumusan saja, melainkan nantinya untuk dilaksanakan. Data tentang sistem pendidikan masa lampau  haruslah digali. Demikian juga potensi-potensi sistem pendidikan di masa sekarang, haruslah diketahui dengan jelas. Sedangkan prakiraan ke depan dapat dipergunakan analisis regresi dan analisis kecenderungan. Analisis regresi dan kecenderungan sangat bermanfaat untuk melakukan ramalan (estimasi,prediksi) ke depan, berdasarkan data masa lalu dan data yang ada pada masa sekarang ini.
  • Objectives Objectives adalah perumusan tujuan. Berdasarkan perkiraan dengan antisipasike depan sebagaimana pada langkah forcasting, barulah dapat dirumuskan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Penggolongan tujuan tersebut bermacam-macam sesuai dengan sudut kepentingan, lingkup/ cakupan dan tingkatan lembaga pendidikan. Tujuan ini senantiasa harus dirumuskan, agar segala kegiatan yang akan dilakukan tersebut betul-betul mengarah pada tujuan yang sama atau mengarah kearah yang sama Dalam skala nasional, penggolongan tujuan tersebut menjadi: tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Di antara kedua tujuan tersebut dijembatani dengan tujuan jangka menengah.
  • Policy. Policy berarti kebijakan. Kebijakan di sini berarti mengidentifikasi berbagaimacam jenis kegiatan yang diperhitungkan dapat mencapai tujuan. Bisa terjadi, satu tujuan mencakup satu kegiatan atau lebih. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang diidentifikasi pada langkah ini diakumulasi sebanyak mungkin, dengan maksud mendapatkan gambaran yang luas mengenai kegiatan yang dapat dilaksanakan.
  • Programming. Programming adalah seleksi atas kegiatan-kegiatan yang sudah dirumuskan pada langkah policy. Kegiatan-kegiatan yang telah diidentifikasi perlu diseleksi, agar dapat dicarikan jawaban atas pertanyaan berikut:

(1) mengapa kegiatan-kegiatan tersebut perlu dilakukan?,

(2) apakah kegiatan tersebut memang benar-benar perlu dilakukan, berdasarkan faktor kondisional dan situasional organisasiatau lembaga pendidikan? Suatu kegiatan, yang meskipun ideal serta berdampak positif bagi lembagapendidikan, bisa tidak dilaksanakan manakala faktor kondisional dan situasionallembaga pendidikan tidak mendukung. Dengan perkataan lain, aktivitas programming sesungguhnya bersubstansikan pemrograman terhadap berbagaijenis kegiatan yang dinilai feasible.

  • Procedure. Procedure adalah merumuskan langkah-langkah secara berurut. Oleh karena itu, procedure juga bisa diartikan sebagai penentuan sekuen. Yang berarti bahwa kegiatan-kegiatan yang telah diseleksi pada langkah programming tersebut diurutkan, mana yang harus didahulukan dan mana yang harus dikemudiankan. Dengan perkataan lain, seorang perencana direkomendasikan untuk menentukan mana jenis kegiatan yang menjadi skala prioritas dan mana yang tidak menjadi skala prioritas. Ada beberapa sekuen yang dapat dipilih baik secara sendiri-sendiri maupun secara kombinasi, ialah sekuen kronologis, sekuen kausal, sekuen struktural dansekuen logis. Yang dimaksud dengan sekuen kronologis adalah urutan kegiatanyang memang secara kronologis tidak bisa dibolak-balik, karena berkenaan dengan suatu peristiwa. Sekuen kausal adalah urutan yang menunjuk kepadahubungan yang bersifat sebab akibat. Sekuen struktural adalah urutan yang didasarkan atas struktur kegiatan. Sekuen logis adalah urutan kegiatan yang didasarkan atas nalar. Bahwa satu kegiatan mesti harus diprioritaskan sementara kegiatan lain tidak, bisa dengan menggunakan pertimbangan nalar. Pertimbangan membuat skala prioritas antara lembaga pendidikan satu dengan lembaga pendidikan lain tentulah tidak sama. Sebab, masing-masing lembaga pendidikan tersebut, mempunyai karakteristik, kepentingan, faktor kondisional dan situasional yang berbeda. Pertimbangan dalam menentukan prioritas dilihat dari: tingkat kemendesakan kegiatan tersebut, kemungkinan dampaknya bagi anggota organisasi pendidikan, ada tidaknya pendukung baik berupa infra struktur maupun supra struktur lembaga pendidikan.
  • Schedule. Schedule adalah penjadwalan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah diprioritaskan sebagaimana pada langkah programming. Jadwal tersebut perlu dibuat, agar kegiatan-kegiatan yang telah diurutkan pelaksanaannya menjadi konkret kapan dilaksanakan dan siapa saja yang bertanggung jawab dan terlibat didalamnya. Ini sangat penting agar jauh hari sebelum kegiatan tersebut benar-benar dilaksanakan, telah diambil ancang-ancangnya oleh mereka yang bertanggungjawab untuk melaksanakan. Pihak yang bertanggung jawab untuk melaksanakan ini bisa berupa perorangan, unit kerja, bagian atau seseorang yang sedang memikul kapasitas atau jabatan tertentu dalam organisasi pendidikan. Dalam membuat jadwal kegiatan pada sekolah, haruslah jelas jenis kegiatannya, kapan waktu pelaksanaannya, dan siapa saja yang menjadi pelaksananya.
  • Budgeting. Budgeting adalah pembiayaan. Dalam kegiatan ini, ada dua kegiatan yang dilaksanakan. Pertama, mengalokasikan anggaran dan kedua, penentuan sumber anggaran. Alokasi anggaran dibuat berdasarkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dan disusun serealistis mungkin. Sumber anggaran yang dapat digali harus disebutkan dalam membuat rumusan. Jika langkah ini diimplementasikan disekolah, maka pertama hal yang harus dilakukan adalah mengalokasikan anggaran berdasarkan rumusan-rumusan kegiatan yang ada pada langkah penjadwalan.Alokasi anggaran ini hendaknya dibuat serealistik mungkin. Aspek pemerataan juga harus dipertimbangkan dalam merencanakananggaran. Jangan sampai, ada kegiatan yang sama sekali tidak mendapatkan anggaran, sementara yang lainnya banyak menyedot anggaran.

 

Penelitian Pendidikan

8 Apr

 

Pengaruh Implementasi Metode PAIKEM dalam Prestasi Belajar Siswa di MTs N Ciamis (Study Kasus Mata Pelajaran IPS)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Data studi human depelopment index (HDI) tahun 2005 menyampaikan bahwa salah satu masalah dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar, hasil suvey menunjukan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke 110 dari 177 negara yang di survei (Furkon , 2011: 220). Masalah lain dalam bidang pendidikan di Indonesia yang juga banyak dibicarakan adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu di dominasi oleh guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai obyek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berfikir holistik (menyeluruh), kreatif, obyektif dan logis, belum memanfatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual. Bila masalah rendahnya rata-rata prestasi belajar siswa tersebut tidak diatasi, maka akan menyulitkan bagi siswa untuk berprestasi yang pada akhirnya akan terjadi kemandekan pada dunia pendidikan kemudian akan berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, social dan lain-lain. Rendahnya prestasi belajar siswa secara teoritis di sesabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah metode yang di gunakan oleh guru dalam pembelajaran. Persoalan ini sanagta penting untuk diteliti agar prestasi belajar siswa meningkat. Dengan meningkatnya prestasi siswa maka pendidikan akan Memasok/menyediakan sumber daya yang berkualitas sebagai modal untuk bersaing di era global. Secara teoritis bila masalah ini teratasi dengan baik, maka pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa akan jelas.

B. Rumusan Masalah

Banyak faktor yang mempengaruh prestasi belajar siswa , diantaranya Faktor yang berasal dari luar individu yaitu kurikulum, disiplin sekolah,kemampuan guru, fasilitas belajar, dan pengelompokan siswa , dsb (Seperti dikutif dari W. S. Winkel, 1983: 43 yang diambil dari psikologi belajar). Dari berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa , penulis sangat tertarik untuk meneliti tentang metode yang digunakan dalam pembelajaran. Persoalan ini saya ambil karena sangat menarik untuk diteliti, cukup aktual dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang penulis miliki. Oleh sebab itu pertanyaan yang ingin diatasi adalah : Sejauhmana pengaruh implementasi metode PAIKEM terhadap prestasi belajar siswa?”

C. Tujuan Penelitian

Dari perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk “Mengetahui pengaruh implementasi metode PAIKEM terhadap prestasi belajar siswa”.

D. Kegunaan Penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : Kegunaan ilmiah, yaitu untuk memberikan sumbangsih pemikiran atau menambah informasi bagi perkembanagan ilmu pendidikan khususnya dalam bidang manajemen pendidikan.

2. Manfaat secara praktis

a. Memberikan informasi kepada sekolah/ praktisi pendidikan dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran

b. Menginformasikan tentang hasil prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode PAIKEM

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka

Pengertian Pembelajaran PAIKEM PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa. PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang mereka pelajari bukan mengetahuinya. Belajar merupakan suatu proses aktif dalam membangun pengetahuan, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Prinsip-Prinsip PAIKEM Prinsip pembelajaran aktifi, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan yang merujuk pada pembelajaran dengan basis kompetensi memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensinya.

b. Integral agar kompetensi yang dirumuskan dalam Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan.

c. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu dalam kelas dengan jumlah tertentu, guru perlu memberikan layanan individual agar dapat mengenal dan mengembangkan peserta didiknya.

d. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus menerus menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Peserta didik yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya.

e. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan atau konteks kehidupan peserta didik dan lingkungan. Berpikir kritis adalah kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (originality) dan ketajaman pemahaman (insight) dalam mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah (problem solving) adalah kemampuan tahap tinggi siswa dalam mengatasi hambatan, kesulitan maupun ancaman. Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.

f. Pembelajaran dilakukan dengan multi strategi dan multimedia sehingga memberikan pengalaman belajaran beragam bagi perserta didik.

Penerapan PAKEM dalam Implementasi Pembelajaran Dampak positif dari diterapkannya model PAIKEM yaitu siswa dapat terpacu sikap rasa keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkungannya. Sebagaimana empat pilar pendidikan yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to be (belajar untuk menjadi jati dirinya), learning to do (Belajar untuk mengerjakan sesuatu) dan learning to life together (belajar untuk bekerja sama) dapat dilaksanakan melalui pembelajaran dengan pendekatan lingkungan yang dikemas sedemikian rupa oleh guru, agar supaya pembelajaran tersebut dapat terlaksaana sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tarmizi, 2008 (dalam Pusbang Tendik, 2011) mengemukakan bahwa secara garis besar, PAKEM digambarkan sebagai berikut:

1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.

3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’

4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Pada pasal 19 ayat 3 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinyatakan bahwa setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Dengan demikian sebelum melakukan pelaksanaan pembelajaran terlebih dahulu dilakukan perencanaan pembelajaran. Pada Standar Proses (Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007) bagian perencanaan pembelajaran dinyatakan bahwa kegiatan inti pembelajaran merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar (KD), dan kegiatan pembelajaran di-lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan tersebut dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Lebih lanjut pada Standar Proses dinyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Berdasarkan inovasi PAIKEM, maka rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) haruslah berfokus pada siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian siswa, serta konteks kehidupan dan lingkungan. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang mereka pelajari bukan mengetahuinya, oleh karena itu para pendidik telah berjuang dengan segala cara dengan mencoba untuk membuat apa yang dipelajari siswa disekolah agar dapat dipergunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika cara pengajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan , kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan. Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak boleh semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan ide-ide, dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan sendiri ide-ide, dan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri dalam belajar. Guru dapat memberikan kepada siswa tangga yang dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, tetapi harus di upayakan sendiri siswa yang memanjat tangga itu. ”Delapan tipe belajar, yaitu: (1) belajar isyarat, (2) stimulus-respon, (3) rangkaian gerak, (4) rangkaian verbal, (5) membedakan, (6) pembentukan konsep, (7) pembentukan aturan dan (8) pemecahan masalah (problem solving)” Gagne,1985 (dalam Kemendiknas: 2011). Karakteristik PAIKEM Dalam suaraterbaru, (2011) dikemukakan makna yang mendasari model pembelajaran PAIKEM adalah sebagai berikut :

1. Pembelajaran merupakan proses mewujudkan situasi dan kondisi dimana peserta didik dapat dan mampu belajar secara optimal.

2. Aktif mengandung makna bahwa belajar memang sebuah proses aktif dari pembelajar untuk membangun pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya, bukan pasif menerima apa yang diberikan pengajar.

3. Inovatif merupakan pemaknaan atas realitas kehidupan yang dipelajari, sehingga mampu merespon keadaan dengan nilai yang lebih bermakna dan bernilai.

4. Kreatif diharapkan mampu mengembangkan pola pikir kritis yang berakhir dengan kreatifitas untuk memperbaiki kekurangan bahkan sesuatu yang baru dan unik.

5. Efektif merupakan nilai pembelajaran yang berdaya saing dan berdaya guna, sehingga menghasilkan peserta didik yang unggul.

6. Menyenangkan adalah inisasi kesumua konnsep di atas bagaimana harusnya diolah agar peserta didik mampu menyerapnya dengan enjoy dan asik, sehingga pikirannya mudah terfokus saat proses pembelajaran.

Sesuai dengan makna PAIKEM, maka pembelajaran berfokus pada siswa, aktivitas, pengalaman dan kemandirian siswa, serta konteks kehidupan dan lingkungan ini memiliki 4 ciri yaitu: mengalami, komunikasi, interaksi dan refleksi.

a. Mengalami (pengalaman belajar) antara lain:

• Melakukan pengamatan

• Melakukan percobaan

• Melakukan penyelidikan

• Melakukan wawancara

• Siswa belajar banyak melalui berbuat

• Pengalaman langsung mengaktifkan banyak indera.

b. Komunikasi, bentuknya antara lain:

• Mengemukakan pendapat

• Presentasi laporan

• Memajangkan hasil kerja

• Ungkap gagasan

c. Interaksi, bentuknya antara lain:

• Diskusi

• Tanya jawab

• Lempar lagi pertanyaan

• Kesalahan makna berpeluang terkoreksi

• Makna yang terbangun semakin mantap

• Kualitas hasil belajar meningkat

d. Kegiatan Refleksi yaitu memikirkan kembali apa yang diperbuat/dipikirkan.

• Mengapa demikian?

• Apakah hal itu berlaku untuk …?

• Untuk perbaikan gagasan/makna

• Untuk tidak mengulangi kesalahan

• Peluang lahirkan gagasan baru

Implementasi pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya dengan metode mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa. Karakteristik dalam metode PAIKEM dapat ditarik kesimpulan yaitu meliputi :

1. Aktif : Pembelajaran ini memungkinkan peserta didik berinteraksi secara aktif dengan lingkungan, memanipulasi obyek-obyek yang ada di dalamnya, dalam hal ini guru terlibat aktif, baik dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran,

2. Kreatif : Pembelajaran membangun kreatifitas peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan, bahan ajar, dan sesama peserta didik, utamanya dalam menghadapi tantangan atau tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam pembelajaran. Guru dituntut untuk kreatif, yaitu merancang dan melaksanakan PAIKEM,

3. Inovatif : Proses pembelajaran yang dirancang oleh guru dengan menerapkan beberapa metode dan teknik dalam setiap pertemuan. Artinya dalam setiap kali tatap muka guru harus menerapkan beberapa metode sekaligus. Namun dalam penerapannya harus memperhatikan karakteristik kompetensi dasar yang akan dicapainya, sehingga sangat dimungkinkan setiap kali tatap muka guru menerapkan metode pembelajaran yang berbeda,

4. Efektif : Efektifitas pembelajaran akan mendongkrak kualitas hasil belajar peserta didik,

5. Menyenangkan : Pembelajaran akan diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan di dukung lingkungan aman, bahan ajar yang relevan, menjamin bahwa hasil belajar secara emosional lebih positif. Dari karakteristik PAIKEM tersebut, maka guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar, memang berada pada diri siswa, tetapi guru bertanggung jawab dalam memberikan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, perhatian, persepsi, retensi, dan transfer dalam belajar, sebagai bentuk tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.

2.2 Pengertian Prestasi

Belajar Yusuf (2009:162) mengemukakan “belajar merupakan ajtifitas siswa dalam rangka mengembangkan potensi dirinya, baik menyangkut aspek kognitif (intelektual), afektif (sikap, keyakinan, kebiasaaan), konatif (motif, minat, cita-cita), dan psikomotorik (keterampilan), melalui interaksi dengan lingkungan (seperti dirumah dengan orang tua, interaksi dengan guru di sekolah , dsb)”. Ahmadi (2012) mengemukakan prestasi belajar adalah “hasil usaha bekerja atau belajar yang menunjukan ukuran kecakapan yang dicapai dalam bentuk nilai”. Sedangkan prestasi belajar, S. Nasution (dalam anneahira, 2011) mengemukakan “prestasi belajar merupakan kesempurnaan seorang peserta didik dalam berpikir, merasa dan berbuat”. Berdasarkan ketiga pendapat diatas maka penulis mengambil kesimpulan makna belajar adalah suatu aktifitas dimana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Sedangkan prestasi belajar adalah standart test untuk mengukur kecakapan atau pengetahuan bagi seseorang didalam aspek-aspek.

a. Aspek kognitif yaitu aspek yang berkaitan dengan kegiatan berpikir. Aspek ini sangat berkaitan erat dengan tingkat intelegensi (IQ) atau kemampuan berpikir peserta didik. Aspek kognitif selalu menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan formal.

b. Aspek afektif yaitu aspek yang berkaitan dengan nilai dan sikap. Penilaian pada aspek ini dapat terlihat pada kedisiplinan, sikap hormat terhadap guru, kepatuhan dan lain sebagainya. Aspek afektif berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) peserta didik.

c. Aspek psikomotorik yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik yang mempengaruhi sikap mental yang menunjukkan kemampuan atau keterampilan (skill) peserta didik setelah menerima sebuah pengetahuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor internal yang berasal dari diri sendiri seperti fisik yang sehat, memiliki motivasi atau minat yag kuat untuk belajar, kebiasaan belajar yang baik, sikap yang positif terhadap materi pelajaran, kecerdasan, dan tidak mudah prustasi dalam menghadapi kegagalan. Sementara faktor eksternal yang mendukung keberhasilan belajar diantaranya adalah lingkungan keluarga yang harmonis, fasilitas belajar yang memadai, iklim kehidupan sekolah yang kondusif. (Yusuf, 2009 : 163) Faktor internal dan eksternal adalah dua hal yang sangat menunjang keberhasilan siswa dalam belajar. Jadi untuk menghasilkan peserta didik yang berprestasi, seorang pendidik haruslah mampu mensinergikan kedua faktor di atas. Faktor-faktor Internal yang berasal dari individu anak itu sendiri yang berupa jasmaniah dan psikolgis mempunyai peran yang sangat vital dalam pembelajaran apalagi jika didukung oleh faktor eksternal yang diantaranya adalah kurikulum sekolah dengan metode PAIKEM. Apabila ke dua faktor ini saling mendukung dan saling berinteraksi maka akan membuahkan hasil belajar yag optimal. Karakteristik Belajar Belajar adalah suatu proses perubahan ke arah yang positif seperti diungkapkan Soepartinah (1981, yang dikutif dari Suryaman) “ beberapa sifat proses belajar yaitu belajar merupakan suatu interaksi antar anak dan lingkungan dari lingkungannya, belajar Berarti Berbuat, belajar berarti mengalami, belajar adalah suatu aktivitas yang bertujuan, belajar memerlukan motivasi, belajar memerlukan kesiapan, belajar bersifat integratif”. Setiap individu mempunyai keunikan masing-masing dalam dirinya, dalam belajar seharusnya anak memilih apa yang ia butuhkan dan apa yang dapat ia pergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangannya, karna belajar pada hakikatnya berarti adalah suatau kegiatan, dengan bermain, berbuat, bekarja dengan alat-alat, banyak hal menjadi jelas. Dengan berbuat, anak menghayati sesuatu dengan seluruh indra dan jiwanya. Dengan mengalami berulang-ulang, perbuatan menjadi semakin efekif, teknik menjadi makin lancar, konsep makin lama makin terang dan generalisasi makin mudah disimpulkan. Dorongan ini membawa anak ke tingkat perkembangan yang dibutuhkan untuk memahami lingkungannya agar anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan itu. Dalam pemenuhan kebutuhan, individu memerlukan motivasi, banyak jenis kebutuhan antara lain kebutuhan untuk memperbaiki prestasi, kebutuhan untuk mendapat kepuasan atas hasil belajar. Diperlukan kesiapan dalam belajar diantaranya adalah keadaan rohaniah (emosional, intelektual, dan sosial) dalam keadaan ini, anak merasa siap dan sanggup untuk menerima tugas perkembangan atau pelajaran baru. Sejak dilahirkan, anak merupakan suatu totalitas dalam perkembangannya. Secara total ia mengadakan interaksi dengan lingkungannya dan segala sesuatu yang mempengaruhinya secara total, demikian juga halnya dengan hasli-hasil belajarnya. Hasil belajar akan disatukan dengan yang sudah ada sehingga menjadi bagian yang organis dari kepribadiannya. Sedangkan Anneahira (2012) mengungkapkan “Indikator prestasi belajar peserta didik dapat kita lihat berdasarkan beberapa hal yaitu: berubahnya kompetensi kognitif anak didik, berubahnya kompetensi afektif anak didik, berubahnya kompetensi psikomotor anak didik”. Aspek kognitif adalah terkait dengan pengetahuan mengenai beberapa konsep terkait dengan kebutuhan hidup. Indikasi keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran dapat dilihat dari peningkatan kompetensi kognitif ini. Semakin bagus peningkatannya, berarti semakin berhasil proses pendidikan dan pembelajarannya. Aspek afektif adalah aspek yang terkait dengan nilai sikap yang ada di dalam diri anak didik. Kompetensi afektif ini merupakan indikator keberhasilan bagi proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan memperhatikan tingkat perubahan yang terjadi pada kompetensi afektif ini, maka kita mengatuhi tingkat keberhasilan proses. Aspek psikomotor adalah aspek yang terkait dengan kompetensi keterampilan anak didik. Bagaimana tingkat perubahan anak didik setelah mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran menunjukkan pada kita tingkat keberhasilannya. Aspek psikomotor sangat penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran sebab aspek ini merupakan salah satu indikator prestasi belajar anak didik. Semakin bagus tingkat perubahan keterampilan anak didik, berarti semakin berhasil proses pendidikan dan pembelajaran yang diikutinya. 2.3 Kajian Empirik Penelitian Sebelumnya

Mahmudi (2011) pernah melakukan penelitian di Tanduk Ampel Kabupaten Boyolali dengan metode PAIKEM dan mengemukakan hasil dari penelitian tersebut adalah:

(1) Aktivitas guru IPA tematik model PAIKEM di kelas 3 MIN Tanduk Ampel Kabupaten Boyolali, dengan memilih tema, analisis KD dan indikator, dari semua mata pelajaran berdasarkan tema, menyusun silabus, RPP, dan penilaian. Kemudian melaksanakan pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yang bervariasi. Kegiatan inti pembelajaran guru menyajikan materi pembelajaran dengan bahasa serta intonasi yang tepat, memberikan petunjuk dan perintah dengan jelas, dan menggunakan metode yang bervariasi. (2) Setting ruang belajar. Pengatutan tempat duduk akan berpengaruh secara psikologi siswa dalam belajar sehingga memberikan suasana baru yang akan meningkatkan motivasi belajar. Komunikasi terbuka antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa yang lain sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan, efektif, kreatif, inovatif, dan aktif.

(3) Media pembelajaran sangat penting, untuk mambantu siswa dalam memahami amteri pembelajaran dan mengurangi kejenuhan Model pembelajaran PAIKEM sudah berhasil diterapkan di negara maju. Di Indonesia PAIKEM pertama kali dikenalkan pemerintah melalui para ahli pendidikan dikarenakan kesadaran bahwa semua kebijakan peningkatan mutu akan tersimpul pada suatu titik peristiwa yaitu proses pembelajaran. Pada pasal 19 ayat 3 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinyatakan bahwa setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Dengan demikian sebelum melakukan pelaksanaan pembelajaran terlebih dahulu dilakukan perencanaan pembelajaran. Pada Standar Proses (Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007) bagian perencanaan pembelajaran dinyatakan bahwa kegiatan inti pembelajaran merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar (KD), dan kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan tersebut dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Implementasi dari PP tersebut adalah diadakannya pelatihan-pelatihan untuk Metode pembelajaran PAIKEM meski dalam pelaksanaanya sebagian guru belum memahami sehingga inovasi dianggap begitu sulit.

2.4 Kerangka pemikiran

Guru memainkan peran penting dalam transformasi budaya melalui sistem persekolahan, khususnya dalam menata interaksi peserta didik dengan sumber belajar untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Untuk itu diperlukan guru yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang memadai, mutu kepribadian yang mantap, serta menghayati profesinya sebagai guru. Profesi keguruan merupakan kegiatan yang membutuhkan berbagai kemampuan, termasuk kemampuan berinovasi. Sampai saat ini cara pembelajaran konvensional masih banyak dilakukan oleh guru dalam pembelajan dengan guru menjadi fokus sentral, padahal masing-masing guru mempunyai kemampuan yang berbeda-beda sehingga menghasilkan hasil pembelajaran yang berbeda pula. Dalam PAIKEM, siswa akan di libatkan secara aktif yang dikolaborasikan dengan hakikat manusia yang mempunyai perbedaan individu. Karena masing-masing individu mempunyai perbedaan, Perbedaan itu dapat dilihat dari dua segi, yakni horizontal dan vertical. Perbedaan segi horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kesadaran, bakat, minat, ingatan dsb, Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti: bentuk, tinggi dan besarnya badan, tenaga, dan sebagainya. Masing-masing aspek individu tersebut besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar. Peran guru dalam pembelajaran di harapkan dapat meningkatkan prestasi siswa sesuai dengan bakat dan minat yang mencakup tiga hal, yaitu mengembangkan pertumbuhan sosial, pertumbuhan emosional, dan pertumbuhan perolehan pengetahuan bagi para peserta didik. Metode PAIKEM telah berhasil sukses di beberapa negara, dan karena kesuksesan tersebut, maka ahli-ahli pendidikan negara kita menyampaikan gagasan akan pentingnya metode paikem yang bertujuan agar generasi muda siap dengan tantangan era global. Idea PAIKEM kemudian di sampaikan sampai ke tingkat sekolah-sekolah, sebagian sekolah sudah mengaplikasikan metode PAIKEM dan berdasarkan hasil beberapa peneliti sebelumnya membuktikan bahwa metode PAIKEM memberikan kontribusi positif untuk meningkatkan prestasi belajar, untuk itu maka peneliti bermaksud meneliti dengan studi kasus pembelajaran IPS dengan metode PAIKEM di MTs Negeri Ciamis terhadap prestasi belajar siswa.

2.5 Hipotesis

Berdasarkan kajian kerangka berfikir diatas maka penulis menyampaikan hipotesis bahwa metode PAIKEM dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di MTs Negeri Ciamis (studi kasus pelajaran IPS).

Daftar Pustaka

Psikologi, Belajar. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar. http://belajarpsikologi.com/faktor-yang-mempengaruhi-prestasi-belajar/.html (diakses tanggal 19 Maret 2012)

Pusbang Tendik. PAIKEM. Jakarta : Badan PSDMP dan PMP-Kemdiknas, 2011 (disampaikan dalam pelatihan) Aisyah. Pengertian Pakem.http://mujahidahtangguh.wordpress.com/2010/02/09/pengertian-paikem/html. (diakses 20 Maret 2012)

Suaraterbaru. Model Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan Paikem. http://suaraterbaru.com/model-pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-dan-menyenangkan-paikem/pendidikan/html. (diakses 20 Maret 2012)

Yusuf, Syamsu . Program Bimbingan Konseling di Sekolah . Bandun g: Rizqi Press, 2009 Furkon, Profesor. Pendidikan dalam perspektif bimbingan konseling. Bandung : UPI PRESS, 2011

Anneahira. Pengertian Prestasi Belajar Menurut Para Ahli. http://www.anneahira.com/pengertian-prestasi-belajar-menurut-para-ahli.htm. (diakses 21 Maret 2012)

Ahmadi, Abu. Pengertian Prestasi Belajar. http://belajarpsikologi.com/pengertian-prestasi-belajar/html. (diakses 26 Maret 2012)

Mamudi, Pengelolaan Pembelajaran IPA Tematik Model PAIKEM di Madrasah Ibtida’iah Negeri Tanjuk Ampel Kabupaten Boyolali. http://etd.eprints.ums.ac.id/12954/1/halmuk.pdf, 2011. (diakses 23 Maret 2012)

Suryaman, Bambam, Makalah Psikologi Belajar. http://www.kosmaext2010.com/makalah-psikologi-belajar-karakteristik-perubahan-hasil-belajar.php. (diakses 27 Maret 2012)

Anneahira. Indikator Prestasi Belajar. http://www.anneahira.com/indikator-prestasi-belajar.htm. (diakses 28 Maret 2012)